
Aku tak pernah sekalipun minta maaf padanya, dan akhirnya dia juga yang mengalah. Jika dia tidak mau mengalah dan ingin putus dariku, aku sudah siap untuk itu. Tapi… nyata-nya dia tak pernah bicara ke arah perpisahan hingga saat ini. jika Aldi sudah tak ada lagi di dengan sekejap Anggi muncul di hadapanku dengan alasan dia dari sana kek… dari sini kek.. atau entah dari mana? Dan hatiku berkata sebenarnya Anggi nongkrong di warung sebelah. Jika Aldi telah keluar, dia langsung menampakkan wujudnya… hehehehe ( oh iya… chat Aldi belum aku balas…
Malam Di… alhamdulillah sukses karena usaha sendiri
Mulai terakhir ujian hingga dua minggu ke depan, aku akan libur. Dan sekarang aku bekerja dari pagi hingga sore. Lembaran Hasil Study keluarnya secara online. Sekarang, jadwal perkuliahanku masih dipaketkan oleh pihak jurusan, jadi nanti aku ngikuti KRS online yang telah ada, dan kuliah umum aku akan mengambil Kewarganegaraan. Aku tak pernah cerita pada teman-teman kali ini ambil kuliah ke atas, gabung dengan senior-senior, biar aku bisa kenalan dengan banyak senior juga.
Karena liburan, pastilah orang-orang yang dari luar kota Padang akan kembali ke kampung halaman mereka. Kawasan Pasar Baru lebih diramaikan oleh Mahasiswa Politeknik Unand yang belum melaksanakan UAS, karena memang mereka mulai kuliah lebih lambat dari kami.
Aku malas mengajak Aldi ke kios tempat ku kerja ini, dia banyak mau nya. Nanti semua pelangganku bisa ngabur gara-gara diusir dengan alasan “tidak suka.” Sedangkan Anggi… tak perlu bolak-balik dari Lubuk Buaya-Unand lagi. Kepada Ibu aku bilang untuk mengajarkan temen mengoperasikan komputer tingkat lanjut pada temen yang rumahnya di Rindang Alam. Sekali lagi maafkan aku Ibu… aku begini hingga uangku cukup untuk perjalanan ke Unpad dan Undip.
Tidak ada Anggi, dunia ini terasa sepi. Eh, ada pelanggan pertama yang datang…
“Eh… Yukita… tumben jaga pagi..?”
“Iya… kan lagi liburan Ni…”
“Mana pacarmu yang setia menemanimu?”
“Aldi ya Ni? Dia lagi kuliah…”
“Katanya lagi libur? Kok dia kuliah? Bukannya satu jurusan?”
Satu jurusan? Kapan Aldi di Hukum Unand? “oooh.. mungkin maksud uni Aang ya? Aang Cuma sahabatku kok Ni…kami nggak pacaran…”
“Oh…”
“Isi berapa Ni?”
“Biasa…” lalu menuliskan nomer hapenya ke dalam anket yang tersedia. Beberapa detik kemudian “Udah masuk dek…” lalu menyerahkan sejumlah uang.
__ADS_1
“Oh iya… makasi Ni…” ku lemparkan senyuman ramah.
Hahaha… uni… uni… masa Anggi dibilang pacar aku sih? Yah… sepi lagi nih… lalu ku keluarkan hape dan mendengarkarn musik. Ku dengarkan MP3 di hape. Terhanyut dengan lagu lawas berjudul “kepingan hati” dengan reflek aku ikuti lirik lagunya
“apa yang terjadi…
Pada kisah suci ini…
Setelah sekian lama kuyakini…
Mengapa kau pergi…”
“Aaah…” aku dikejutkan oleh sebuah tepukkan di depan hidungku. Lalu ku lihat yang punya tangan lalu ku buka headset yang melekat di kedua telingaku.
“Akel??? Kenapa kamu masuk ke ruang kerjaku?”
“Habis… dari tadi aku panggil, eh kamunya nggak denger gara-gara terhanyut dalam lagu cengeng itu” masih dengan datar dan dingin.
“Tumben? Aku sering ke sini buat isi pulsa, tapi malam hari”
Aku mengangguk mengerti, dan jelas sekali dia akan mengisi pulsa kembali. Aku serahkan angket, dengan tatapan saja dia telah mengerti aku menyuruh dia keluar dan dengan segera dia keluar dan berdiri depan etalase “Isi berapa?”
“Lima puluh…” lalu menuliskan nomernya, beberapa detik kemudian
“Nih…” menyerahkan sejumlah uang “pulsanya udah masuk.”
“Makasih…” ucapku.
“Ya” jawabnya singkat. Beberapa waktu dia masih berdiri di tempat yang sama.
__ADS_1
“Ada lagi Kel?”
“Nggak”
“Oh iya… kamu nggak pulang kampung nih?”
“Nanti penerbangan siang.”
Penerbangan? Berarti naik pesawat terbang? Pasti kampungnya jauh… “Emang kampungmu dimana?”
“Mau tahu aja..." dan membalikkan badan bersiap melangkah pergi.
“Kel…”
Ku lihat dia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku “Apa?”
“Hemmm… rambutmu biarkan kayak gini aja ya? Kalo panjang, rapikan lagi jadi kayak gitu!”
“Emangnya kenapa?”
“Enggak…” lalu dia melangkah lagi “Akel…”
Dia berhenti “apa lagi?” dengan sedikit bentakan.
“Hati-hati ya!!!”
Dia hanya mengacungkan jempolnya padaku. Akel… Akel… aku jadi tak mengerti. Masa bertanya kampungnya dimana saja tidak boleh? Jangan-jangan kampungnya di Papua kali ya? hemmm tidak mungkin... dari postur dan ukuran tubuh, dia tidak mirip? Mungkin juga dulu orangtuanya transmigram dan menetap di Papua? Entah lah? Aku kembali duduk di singgasanaku.
Akel
__ADS_1