Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 30 Seandainya (PoV Akel/Harry)


__ADS_3

Hari ini terakhir ospek. Yang kami mahsiswa tua belum mulai perkuliahan. Aku selalu memperhatikannya dari jauh. Ternyata dapat kabar dia menjadi senior paling banyak dapat surat cinta dari junior. Awas aja junior itu jika benar-benar menaruh hati pada juwitaku, aku cekek mereka satu-satu.


Perkuliahan pertama, kali ini aku tidak bisa ikut bersama mereka. Karena mengambil mata kuliah lain, terpaksa yang satu itu aku memilih gabung dengan yang lain. Usai kuliah, aku menuju perpustakaan, mencari referensi tugas yang diberi dosen tadi cukup sulit. Tidak bisa hanya sekedar browsing. Dosennya minta bukti bahan temuan, jadi benar-benar rinci mencari bukunya.


Sedang mencari buku, aku merasa ada yang terus memerhatikan ku. Aku tengok, ternyata Yukita ada di sini juga. Mengapa takdir ini seolah terus memaksa kami untuk berjumpa?


Apakah benar, aku ditakdirkan padanya? Dia mendekat, dan kucoba menghindar. Dari rak yang tak terlihat olehnya, aku perhatikan dia bicara dengan orang tadi yang sama-sama mencari buku. Apakah dia memastikan itu aku atau bukan? Apakah benar dia juga merindukanku?


Mengapa dia tidak pernah sama sekali mencoba menghubungiku? Kulihat dia merenung duduk di meja baca. Ternyata kebiasaannya itu masih belum juga berubah. Mili datang, entah apa yang mereka obrolkan, lalu berpelukan. Yukita menangis? Ada apa? Kenapa dia menangis lagi di hadapanku?


Kulihat dia mengotak-atik hapenya. Menelepon, dan hapeku bergetar. Di layar tertulis “Ayank” dia meneleponku..meneleponku.. seketika jantungku berdegup dengan kencang, aku angkat dan sengaja ingin mendengar suaranya terlebih dulu.


“Halo.. Akel? Eh, Harry?”


“Kenapa bingung begitu dengan namaku?” Yukita langsung melirik kiri-kanan sekeliling ruang pustaka..


“Kamu lagi dimana Ry?”


“Aku di sini. Di hatimu.” Terlihat dia tersenyum.


“Kamu bisa aja.”


“Kenapa baru sekarang meneleponku setelah sekian lama?”


“Aku.. Aku..” terlihat raut wajahnya bingung.


“Aku sangat merindunganmu Yukita.”


Terlihat dia tersenyum malu, Mili tersenyum melihat tingkahnya “Aku juga merindukanmu.” Bisiknya menutup mulut biar tidak terdengar Mili.


“Apa?” sengaja pura-pura tidak terdengar.


“Hmm, kamu inii...” dia merajuk.


“Tidak kedengeran...”


“Aku juga sangat merindukanmu!” dia mengucapkan dengan cukup lantang sehingga orang di sekitarnya memperhatikannya.


Sepertinya dia malu, lalu dia menyembunyikan muka berlari kecil menuju arah luar. Kuikuti langkahnya, tampak Mili terkejut melihatku. Aku beri kode “cukup aku saja yang menemuinya.”

__ADS_1


“Kamu dimana Ry? Kenapa lama sekali di sana?”


“Emang kenapa?”


“Aku rindu padamu Harry..”


“Tapi kenapa sama sekali kamu tidak pernah menghubungiku?”


“Karena aku sangat malu, malu padamu. Kamu sudah mengetahui semua yang terjadi padaku. Malu ketahuan telah membohongimu, Aku merasa tidak pan...”


Langsung kupotong, “Yukita, bagaimanapun aku selalu mencintaimu. Aku ini terlahir untuk ada di sampingmu,” entah kenapa ucapan itu begitu lancar kuucapkan.


“Tetapi mengapa? Mengapa kamu tidak juga kembali?”


“Jika aku kembali saat ini juga, apa yang akan kamu lakukan?”


“Yang pasti aku sangat bahagia jika kamu hadir saat ini juga.”


“Sebahagia apa?”


“Seperti apa ya? Susah diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas aku jadi wanita paling bahagia untuk hari ini.”


“Kenapa hanya untuk hari ini? semetara, jika bersamamu aku selalu merasa akan bahagia untuk selamanya.” terlihat bahasa tubuhnya, memancarkan aura kebahagiaan. “Yukita...”


“Lihatlah aku, tepat berada di belakangmu.” Seketika dia membalikkan badan. Melonjak girang, persis seperti anak kecil yang akan diberi permen.


Dia berjalan tepat di depan mataku, menuju tempatku berdiri. Tak kusangka, semuanya lebih indah dari perkiraanku. Saat ini dia berdiri tepat di hadapanku, dengan senyuman indah yang membuatku jatuh hati berkali-kali padanya. Kuraih jemarinya, kugenggam, kali ini semua yang ada padanya adalah milikku.


