
hehehe.. sekali lagi otor minta maaf, tadi udah tik ngetik bab yang ini, baru 100-an kata, otornya udah ketiduran aja... ðŸ¤ðŸ¤
********************************************
Anggit mulai bisa mengendalikan keadaan dan kembali menghajar makhluk-makhluk yang tidak mau melepaskan helm nya itu. Mereka semuanya akhirnya tumbang, Kupaksa melepaskan helm mereka.
Kutarik baju salah satu dari mereka yang masih tepar, lalu aku suruh berdiri dengan kaki tertekuk. "Siapa kalian?"
"Ampun Bang.. kami hanya disuruh seseorang..." jawabnya ketakutan. Sementara bibir di wajah Anggi menyunggingkan senyuman miring seperti telah menebak siapa orang yang mereka katakan. Kembali kucari kacamata tadi, dan langsung memasangnya. Untung saja tadi tidak terjatuh gara-gara kesandung. Biasanya sih begitu, agak mengkhawatirkan bila tidak menggunakannya.
"Katakan pada orang yang menyuruh kalian, kalau berani hadapi gue satu-lawan-satu..Bukan keroyokan kayak gini! Setelah ini, kalian jangan pernah muncul lagi di hadapan gue..!"
"Baik Bang..Baik.."
Lalu kubiarkan mereka kabur, silahkan mau melapor kepada pimpinan mereka, bagiku itu bukan sebuah masalah. Yang penting, mereka merema sudah tahu bahwa aku bukan orang yang gampang ditindas.
"Wooi, Ang, lu ngga apa?"
"Aman..."
"Ya udah, kita cabut dulu..." setelah itu kami berpisah karena aku harus kembali ke kostan untuk membersihkan diri. Habis ini aku mau melihat keadaan Yukita. Sementara Anggi katanya harus melanjutkan perjalanan ke rumah yang katanya masih cukup jauh.
Setelah semua persiapanku selesai, akhirnya dengan langkah yang cukup ringan, aku bawa peralatan seadanya untuk menemui Yukita. Baru beberapa jam saja, hati ini telah merindu tanpa kehadirannya.
Aku lajukan motor yang sekarang menjadi motor kesayangan. Ini hanya motor matic biasa, bekas dipakai orang setelah tiga tahun dipakai. Jadi lumayan lah, tidak terlalu jelek. Motor ini yang bisa membawaku keliling kota ini bersama Yukita. Menjadi benda favorit setelah handphone.
Tampak toko buah di perempatan jalan ini, sedikit lagi sampai di rumah gadis kecil yang terperangkap dalam tubuh dua puluh tahun. Kuhentikan motor ini sejenak, memilah-milah dalam ingatan buah yang paling disukainya. Cukup sederhana memang, dia sangat menyukai buah pisang. Katanya buah itu murah dan lezat. Lalu aku beli dengan beberapa jenis buah yang lain. Semoga bisa menemani hari-hari nya dan segera pulih.
__ADS_1
Nah, tampak sebuah minimarket. Aku singgahi juga. Aku ingat dia sangat menyukai coklat. Entah kenapa wanita itu identik dengan makana mania berwarna gelap itu ya? Lalu belikan apa lagi ya? Susu.. iya susu biar dia punya tambahan energi, bisa segera pulih tentunya.
Sampai di motor aku tertegun, tidak ada lagi tempat untuk menggantung benda-benda yang akan aku berikan pada gadis itu. Tiba-tiba merasa lucu sendiri, aku sudah seperti suami yang pulang kerja membelikan sesuatu untuk istri di rumah. Bukan..bukan suami.. sekarang mungkin malah kayak sang ayah pada anaknya..
Akhirnya aku masukkan sisa-sisa yang tidak bisa digantungkan ke dalam bagasi motor di bawah jok. Kembali kulajukan motor menuju rumah Yukita. Tidak sampai sepuluh menit sudah berada tepat di depan rumahnya yang sederhana namun asri ini. Di depan rumahnya ada sebatang pohon mangga, tengah berbuah dengan lebat. Mungkin tidak lama lagi mereka mulai matang, dan sudah bisa dikonsumsi.
Aku ketuk pintu rumah ini, dan mengucapkan salam. Rumah Yukita ternyata tengah ramai dikunjungi oleh tetangganya. Mungkin karena ingin melihat kondisi Yukita, sama sepertiku. Orang-orang yang melihat kedatangan ku tengah berbisik menanyakan siapa ini pemuda tampan..ekhem.. yang datang dengan banyak bawaan untuk anak gadis di rumah ini.. Itu yang kutangkap dari bisikkan sesama ibu-ibu itu.
krik...krik..krik..
