
125km/jam, angka itu yang ditunjuk jarum speedometer ninja yang kukendarai saat ini. Melesat mengintari kota kembang ini, disusul oleh Dirga dan Hendri. Aku ingin tetap berada di posisi terdepan, sebagai orang yang mengejar cinta gadis impian. Ternyata tak semudah yang aku pikirkan, kenapa aku kalah cepat dibanding lelaki yang ada di sampingnya saat ini?
Kembali ku putar gas motor sport itu sejadinya. Di heningnya malam, jalanan yang sepi walau masih ada beberapa pengendara lain yang mengutukku karena melaju terlalu kencang. Speedometer terus bergerak ke atas hampir 130...135..km/jam. Seharusnya secepat ini aku menyatakan semua rasa yang tersimpan terus menyesak di jantung. Kenapa untuk itu saja aku tak sanggup?
Tiba-tiba bayangan wajahnya melintas dalam benakku, membuatku sedikit lengah dengan kondisi jalan, hampir saja menabrak pembatas jalan segera mungkin kukendalikan motor itu dan menghentikan lajunya. Dirga dan Hendri segera menyusulku dan turun setengah berlari menuju tempatku.
“Lu nggak apa Bro?” tanya Hendri kuatir.
“Sudah gue bilang. Mending nggak usah!” timpal Dirga
“Sorry..!! sorry! Gue ngga apa kok!”
“Tadi lu masih beruntung Ry, jika tadi lu tidak sempat mengendalikan, nyawa lu udah terbang saat ini!” ucapan menohok yang datang dari Dirga.
Kubuka helm fullface yang terasa menyesak ini.
“Maaf Bro. Membuat kalian semua kuatir..”
“Sudah, sekarang kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol!” ajak Dirga sekaligus kembali ke motornya, memimpin perjalanan kali ini.
Waktu menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Saat semuanya tengah lelap dalam tidurnya, kami masih bercengkrama di tengah dinginnya malam negeri lautan api ini. Kami semua masih dalam bisu, usai kejadian tadi.
“Sebenarnya yang lu inginkan itu apa Ry?” Dirga ucapan yang panas, dengan nada yang dingin.
“Lu mau, kejadian seperti saat bersama Tika?”
“Jangan samakan situasi ini Ga!” Hendri diam menyimak, karena dia memang tidak paham sama sekali arah pembicaraan kami.
“Jika lu beneran sayang dia, ya elu harus jaga diri lu sendiri lah!” diamku menyimak perkataannya.
“Sekarang coba lu pikirkan! Walaupun terlambat lu menyampaikan padanya, jika seandainya dia memang selalu mikirkan elu, dia itu akan menjadi milik lu! Tapi, seandainya dari dulu pun lu menyampaikan bahwa lu adalah Harry, jika sama sekali dia tak ingat lu, bahkan tak mikirin lu pun dia tetap tak akan perduli! Mikirkan perasaan lu! Tak mau tahu segala perjuangan lu mencari dia, tadi itu apa? Lu mau bunuh diri di saat usaha lu baru setengah jalan? Mending dari awal lu ngga usah memulainya! Mending nggak usah lu kembali ke sana. Di sini lu juga bisa nemuin banyak gadis seperti dia! bahkan melebihi dia sangat banyak!”
Terhenyak ku oleh sebuah nasihat lelaki itu. Semua ucapannya itu memang benar. Sejak awal ku sudah siap dengan resiko apa pun yang terjadi. Dan itu semakin lama semakin lemah karena situasi yang kualami sangat jauh berbeda dari yang kuharap.
Tamparan dari Dirga barusan, membuatku kembali terbangun dari keterpurukan yang kubangun sendiri.
“Sekarang dengarkan baik-baik! Karena situasi di sana jauh dari bayangan awal kita, coba lah lu dekatin dia sebaik mungkin. Lu coba bongkar isi hatinya secara perlahan! Cobalah mencari tahu apakah ada lu di hatinya atau tidak? Jika sedikit saja ada harapan bahwa dia sangat mengingat nama Harry, lu harus secepatnya menjelaskan semuanya padanya! Jika semakin lama lu menjelaskannya, hasilnya akan semakin tak baik.” Hendri hanya melongo mendengar ucapan Dirga barusan, ya, dia sama sekali tidak paham, dan pasti sangat bingung.
“Jadi kapan gue harus mulai mencari tahu itu?”
“Ya, dari sekarang! Semakin cepat semakin baik!” aku mengangguk dan kembali hati kuat untuk mencobanya kembali.
“Dari tadi kalian ngomongin apa sih?” akhirnya suara Hendri terdengar.
__ADS_1
***
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi!” sudah sejak kemarin ku mencoba menghubungi Yukita, tapi nomornya tidak pernah aktif.
