
Tanggapan pembaca memang luar biasa ya, awalnya otor udah mau melambaikan tangan ke kamera lhoo pada cerita ini.. karena tidak ada yang lirik.. Meskipun pembaca nya tidak sebanyak yang baca karya otor pemes, yang mau baca tulisanku yang belum ada harga ini rasanya, seneng sekali..sumpah..
Salam sayang dari Aa Harry yang mewakili otor yaa.. ini Aa Harry nya udah operasi LASIK.. 🤣🤣🤣 demi Dedek Yukita.. *canda otor..
Dedek Yukita ini aslinya jago nyanyi lhooo.. boleh searching dengan nama Bulan Sutena
Usai ngapel pacar yang berasa anak, aku kembali ke kostan dan mengecek tugas kuliah untuk esok harinya. Ternyata ada satu laporan yang harus diselesaikan untuk materi esok. Aku baru ingat, laptopnya masih digunakan oleh Yukita.
Berpikir sejenak, hmm.. Remon lagi ada tugas juga nggak ya? Agak sedikit sungkan sih, tapi butuh sekali. Aku ketuk pintu kamar sebelah, dan Remon membuka pintunya dengan gayanya yang khas. Salam bersahaja yang tak pernah dia lupakan. "Assalamualaikum Kawan, ada apa gerangan malam-malam mengetuk pintu saya?"
"Walaikumsalam salam Mon.. ini, hmm.. kamu lagi apa saat ini?" mencoba sedikit mengintip ke kamarnya, siapa tahu lagi membuka alat elektronik nya itu untuk membuat tugas juga.
"Ooh.. saya sedang membaca novel online ni kawan.."
Hmm..?? Aku Baru tahu ternyata tetangga kamarku ini punya hobi membaca novel, online pula..
"Dari ekspresi wajah Kawan tampak meragukan hobby saya yang suka membaca ini ya?" kelakarnya sembari memperbaiki posisi kacamatanya. Kami duo bertetangga adalah pria yang tak bisa lepas dari kacamata.
"Iya, aku nggak nyangka aja orang teknik ini punya hobi baca novel itu juga. Sempat lirik-lirik sedikit sih, tapi kurang tertarik," hehehe.. sepertinya arah pembicaraan ku semakin jauh dari pokok, harus kembali ke inti. Kebetulan dia lagi tidak menggunakan laptop-nya, siapa tahu bisa aku pinjam sebentar.
"Kamu lagi pakai laptop nggak Mon?"
Lalu dia membuka kan pintu kamarnya selebar mungkin. Tampak benda itu tengah tertutup terletak di atas meja lipat milik nya.
"Kebetulan saya sedang tidak menggunakan nya. Ada apa gerangan Kawan? Apa mau memakainya dulu?"
"Nah, itu.. tepat banget. Aku ingin pinjam untuk menulis laporan sebentar boleh?"
Dia tersenyum bersahaja, menepuk pundak dan mengajak masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya sangat banyak tersusun robot-robot sederhana hasil rakitan dan program yang dia rancang. Dia juga pernah diundang ke Universitas Indonesia sebagai peserta lomba membuat robot sederhana ini. Luar biasa cerdas kan dia?
Remon mengambil buku elektronik empat belas inci itu, lalu menyerahkan langsung ke tanganku.
"Pakai lah dulu, saya lagi hibernasi dari benda ini. Mau refreshing dulu berselancar di dunia halu para author platform yang saya suka..."
"Kamu suka genre apa? Jangan bilang roman...?" tak sengaja aku terkekeh sendiri membayangkan pria Soleh ini membaca novel genre romantis.
__ADS_1
"Haha, kadang-kadang kalau lagi tidak ada bacaan menarik aku baca romansa juga kok. Tapi aku lebih suka baca genre fantasi. Apalagi fantasi modern dan sciefi.. Aduh.. berasa pengen jadi ilmuwan kalau udah begitu.."
"Oh, kalau begitu selamat melanjutkan terjun di dunia halu ya Mon. Sementara aku belum bisa keluar dari dunia nyata ini," sesaat merasakan tubuh yang lumayan lelah. Namun pekerjaan yang menunggu masih cukup banyak. Aku ingin menuntaskan mendengar rekaman yang dikirimkan oleh Stevan. Sudah beberapa waktu terlewat, masih belum kelar juga penyelidikan nya.
"Jangan terlalu memaksakan diri kawan. Kita hanya manusia biasa lhoo.. Butuh istirahat dan refreshing.." nasihat yang datang dari mulut Remon ini membuatku tersadar, bahwa akhir-akhir ini aku memang kurang sekali dalam mengistirahatkan diri.