Degup jantung semakin kencang, “Ini tidak akan pernah kulepas lagi,” dia pun tersenyum dan terasa genggamannya makin erat. “Kita ke sana yuk?”


“Kemana?”


“Belakang rektorat?”


“Tunggu, aku chat Mili dulu.” Lalu dia mengetik pesan dan kutunggu. Setelah selesai, dengan manja dia menarikku menuju tempat yang kami bicarakan.


***


Kami duduk di belakang gedung rektorat. Dari sini pemandangan tampak sangat indah. Pemandangan Kota Padang dari ketinggian, dan di ujung penglihatan mata tampak birunya laut Samudra Hindia. Saat ini, orang yang kucinta duduk di sampingku. Tak banyak yang dikatakannya, tapi yang aku tahu saat ini kami sama-sama sangat bahagia.

__ADS_1


Merasakan kembali indahnya kasmaran oleh orang yang sama. Tak pernah kuduga, ternyata dia semanja ini. ini membuatku semakin yakin untuk terus menjaganya.


“Kenapa diam saja?” tanyaku.


“Kenapa ya? Semua yang kuungkapkan sudah ada di sini bersamaku.”


Kuacak rambutnya dengan lembut, dia manyun merapihkan kembali rambutnya. Lalu kembali dia duduk dengan tenang.


“Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di otakku Ry.”


“Apa itu?”


“Tetapi sekarang semua sudah terjawab. Cukup kamu ada di sini, semua pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya. Aku tak menyangka ternyata kamu begini baik padaku Harry.”


“Emangnya apa yang kamu pikirkan, ceritakanlah?”


“Dulu kamu selalu jutek dan marah-marah padaku. Tapi aku sudah mengerti kenapa itu terjadi. Karena saat itu kamu sangat membenci aku kan? Apalagi cincin yang kamu berikan tidak pernah aku pakai. Kamu pasti berpikir aku telah membuangnya.."


"Emangnya kemana cincin itu? Saat itu, aku hanya berpikir kamu mempermainkan ku... Bahkan cincin yang kuberikan tidak pernah kamu pakai..."


"Aku selalu menggunakan nya kemana-mana kok Ry, tapi.. hilang saat ospek dulu dipaksa lepas aksesoris. Kamu tak tahu, betapa sedihnya aku kala itu.. Aku merasa itu adalah kenangan dari kamu yang terakhir kumiliki.. tapi malah hilang..." ☹️


"Ooh... ternyata begitu.. Aku pikir kamu tidak serius denganku..." belum selesai kulepaskan segala uneg yang selalu menggelayut dalam tanya, telunjuknya sudah berada di bibirku.


“Itu tak akan pernah.. Aku selalu memikirkan nama Harry, meski kala itu aku berpikir itu tidak mungkin.. Ternyata ada cowok super jutek yang selalu memerhatikan ku.. dan itu adalah Harry.. itu kamu... Bodohnya aku yang sama sekali tak menyadari itu.”


“Masak?” dia mengangguk, dan tersenyum. Hari ini aku kenyang mendapatkan senyuman manisnya begitu berlimpah.


“Bolehkah aku memanggilmu sayang?” Wajahnya memerah, lalu menutupnya dengan kedua tangannya. Dia hanya mengangguk, aduh, lucu sekali ekspresinya ketika malu.


“Iiih.. malu-malu meong ih?” kembali ku goda, lalu aku dicubitnya. “Aau sakit!”


Lalu kami duduk diam dalam posisi masing-masing, merasakan kebahagiaan yang dulu diimpikan sekian lama. Seandainya sejak dulu kukatakan, mengabaikan sikapnya yang dulu, mungkin semua tidak akan serumit ini.


“Bukankah itu Yukita dan Akel?” lalu kami menoleh ke sumber suara, ternyata ada Chika, dan rombongan kawan sekelas.


“Tuh kan? Kalian pacaran?” celetuk Chika.


“Kalau kami emang pacaran, kenapa?” Yukita menggoyangkan lenganku. Dia hanya menggeleng, artinya jangan dilawan.

__ADS_1


“Yaa, ngga apa sih? Hanya saja Yukita dulu selalu menghindar, dan tidak pernah mengaku.” Tampak dari rombongan itu seorang laki-laki dengan muka merah padam. Ooh, Anggi. Sekarang dia tidak dekat lagi dengan Yukita?


Syukurlah...! Lalu Anggi meninggalkan kami dan rombongan, dia berjalan dengan marah. Pasti dia cemburu sekali. Tapi perjuangan dia untuk dekat dengan Yukita, tidak sebesar perjuanganku untuk mengejar Yukita. Tapi sungguh, aku sangat berterima kasih padanya selama ini sudah menjaga Yukita dengan baik. Tampak Yukita menatap panjang kepergian Anggi, entah apa yang dia pikirkan? Aku tidak tahu.


__ADS_2