
Dia kembali mengangkat wajahnya, masih dengan senyuman yang menyebalkan. Perasaan kesal yang tak terbendung ini, akhirnya aku tarik kerah jaket jins yang tengah dikenakannya.
"Masih bisa tersenyum?"
Si keparat itu meludahkan wajahku. Kembali pukulan ku arahkan ke wajahnya, sialan kampret.. Ujung-ujungnya aku dorong dia, membersihkan apa yang baru saja dia lemparkan dari mulutnya ke wajahku dengan lengan jaketku asal-asalan.
"Haha.. Bagaimana keadaan gadis sekarang?" dia masih berani buka mulut rupanya. "Gue dengar dia lupa ingatan, mungkin ini kesempatan kedua bagi gue untuk merebut hatinya!"
Kembali kutarik kerah jins yang dijadikannya jaket itu, kubungkukkan badanku yang dibakar amarah melihat seringai di wajahnya yang sungguh terlalu tidak tahu diri itu. "Jangan mimpi! yang ada saat ini juga lo tidak akan menikmati udara bebas lagi!"
Alisnya terangkat, wajahnya menggambarkan tanda tanya besar berasa ingin ku tampol sekali lagi. "Haha, lu nggak akan bisa menjebloskan gue ke dalam tahanan!"
Ucapannya itu membuat darahku kembali naik ke ubun-ubun, tanpa banyak bicara akhirnya aku tarik dia. Anggi melihatku yang telah menyekap si brengsek ini segera menghampiri kami. Wajahnya telah penuh luka dan lebam, begitu juga denganku yang dikeroyok oleh orang-orang si keparat ini.
"Bagaimana cara kita membawanya?" tanya Anggi yang seperti ingin memberikan hadiah kecil ke kepalanya, berupa pitakan ringan. Padahal jika dia beri tinju yang kuat juga tidak apa, pikirku yang dipenuhi oleh amarah yang luar biasa.
"Kita pesan taksi online aja!" ucapku dan Anggi langsung mengeluarkan benda kotak pipih dari dalam kantongnya. Mencoba memesan taksi dari aplikasi yang lebih digandrungi dibanding taksi offline.
Akhirnya taksi yang dipesan Anggi datang, beberapa pasukan Aldi mencoba mencegah kami membawanya. Namun karena sudah cukup lemah mereka kembali bisa kami lumpuhkan.
"Kalian tenang saja! Dia tidak akan bisa memenjarakan gue!" ucapnya pada kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya.
Aku paksa si keparat ini untuk masuk dan tidak menyerocos lagi. Saat di dalam taksi online, matanya liar melihat kami berdua. "Jika lu tidak menyukai dia lagi, gue siap menjadi orang yang menerima keadaannya saat ini," kembali mulut kurang ajar itu berbicara dengan pede-nya.
Aku hanya bisa mengutuknya di dalam hati. Aku pastikan itu semua tidak akan terjadi. Akhirnya kami sampai di polres kota ini. Melaporkan kejadian yang telah lewat dua minggu lalu. Alangkah terkejutnya salah satu anggota polisi itu melihat kami menyeret laki-laki kurang ajar ini.
__ADS_1
"Kenapa dia dibawa ke sini?" tanya salah satu anggota kepolisian itu dengan alis terangkat sebelah.
Lalu aku jelaskan maksudku menyerahkan dia ke kepolisian. Entah kenapa polisi itu seperti tidak peduli dengan laporan yang kami berikan, sementara Aldi tiada henti menyunggingkan senyuman liciknya. Ada apa di antara mereka?
"Bapak tidak percaya dengan laporan kami? Apa perlu saya bacakan pasal berlapis yang telah dilakukannya pada seorang perempuan bernama Yukita."
Anggota kepolisian itu tampak tidak peduli dengan penjelasan yang kami beri, "Ya sudah! Kalian boleh pergi dari sini! Sementara biarkan dia tinggal di sini! Kami akan mengurus kelanjutannya!" ucap polisi itu yang membuatku kecewa berat.
Apa yang akan dia lakukan pada Aldi. Apa benar dia akan memenjarakan si brengsek ink setelah kami tinggal?
"Kami ingin memastikan kelanjutan hukuman terhadap dia Pak!"
Masih dengan wajah yang tidak peduli akan usaha yang telah dilakukan untuk membawanya ke sini. Aku lirik Aldi masih tenang dengan senyuman sinis merasa menang meski diseret ke tempat ini.