"Benar juga Mon, kayaknya aku juga perlu berhibernasi, tetapi bukan masuk dunia halu. Mungkin aku lebih butuh dunia mimpi..."
Kembali orang yang ada di hadapanku ini menepuk lenganku, "Usai tugasnya beres, lebih baik Kawan tidur saja. Mata panda ya sudah terlalu besar menghiasi wajahnya..! Kalau masih kurang istirahat, nanti Kawan bisa sakit. Siapa yang akan melanjutkan pencarian tersangka kemarin bukan?"
Aku hanya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakannya. Kayaknya nanti usai menyelesaikan tugas, lebih baik aku tidur. Besok habis subuh saja melanjutkan mendengarkan rekamannya.
"Kalau gitu aku bawa dan pakai dulu ya Mon, makasi banyak.."
Lalu pria berkacamata yang selalu menggunakan kata ganti 'kamu' menjadi 'kawan' itu masuk ke kamar dan menutup pintunya. Aku pun melakukan hal yang sama, mengetik tugas sambil menguap sebesar mulut buaya yang harus ditutup saking lelahnya.
\*\*\*
"Bu, Yuki izin keluar bawa motor ya?"
"Kemana?" tanya ibunya.
"Keluar sebentar..."
Lalu terdengar suara motor, dan lalu lintas lain. Aku tidak tahu itu sudah pukul berapa. Karena dalam rekaman ini tidak ada penjelasan waktu setiap part nya.
"Assalamualaikum..." terdengar suara Yukita mungkin mengunjungi suatu tempat.
"Walaikum salam..." jawab seorang ibu-ibu. Itu seperti suara ibu kos kami.
"Waahh.. kamu.. pacar Akel kemarin kan?" tanya ibu kost ku.
"Iya Bu.. aku yang kemarin.."
__ADS_1
Oh, benar juga. Dia langsung mencariku saat teleponnya aku abaikan kala Anggi tengah mengerjai ku. Jadi ibu kost langsung ingat.
"Ada apa Dek?" tanya ibu kost.
"Aku mau nanya kabar tentang Akel Bu. Apa ada dia menghubungi ke kostan?"
Dia benar-benar mengkhawatirkan aku ternyata. Nih dasar hape, pakai ketinggalan pula? Kalau seandainya saja tidak tertinggal, mungkin semua ini tak terjadi.
"Waah.. saya juga kurang tahu. Tapi Akel punya kawan dekat di sini. Tunggu sebentar, kamu duduk dulu ya."
"Vina.. Vina.."
Tidak lama terdengar suara anak sekolah itu menjawab panggilan dari sang Ibu.
"Iya Bunda ada apa. Eeh.. kakak cantik pacar kak Akel..."
Vina sudah kenal dengan Yukita juga ya. Masa dengan luwes begitu Vina ngobrolnya dengan Yukita.
"Vin, tolong panggilkan Bang Remon ke sini! Siapa tahu dia dapat kabar tentang kepergian Akel?" titah ibu kost kami.
"Baik Bun..." lalu suara Vina tidak terdengar lagi.
"Kamu sejak kapan kenal dengan Akel itu? Sebelumnya dia tidak pernah bawa cewek ke sini. Kemarin tahu-tahu nya udah ada aja yang nyari." ucap sang ibu kost, aku juga jadi penasaran apa jawaban Kekasih hatiku ini.
"Hehehe.. Yuki bingung ceritanya Bu. Tapi intinya takdir yang menyatukan kami." Deg.. hatiku berasa berbunga mendengar jawabannya. Takdir.. iya.. ini adalah sebuah takdir.. dari negeri otor.. 😋
"Aduuh.. kok manis banget kedengarannya ya.." ucap ibu kost.
"Yuki awalnya juga berasa tidak percaya Bu.. Tapi itu lah yang terjadi. Kami awalnya hanya pacaran jarak jauh aja. Tapi ternyata dia benar-benar ke sini Bu. Seneng banget kan Bu, bisa bertemu seseorang yang selalu ada dalam hati .. Ini adalah takdir indah yang harus Yuki syukuri kan Bu.. Dia adalah malaikat tak bersayap bagi Yuki Bu.."
Tiba-tiba hatiku berasa hangat. Kenapa dia begitu blak-blakan atas apa yang dia rasakan, kepada ibu kost lagi. Pantas saja akhir-akhir ini Ibu kost selalu menggoda ku. Ternyata karena dia tooh...
next nya bab selanjutnya yaa..
__ADS_1