Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 22


__ADS_3

Tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk mengatakan semuanya hari ini, sekarang juga, tidak boleh ditunda lagi.


“Kalau begitu lebih baik kita makan dulu. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”


“Mau mengatakan apa?”


“Udah, nanti saja. Mari kita cari tempat yang enak buat makan!”


Tempat kali ini harus istimewa, agar dia mengerti akan kesungguhanku selama ini. Buka sekedar main-main padanya.


Tempatnya memang cukup jauh, tapi untuk lokasi yang sempurna. Kutengok, helm-nya tidak rapi. Kuhentikan motor.


“Apa kita sudah sampai?” kutahan, dia yang hendak turun..


“Jangan turun! Aku mau..." kuperbaiki helmnya agar lebih safety.


"Aku tak mau bila seandainya sesuatu buruk menimpa kita, kamu celaka gara-gara helm ini.” Pandangan kami kembali beradu. Makin lama wajahnya memerah, membuat dia terlihat lucu.


“Ka..kalau gitu bawa motor hati-hati donk!” dia salah tingkah, pasti aku akan hati-hati membawa juwita hati, dan kembali melaju.


“Sebenarnya kita mau kemana sih? Kok belum sampai juga ke tempat makannya?”


“Aku ingin mengajakmu ke tempat makan yang istimewa, Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”


“Apaan sih? Bikin penasaran saja?”


“Tapi kita makan dulu.”


Akhirnya kami sampai juga...“Ini dimana Kel? Bagus banget.”


“Kamu suka?” dia mengangguk, syukurlah dia suka.


“Kamu mau makan apa?”


Dibukanya daftar menu makanan, “Mahal banget Kel?”


“Pilih saja!”


“Aku nggak biasa makan kayak gini aaahh.”


“Udah, aku yang traktir!” yaah, tatapan dia tidak percaya.


“Iya..bener! aku yang traktir!”


“Tapi ini mahal lho?” tenang, duitku banyak.


Dia lama memilih menu, setelah aku cek, kayaknya ni orang sengaja memilih harga yang paling murah.


“Yakin cuma itu?” dia mengangguk pasrah. Biar aku saja yang memilihnya, mungkin dia nggak enak hati.. menunggu hidangan sampai rasanya sangat lama.

__ADS_1


Jika nanti dia marah bagaimana? Kalau dia ternyata malah seneng sih bagus, yang aku takutkan dia malah tidak mau memahami. Memang sih, usaha yang dia lakukan lebih berat dari apa yang aku lakukan, tapi kuharap dia bisa mendengarkanku hingga selesai.


“Kenapa Kel?”


“Hmmm... enggak...”


“Ngomong-ngomong kamu mau jelasin apa? Jangan-jangan gara-gara itu kamu gelisah?” aduh..hmmm...


“Sebenarnya aku harus menjelaskan semua ini sejak dulu padamu, tapi.... hmmm.. Lebih baik kamu makan dulu. Pasti sudah laper kan?”


Sepertinya memang lebih baik setelah dia makan saja. Jika malah hasilnya buruk, aku takut dia malah kehilangan nafsu makan.


Usai makan, “Kamu kenapa?” tanyanya.


“Kita cari tempat yang tenang yuk?” kuajak dia menuju halaman restoran itu.


Pemandangannya benar-benar bagus. Dia tampak sangat menikmati suasana tempat ini. Syukurlah, suasana hatinya tidak buruk lagi. Dia kembali melihat ke arahku, dia tampak cantik dengan senyumannya itu.


Ku ajak dia duduk di atas rumput memandangi panorama ini. bagaimana cara memulainya ya? Dia marah nggak ya?


Yak! Aku pasti bisa, ku pindah posisi tepat berada di hadapannya. Langsung kutangkap sorot matanya, kami bertatap mata cukup lama.


“Apaan sih Kel?” wajahnya kemerahan.


“Kenapa kamu tidak mengenaliku?”


“Kamu tahu nama panjangku?”


“Tahu laah, sudah berapa lama kita kenal?”


“Sebutkan!”


“Apanya?”


“Nama panjangku!”


“Akel Harryendra? Lalu?” ini mungkin membuatnya semakin heran.