Aku malah jadi bingung dilibatkan dalam situasi ini. Aku merasa momen mendatanginya saat ini, bukan di waktu yang tepat. Balik lagi nggak ya?
Akhirnya ibu Yukita muncul dari arah dapur. "Wah, Nak Akel.. Maaf ya.. tadi ibu lagi menyiapkan minuman buat ibu-ibu ini.. Tidak tahu ada Nak Akel datang ke sini..."
"Iya, tidak apa-apa Bu," sambil melirik ke segala arah. Aku belum melihat dan mendengar suara gadis itu. Biasanya dia selalu berkicau. Ada-ada saja yang akan dibicarakannya. Sampai aku sendiri bingung untuk meladeni celotehan nya.
Kembali aku melirik ibu-ibu yang tengah kepo ini mencari jawaban atas pertanyaan yang mereka gibahkan tadi.
"Iya Bu. Aku belum melihat Yukita, Yukitanya ada Bu?"
"Nak, nama kamu siapa? Teman kuliah Yuki ya?" sela salah satu ibu-ibu yang dari tadi ikut berbisik. Akhirnya ada juga yang berani menanyakan langsung padaku.
"Iya Bu.. Saya teman kuliah Yukita.." hanya bisa memberikan senyuman kikuk pada wajah ibu-ibu yang penasaran ini. Lalu dengan serempak mengangguk dan berkata "Ooo..."
"Kamu tinggal dimana?" tanya ibu yang lain.
"Aku ngekost Bu, arah ke kampus..." setahuku area tempat aku ngekost, orang-orang lokal menyebutnya dengan istilah kampus. Kembali mulut ibu-ibu itu membulat berkata "Oooo..." lagi.
__ADS_1
"Kampung kamu dimana?" tanya ibu yang lain.
"Saya bukan orang sini Bu. Saya dari Bandung.." kembali ibu-ibu itu mengangguk. Entah situasi macam apa ini ya? Seperti tengah diinterogasi oleh mereka.
"Ibu-ibu, Nak Akel ini teman dekatnya Yuki..." jawab ibunya Yukita. Aku seperti tengah diberi label, dengan artian jangan berharap banyak padaku. Karena aku adalah pacar anaknya. Sepertinya ibu Yukita mencoba memperingati mereka, agar tidak berharap lebih padaku.
Aku di sini masih dalam keadaan canggung menunggu Yukita. Kata ibunya, Yukita sedang dibawa ke tukang pijet, agar kakinya bisa kuat lagi jika dibawa berjalan. Sampai di saat ibu-ibu tadi pulang, Yukita belum juga datang. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kostan.
"Apa tidak ditunggu sebentar lagi saja? Mungkin sebentar lagi mereka pulang.." ucap ibunya saat aku pamit.
"Tidak apa Bu, besok saja aku kembali kalau tidak ada kegiatan." Akhirnya Ibunya melepas ku pulang, dan dengan langkah sedikit kecewa aku tuju ke tempat motor yang kuparkirkan. Saat menyalakan motor, Yukita dan ayahnya akhirnya kembali. Perasaan ku kembali menjadi lega, akhirnya bisa bertemu dengannya.
"Aa'..." pekiknya dengan wajah sumringah. "Aa'..
sini...." panggilnya tanpa rasa malu dan beban.
Akhirnya aku putuskan menunda waktuku pulang. Segera aku bantu gadis yang kembali lugu seperti anak kecil itu untuk turun dari motor. Sekarang dia sudah memiliki tongkat untuk membantunya berjalan. Setelah turun, dia langsung meminta tongkat itu untuk langsung digunakannya. Dia berjalan dan memamerkan kepandaiannya berjalan menggunakan benda itu.
"Gadis pintar, udah bisa jalan sendiri..." ucapku dan disambut dengan cengiran senangnya mendapatkan sebuah pujian. Maklum lah.. anak kecil..
"Aa'.. kok lama kali ke sini ya? Yuki udah nunggu sejak tadi, akhirnya Yuki dibawa pijit sama ayah..."
"Iya, maaf ya.. Aa kuliahnya sampai sore. Jadi baru bisa hadir sekarang..."
Wajah polos itu mengangguk, "Aa malam ini bobok sini? Temani Yuki lagi kayak tadi malam?"
Ayah Ibunya seketika melirikku dengan tajam
__ADS_1
......