Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 31 Pahit manisnya cinta


__ADS_3

Sungguh, bahagia.. entah bagaimana cara mengungkapkan bahagia yang kurasakan ini. Nama yang dari dulu tak pernah hilang dari hati, sekarang sedang menggenggam erat jemariku.


Namun tak kupungkiri, aku kehilangan sahabat yang selalu ada menemaniku saat suka dan duka. Apakah persahabatan kami bisa kembali seperti semula? Melihat dia pergi, dengan amarah itu membuatku terluka.


Ingin kulangkahkan kaki mengejarnya, tapi ditahan oleh genggaman ini. kutatap wajah orang yang menahanku ini, dia hanya menggeleng pelan. Memang, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Saat ini Chika dan rombongan tepat berada di hadapan kami, tengah berbisik di antara mereka.


“Ya udah, kami cabut dulu ya?” ujar Chika dan beberapa orang dari rombongan itu menatap nanar padaku. Mengapa mereka begitu?


“Sudah! Jangan kamu pikirkan! Aku akan jadi orang yang selalu berada di sampingmu.” Ucap pangeran dingin itu. Entah, mengapa aku merasa hangat meski dia mengucapkan dengan wajah yang datar.


Kulihat arloji menunjukkan waktu pukul sepuluh. Sebentar lagi ada kuliah, “Yuk, kita menuju ruang kuliah?!” dia hanya mengangguk. Ku tunjuk pada tangannya yang masih tak mau lepas.


“Kenapa?”


“Maluuuu,” ujarku tersipu. Terlihat dia tersenyum, dan melepasnya. “Kalau bisa kita jangan terlalu mencolok di hadapan yang lain. Ini kan kampus, aku malu nanti dilihatin mahasiswa lain.”


“Kenapa malu? Kamu malu jalan denganku?”


“Bukan gituuuu, aku hanya malu..”


“Oh, baiklah!” dia merebut ransel yang sedang aku pakai. “Waduh, ini kenapa berat sekali?”


“Habis isinya buku materi penting.”


“Anak teladan ya?” lalu dia menyandangnya, “Aku minta tolong sama kamu, tolong tas ku ini. ringan ko. Biar aku yang bawain tas kamu, kamu bawain tas aku?” dengan senang hati ku selempangkan tasnya.


Memang sangat ringan. “Ini ngga ada isi ya?”


“Ada, Cuma satu buku tipis. Namanya juga baru awal kuliah. Yuk, buruan nanti terlambat.”


Kami berjalan berdampingan, sesekali dia melirikku yang berjalan di samping kirinya. Kami sama-sama tersenyum, karena kami sama-sama bahagia. Bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sampai ruangan kuliah yang luas itu, yang dari luar terdengar rame, pas ketika langkah kaki masuk, semua serempak diam dan memandangi kami. Aku memaklumi itu, mungkin mereka hanya tidak menyangka. Aku bisa sedekat ini dengan pria yang banyak diidamkan oleh teman-temanku.


Kucari posisi Mili, dia duduk di tengah dan tersenyum padaku. Kulihat Anggi, dia duduk paling pojok bangku paling belakang, sama sekali tidak melihat kami. Chika dan kawan lain, sikut-sikutan melihat kami. Harry menarik tas yang kubawa dan kuikuti dia. dia menyuruhku duduk di sebelah Mili. Sementara dia duduk tepat di depanku. Dia memang laki-laki sejati, tidak membiarkan Mili duduk sendiri tanpaku. Awalnya aku pikir dia akan memaksa aku duduk di sampingnya, ternyata tidak. Syukurlah, dia ternyata sangat pengertian. Berbeda dengan tampangnya yang dingin itu.


“Cieee...ciiieeee....” bisik Mili. Aku tertawa, “Ada yang lagi bahagia nih?”


Kugenggam tangan Mili, “Makasi ya Mili.” Kuhanya memandang dia, tak tahu lagi bagaimana mengungkapkan itu semua. Dosen masuk, dan kami kembali ke aktifitas mahasiswa pada umumnya.


***


“Yuki, memangnya bagaimana cara kamu bisa deket dengan Akel? Padahal kulihat kamu dan dia dulunya tidak terlalu dekat.” Winda mulai menginterogasiku. Kebetulan Akel sedang keluar mencari pembimbing akademiknya.

__ADS_1


“Enggak, aku biasa aja.”


“Kamu tahu nggak? Lihat tuh!” Winda menunjuk beberapa teman kelas kami yang terus melihatku dengan benci. Mereka semua cantik dan modis. Berbanding terbalik denganku yang super biasa. “Mereka semua menyukai Akel,” bisiknya.


“Iya, aku tahu.” Mili hanya menyimak mendengarkan aku sedang diapit oleh Winda dan Chika.


“Sumpah, aku beneran terkejut tadi lihat kamu berdua dengannya sangat mesra,” Winda masih setengah percaya.


