Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 13


__ADS_3

Besok adalah jadwal balik ke Padang. Meski liburan hanya dua minggu, namun terasa seperti dua tahun.


Tidak ada kegiatan, malas keluar.


Seperti kebiasaan dengan sahabatku Dirga, menjelang berangkat baru pergi main bareng.


Kali ini kumemilih nonton biskop bertiga dengan Dirga dan Hendri.


Selagi memilih film yang menarik, malah ketemu dengan Tika bersama pacarnya yang baru lagi.


Kali ini pacarnya adalah teman sejurusan dan namanya pun sama denganku.


“Hay Ry,” sapa Tika. Aneh, kali ini benar-benar tak ada rasa marah atau cemburu melihat dia dengan pacarnya yang baru lagi. Dan, kali ini malah ada rasa syukur telah berakhir dengannya.


Meski dia sudah berganti pacar entah berapa kali sejak kami putus, aku masih dengan rasa tak berubah dengan gadis yang sama. Gadis yang mengisi hatiku semenjak putus dengan Tika.


“Hay Tika, hai Bro!” sengaja tos dengan playboy cap gulung itu. Kali ini menurutku mereka pasangan yang serasi.


Sapa tahu mereka benar jodoh, berlabuh setelah sama-sama sering bergonta ganti pasangan.


“Tumben wajah kamu lebih segar tenang dan saat ketemu denganku Ry?”


“Oh yah?” jawabku santai tanpa beban. “Ya udah, gue ke sana dulu.” Kami berlalu meninggalkannya tanpa rasa sakit sedikitpun.


Dirga merangkulkan tangannya ke pundakku tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Aaah, menyesal menonton dengan mereka berdua. Walau mereka anak jalanan, ternyata selera rumahan?


Kudiapit oleh mereka yang tengah mewek menonton film yang diputar. Film yang dipilih genre romantic. Malu gue sebagai lelaki melihat mereka.


Lagi pula ngapain juga mereka memilih nonton ini? Sementara penonton yang lain adalah para pasangan kasmaran tengah dimabuk cinta.


Jelas kami bertiga para jomblo ngenes, mereka malah maksa menonton film kayak gitu. Malah tambah ngenes kan, nah loh?


“Gue ikut bahagia akhirnya mereka bersama meski mereka beda kasta,” ujar Hendri pada Dirga setelah film usai.


“Iya, kenapa cinta begitu indah? Kapan kita bisa memiliki cinta sejati itu?” celetuk Dirga.


“AAAh!! Paarah!” kudahului mereka karena tidak tahan mendengar obrolan hello kitty tersebut.


Sampai koridor depan, ternyata orang yang selama ini dihindari berdiri tepat di depanku. Oh, iya.. tadi.. pasti Tika yang bilang.


“Kenapa kamu selalu saja menghindar Ry?”


“Enggak ah, perasaan lu aja kali?”


“Apa salah ku, kenapa kamu seperti sangat membenciku?”

__ADS_1


“Enggak ah, biasa aja.”


“Terus kenapa kamu begini?”


Kudekati dia, tepat di depan kupingnya ku katakan, “Agar lu bisa mencari yang lain!” tiba-tiba dia memelukku.


Sontak kaget, berusaha melepas pelukan itu. Karena ini adalah sesuatu yang memalukan di depan umum.


Dia menangis terisak, terus menahanku, tiba-tiba merasa tak tega. Tak tega padanya yang telah menjatuhkan harga diri, kubiarkan dia terus terisak memelukku.


Membiarkan orang lalu lalang di antara kami yang tak sedikit melirik dengan tatapan jijik.


"Keseringan nonton drakor ya baang.. Sampai peluk-pelukan di tengah ramai gini..." sindir orang yang kebetulan di sana juga.


“Mengapa tak ada celah sedikitpun untukku Ry?” sekarang kondisinya sudah cukup tenang.


Dirga dan Hendri sengaja kusuruh pulang duluan. Saat ini kami duduk di sebuah taman yang tak jauh dari bioskop tadi.


Dia terus memandangku, kali ini berbeda dari biasanya, wajahnya benar-benar sendu.


“Jika aku mengatakan tak akan menyerah sampai kapan pun, apa yang akan kau lakukan?”


“Apa yang membuat lu menyukai gue Pon?”


“Hmm, apa ya? Sepertinya semuanya..”


Terenyum sendu dan mengangguk, “Ya, semua tentangmu aku suka.”


“Gue terlalu jahat untuk lu Pon.”


“Ya, aku tahu. Tapi aku tahu sebenarnya kamu tidak jahat. Kamu adalah lelaki sejati yang kutemui.”


Sembari mengeluarkan sekotak rokok.


“Kamu mau tahu? Aku sudah mulai merokok sejak SMP.” Mengangkat rok agak sedikit tinggi.