"Serahkan dia kepada kami! Terima kasih dan kembali lah ke rumah masing-masing!"
"Apa Bapak akan menjamin dia dihukum atas segala perbuatan yang telah dia perbuat?" tanyaku hanya sekedar menguji, mencoba mencari tahu bayangan yang akan terjadi ke depannya.
"Kalian pulang lah! Pekerjaan kami masih banyak!" jawaban itu membuatku memastikan akan satu hal, apa yang kami harapkan hanya sebuah mimpi.
"Kami hanya ingin memastikan bahwa dia beneran akan dihukum kan Pak?" tanya Anggi yang masih polos itu.
Aku tarik Anggi untuk segera meninggalkan tempat ini. "Kel, gue merasa usaha kita ini hanya sebuah pekerjaan yang sia-sia...." ucap Anggi lirih terus mengikuti langkahku yang telah jengah berada di tempat ini.
__ADS_1
Kubuka kacamata yang tengan penuh dengan embun akibat suasana hatiku yang memanas. Merasakan melakukan hal yang sia-sia. Aku baru sadar bahwa kami yang bukan siapa-siapa ini tidak akan dipandang meski melakukan hal yang benar. Ku sandarkan tubuh sejenak pada sebuah mobil yang terparkir di sini, "Mungkin kita tidak bisa berharap lebih, tapi setidaknya kita sudah berusaha. Jadi gue tahu apa yang akan gue lakukan ke depannya."
Anggi mengacungkan jempolnya, "Lu hebat Bro.. gue percayakan semuanya kepada Lu! Sekarang gue bener-bener sudah ikhlas saat Yukita lebih memilih lu! Jangan kecewakan dia!"
Kembali kukenakan kaca mata setelah menyeka embun-embun yang memenuhi alat optik yang sangat kubutuhkan ini, melirik dan mencoba memahami maksud yang dia ucapkan barusan.
"Ya nggak mungkin. Gue udah mati-matian untuk mengejarnya hingga ke sini juga. Selagi gue masih bernyawa, gue akan selalu menjaganya. Apa pun itu, meski saat ini dia tidak bisa lagi berjalan dengan baik, meski dia telah melupakan semua tentang kami, meski dia kembali menjadi gadis kecil berusia sepuluh tahun! Namun, semua akan berbeda jika dia yang tidak menginginkan gue lagi."
Anggi mendekat, menepuk pundakku pelan. Hubungan kami saat ini sungguh telah berbeda. Dulu kami yang selalu berselisih, sekarang dia selalu mendukungku untuk terus menjaga sahabat yang pernah dia cinta. "Gue yakin nanti akan ada rencana indah yang disiapkan Tuhan untuk kalian berdua!"
"Thanks Bro..." aku tidak tahu lagi mesti mengucapkan apa padanya. Ucapannya itu membuat hatiku semakin teguh untuk memikirkan satu hal. Sepertinya aku harus membuat gadis bernama Yukita Marsya itu kembali jatuh cinta padaku. Setidaknya menjelang kami wisuda, aku akan mendapatkan hatinya sekali lagi. Ya, sekali lagi.
"Jangan bengong terus ah! Sekarang udah lewat tengah malam! Rumah gue jauh! Mana motor harus kita jemput lagi!" celetuk Anggi yang menyadarkanku bahwa pekerjaan kami hari ini belum usai.
Kembali kami pesan taksi online ke arena billiard tadi. Masih banyak anggota genk makhluk keparat tadi yang berada di sana. Tatapan mereka seolah meledek keadaan kami yang tampak seperti orang yang kalah atas peperangan ini. Lalu kami lajukan motor, dan cabut menuju tempat istirahat kami masing-masing.
***********************************************
Otor lagi gencar pengen namatin cerita ini. Tetapi seperti yang otor katakan, mungkin tidak sampai ijab qobul.. Jika pembacanya banyak, dan meminta kelanjutan kisah, mungkin akan dibuat pada buku kedua dengan judul berbeda..
🤔🤔
Apa ya judul buku selanjutnya
__ADS_1
Menikahi Gadis Lupa Ingatan
cocok gak ya..wkwkwkwk..untuk sementata otor mau fokus ikut event lomba Yang Muda Yang Bercinta dulu.. Jika telah usai, baru kita lanjut kisah cinta Yukita dan Harry