“Aku sih sudah menebaknya jauh dari hari ini. Hanya saja dia selalu menyangkalnya,” sela Chika. “Aku sudah menebak, Akel itu sudah lama suka sama Yuki. Yukinya aja yang blo’on tidak merasakan.”


“Lhoo? Kenapa kamu tidak bilang padaku sejak awal?” celetuk Winda.


“Hanya saja aku masih ragu. Mengapa Akel bisa suka sama Yuki sejak lama? Padahal mereka baru jumpanya sejak bertemu pas kuliah ini.” terlihat Mili tersenyum dan geleng-geleng atas apa yang diucapkan Chika barusan. “Lho, kenapa kamu malah tersenyum Mili?”


“Sebenarnya Akel itu mantan pacarnya.” Ucap Mili geli.


“Looh? Kok? Masa? Kapan mereka pacaran?” Mili hanya mengangkat bahu dan mengodenya agar bertanya padaku. “Ayo jelaskan Yuki... Aku penasaran? Kenapa kamu sama dia selama ini drama seperti benar-benar baru kenal?” Iiih, Mili. Aku jadi gemes kenapa malah dibocorin?


“Lagi asik obrolin apa ni?” tiba-tiba Harry sudah berada di belakangku..


“Akel, apa bener kalian dulu pernah pacaran? Kok bisa? Bukankah kamu dari Bandung?” rentetan pertanyaan Chika hanya ditanggapi senyuman tipisnya.


“Ayuk, kita cabut!?” ajaknya padaku.


“Eeeii, jangan pergi dulu! Aku masih penasaran!”


“Yukitanya kubawa ya?”


Harry sama sekali tidak menanggapi, kuikuti langkahnya. “Mau kemana?”


“Ya istirahat. Kan udah siang?”


“Kenapa tidak gabung saja dengan yang lain?”


“Ngapain? Mending kita berdua aja. Sudah lama aku menantikan ini semua.”


“Tapi... jangan sampai mengasingkan diri dong?” celetukku.


Dia berhenti, menatapku “Iya, nanti kita gabung deh. Kali ini kita berdua aja dulu ya?” aku mengangguk dan kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin.


***

__ADS_1


Beberapa hari menjalani dengan Harry, aku semakin memahami dia. setiap bicara dengan orang lain, selalu dengan wajah datar, tanpa ekspresi, tanpa senyuman. Sementara saat bersamaku, makin lama dia makin menunjukkan watak yang berbeda. Dia hangat, dan sudah banyak tersenyum. Bahagia memang, hanya saja aku mulai merasakan sifatnya yang tidak kuketahui sebelumnya, dia sangat posesif. Awalnya merasa tidak masalah, namun lama-kelamaan aku merasa menjadi risih. Memang dia membiarkanku duduk dekat Mili, tetapi ketika perkuliahan selesai dia langsung mengajakku.


Ketika Feli meneleponku, “Yuki, kamu ada waktu tidak?”


“Kenapa Feli?”


“Aku mau minta tolong untuk ditemani ke tempat calon subjek penelitianku.”


“Oh, boleh. Kapan?”


“Besok siang, besok kan week end. Jadi besok aja gimana?”


“Ooh, boleh. Besok aku jemput saja aku di rumah.”


“Oke..oke.. makasih yaaa..”


“Sama-sama.” Telepon ditutup, terlihat Akel sedang memerhatikanku.


“Siapa?”


“Itu, si Feli. Pernah kukenalin dulu waktu di kios kan? Dia lagi ada penelitian.”


“Terus?”


“Dia minta tolong untuk ditemani.”


“Oouh, jadi kamu setuju-setuju aja tanpa tanya aku dulu ni?”


“Loh? Dia kan sahabat aku. Masa aku mau nolong dia mesti minta izin kamu sih?”


Dia diam, berpikir sejenak. “Aku anterin?”


“Nggak usah, dia yang jemput.”


“Oh, jadi tidak mau kutemani?”


“Harry, please. Kasih juga aku waktu untuk ada bersama temanku. Aku punya sahabat, dan aku harus ada waktu buat mereka.”


“Ooh, ya udah. Hati-hati kalau begitu.” Lalu dia pergi meninggalkanku.


Dia tidak boleh begitu! Aku juga punya privasi, dia juga punya privasi. Kami sama-sama memerlukan waktu untuk bergaul dengan yang lain. Lagian dia belum jadi suamiku. Jika begini terus, hasilnya tidak akan baik untuk hubungan kami berdua.

__ADS_1


Aku cinta dia, namun aku juga sayang dengan sahabat-sahabatku. Saat mata kuliah terakhir, kami duduk berjauhan. Itu menimbulkan tanda tanya oleh yang lain, namun tidak kupedulikan bisikan sana-sini.


Saat kuliah usai, dia menungguku tanpa bicara apa-apa. Akhir-akhir ini dia selalu mengantarkanku pulang. Dia sudah beli motor, katanya bekas, yang penting bisa dipakai dengan baik. Kami sama-sama diam seribu bahasa.


__ADS_2