“Hey! Apa yang lu lakuin?” kubuang pandangan ke arah yang lain? Bagaimana pun juga aku adalah lelaki. Aku tak mau dia terus menguji imanku seperti ini.


“Ini adalah bekas perlakuan ibukuku semasa kecil.” Kembali kulirik ke arah pahanya. Terdapat bekas besar yang sudah menghitam.


“Ini adalah bekas setrika panas yang ditempelkan ibu gara-gara kesal padaku. Kata ibu, aku mirip sekali dengan ayahku yang telah meninggalkannya setelah menghamilinya. Ibu sangat membenciku.” Kembali menutup bekas dan merapikan kembali roknya.


“Sewaktu SMP aku kabur dari rumah dan aku ditampung oleh seorang teman yang kehidupannya juga pahit sepertiku.”


“Banyak yang kupelajari darinya. Dan anehnya aku cepat sekali belajar dan mempraktikkan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan, meneruskan hidup dan pindah dari sekolahku yang dulu. Kami berdua tetap melanjutkan sekolah seperti anak yang lain tanpa tahu bagaimana kehidupanku di baliknya.”


“Sudah Pon, gue nggak minta lu cerita semua kehidupan pribadi lu. Itu adalah urusan lu Pon.”

__ADS_1


“Dengarkan dulu Ry! Aku ingin kamu tahu alasanku yang saat ini tak mampu berpaling darimu.” Kudiam dan kembali menyimak.


“Bagiku mendapatkan perhatian dari laki-laki itu sangat mudah. Karena memang sudah terlatih sejak remaja, aku pernah menjadi kekasih gelap para pejabat di kota ini. "


"Melanglang ke sana ke sini untuk mendapatkan uang, dan saat ini memiliki profesi sebagai model karena aku berhasil menggaet staf agensi model yang terkenal seantero negeri ini."


"Aku sadar dan aku mengerti aku lah yang tak pantas untukmu Ry. Aku hanya wanita hina, sedangkan kamu lelaki baik, lelaki sejati yang kukenal dari yang pernah ada."


"Dari semua yang kumiliki ini, tak pernah membuatmu sedikitpun melirikku. Aku mengerti, sikap dinginmu itu sebagai perisai agar aku menjauh darimu."


"Tapi jujur, karena sikapmu itu membuatku semakin ingin menjadikanmu orang yang memiliku selama-lamanya."


"Semua kebiasaan buruk, mengejar laki-laki tajir untuk memenuhi kebutuhan sudah mulai kutinggalkan.”


Mengeluarkan satu per satu isi rokok, menjatuhkan dan diinjaknya hingga berkeping.


“Ini sudah cukup lama di dalam tas. Tapi sudah lama tak kusentuh.” Masih membuang isi rokok tersebut dan dilempar ke tong sampah yang ada di dekat kami.


“Aku tahu, aku ini memang sama sekali tak pantas untukmu. Karena aku tahu, lelaki yang baik sepertimu pasti tercipta untuk perempuan yang baik."


"Tapi, egoku terus memaksa diri ini membuang harga diri agar bisa memilikimu untuk selamanya. Sudah bermacam rencana busuk untuk menjebakmu, tapi kamu selalu duluan memilih untuk meninggalkan aku di sini."


"Aku sadar hatimu sudah memiliki pilihan yang tak berhak aku ketahui siapa. Karena bila aku tahu, pasti aku bisa berbuat nekat padanya... heh.. aku sangat menyedihkan bukan."


"Menceritakan semua aib yang tak diketahui semua orang padamu, orang yang jelas menolakku mentah-mentah.”


“Sekarang hubungan lu dengan nyokap bagaimana? Sudah pernah ketemu dengan bokap?” tanyaku, yang sedikit merasa iba padanya.


“Entah lah, masih hidup atau sudah mati... aku tak tahu dan tak mau tahu!”


“Lebih baik, cari tahulah tentang mereka, siapa bokap lu dan bahagiakan mereka! Tobat lah jika lu benar-benar ingin kembali, bukan karena orang lain."


"Memang ini bukan urusan gue, tapi gue tulus berharap lu benar mendapatkan laki-laki terbaik.”


“Bagiku, kamu yang terbaik untukku Hary! Izinkanlah aku untuk berusaha, hingga aku benar-benar ada di hatimu Ry!?”


“Tapi...” belum usai aku bicara tiba-tiba bibirnya sudah melekat di bibirku. Langsung bangkit.


“Lu..? gue pikir lu bener-bener tobat?”


Kutinggalkan dia, sumpah, bukannya seneng dapat sebuah ciuman, tapi sangat dongkol dan marah.


Tak pernah mencium siapa pun, dan berfantasi ciuman pertamaku adalah... ah..tidak...! Sial, Vonny mengalihkan pikiran dan membuatku benar-benar lengah.


Tadi sudah terbawa suasana, ternyata dia memainkan umpan di sisi lemahku.


Maafkan aku Yukita, tapi hatiku tak akan goyah gara-gara kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2