Apakah dia mengganti nomor kontak? Kenapa? Atau hapenya sedang rusak? Ku coba membuka kontak, mencari kontak Anggi atau Mili, ternyata sama sekali tidak ada. Baru aku sadari, semua kontak teman seangkatan di Padang itu tidak ada, yang kumiliki hanya nomor Yukita saja.
Ooh, kenapa aku bodoh sekali? Lagi-lagi situasinya di luar dugaan. Padahal aku ingin mengajak ngobrol, ingin mencoba mendekatinya dengan sebaik yang ku bisa. Kenapa tak pernah terpikirkan untuk menyimpan nomor teman-teman dekatnya juga?
Tiba-tiba masuk telepon, dan dari nomor yang tidak dikenal. Apakah ini Yukita?
“Halo..” sapaku berharap itu gadis yang kucari.
“Harry..!”
“Siapa ini? Poni? Kenapa ganti nomor?”
“Aku sengaja pakai nomor lain, agar kamu mengangkat telepon aku! Ternyata kamu langsung mengenalku.” Dia tertawa garing di suasana hatiku yang buruk.
“Ah, udah dulu ya? Gue ada urusan!” males ngomong lama-lama dengannya. Kembali telepon masuk, dan lagi-lagi dari dia. Kadang aku merasa kasihan padanya, tapi lebih banyak jengkel.
Ternyata masih ada gadis sekeras kepala dia. Sudah jelas ditolak mentah-mentah oleh lelaki seperti aku, tapi masih saja ngotot.
Sebenarnya hari ini sama sekali tak ada kegiatan. Mungkin paling enak tiduran sambil baca komik atau apa gitu. Aku yang tengah terhanyut membaca komik online, tiba-tiba adikku muncul membuat kegaduhan.
“Lalu apa kamu bilang?”
“Ya, aku bilang Aa’ mungkin sedang keluar bersama Kak Dirga.”
“Lalu?”
“Lalu dia pergi,” ooh bagus lah kalau gitu.
“Teteh cantik itu siapa A’?”
“Emang kenapa?”
“Kalau Aa’ pacaran dengan dia, kan aku punya kakak ipar yang cantik.”
Haha, bocah laki-laki lugu yang tak tahu kenyataan dunia “emang kalo kami tidak pacaran gimana?”
“Hehe... ya ngga apa sih.. hehe..”
Kubuka hape, membuka galeri hasil paparazi amatiran “Coba lihat yang ini, kira-kira dia gimana?”
__ADS_1
Tampak dia mengamati dengan seksama, kayak yang paham benar lah, “Gimana dia kira-kira?”
“Apa ya A’? biasa aja! Masih kayak kawan-kawan sekolahku.”
“Emang kawan sekolahmu kayak gimana?”
“Iya, kayak gini. Ngga ada pakai lipstik, ngga ada merah-merah pipi dan mata.”
“Jadi lebih suka yang mana dibanding yang ketemu tadi?”
“Kayaknya lebih cantik teteh tadi deh A’, yang tadi tu aduhai pisan euy!”
“Kalau gitu buat kamu saja!”
“Yeee, enggak lah? Nanti aku dibilang jalan sama tante-tante lagi?”
“Yeee, katanya sukaaa?”
“Kalau buat aku jadiin pacar kayak yang ini saja A’?” kembali menunjukkan hasil jepretan diam-diamku. Langsung ku lempar bantal ke mukanya.
“Tidak boleh! Ini punyaku! Dia ini sudah tua tahuuuu?” jadi gemes dia maunya sama pujaan hatiku.
“Masa sih A?” lalu dia amati lagi, “Bener juga sih.. jadi ini pacar Aa’?”
“Dulunya sih iya, tapi sekarang masih ingin kembali padanya.”
“Aku dukung A’! nanti ajak ke rumah ya kalau udah balikan lagi? Kenalin ke aku juga ya? Sapa tahu dia lebih milih aku daripada Aa’!”
Dia langsung keluar menutup pintu sebelum benda yang ada di tangan kulempar..
Ternyata dia memang meniruku dengan persis. Bahkan menyukai tipe gadis yang sama.
Kembali kucoba menelepon ke nomornya, ternyata masih belum aktif juga hingga sekarang. Yukita, apa yang terjadi. Sadarkah kamu aku sangat merindukanmu?
Ku ingin kau tahu, hingga saat ini kumasih menunggumu, menunggu hingga saat lidah ini tak lagi kelu mengucapkan bahwa aku mencintaimu sepenuh hatiku.
Setiap oksigen yang mengalir di darah, seperti tertulis namamu.
Tapi mengapa tak jua kau rasakan cinta yang kumiliki? Tantangan terberatku ternyata kamu itu sangat... sangat tidak peka. Tidak bisa membaca isi hati orang lain.
__ADS_1
Namun, itu yang membuatku semakin gemas denganmu, sudah seperti orang gila bicara dengan fotonya.