“Perlu kamu tahu, panggilanku di rumah adalah Harry,” dia sangat terkejut.


“Satu yang perlu kamu tahu, betapa bahagianya aku saat tahu kamu mencari seorang bernama Harry hingga ke sini.”


“Dari mana kamu tahu? Aku tak pernah menceritakannya padamu.”


“Itulah... seharusnya kuceritakannya padamu sejak dulu. Tapi selalu tidak ada kesempatan.”


“Cerita apa Kel? Dari tadi kamu membuatku bingung.”


Kukeluarkan hape, “Kamu mau tahu ini siapa?” kutunjukkan kontak ‘Ayank’ dan kutelepon, dia terkejut..ternyata masuk ke ponselnya.

__ADS_1


“Ini maksudnya apa? Kel! Jelaskan padaku!”


“Jangan panggil aku Akel! Panggil aku Harry! Aku lah yang kamu cari hingga ke kota ini.”


“Jadi? Kamu itu Harry? Harry yang kukenal tiga tahun yang lalu, Kamu Harry yang kucinta itu? Kamu Harry yang ku cari seperti orang gila hingga berputar tak tahu arah? Dan kamu Harry yang tiba-tiba menutup teleponku, kemudian mengajakku berteriak seperti orang gila seperti kemarin?” dia terus berjalan mundur.


Terus kudekati, aku tak ingin dia pergi tanpa memahami apa yang telah kulakukan selama ini.


“Maafkan aku Yukita. Seharusnya aku mengucapkan ini semua saat bertemu denganmu. Tapi sama sekali tak ada celah untuk menceritakan semuanya,” berusaha kuraih tangannya, namun dia menepisku.


“Kenapa?” suaranya serak dan berat.


“Yukita, lihatlah aku! Kenapa kamu menangis?” kembali mencoba meraih nya, namun kembali dia menepisku.


“KENAPA KEEEL?? KENAPAAAA? BAHKAN AKU TAK TAHU HARUS MEMANGGULMU APA SEKARANG? KENAPA KAMU PERLAKUKAN AKU BEGINI KEEEL? KAMU PUAS TELAH MEMPERMAINKAN HATIKU?”


“Yukita! Kamu harus dengarkan aku dulu! Sejak dahulu aku sudah berusaha untuk mengatakannya padamu. Tapi....”


“KENAPA? KAMU PUAS MELIHATKU SEPERTI ORANG GILA INI? MENCARIMU YANG TERNYATA SEJAK DULU SUDAH ADA DI DEKATKU?”


“Yukita, dengarkan penjelasanku dulu?”


“APALAGI? KAMU MAU MENERTAWAKAN AKU?”


“Maafkan aku!”


Dia berlari meninggalkanku, dia menangis.


“Yukita, kamu mau kemana?” dia berlari dan terus menepisku.


“Yukita, kita belum selesai bicara. Please, kita selesaikan ini sekarang juga!” tiba-tiba malah naik angkot, angkot kemana itu?


“Yukita kamu mau kemana?” teriakku, tapi angkotnya sudah jalan. Harus kukejar, kenapa dia begitu ceroboh?


Kulajukan skuter secepat kilat, mendahulukan laju angkot itu, dan Langsung kucegat , “Mang, maaf ya. Neng yang itu salah naik kendaraan.”


“Oh, gitu.. Neng, mending ikut dia wae.. daripada Neng nyasar kemana-mana!” kata supir angkotnya.


“Maaf ya Mang”


“Yukita, mari kita selesaikan ini!” kuraih tangannya namun terus ditepisnya.


“Kamu mau kemana? Salah arahnya!” mendengar dia langsung berbalik arah.


“Ayo naik! Kalau kamu tak mau bicara tak apa! Biar aku antar pulang!” baru dia mau naik, membawa sesak di dada. Kami diam dalam perjalanan yang panjang.


Perjalanan terasa lebih lama dari pada saat berangkat tadi. Tidak ada suara, hanya sedikit getaran di tubuhnya. Mengapa dia menangis? Bukankah seharusnya dia senang? Aku orang yang dicarinya ternyata adalah orang yang selalu ada di sisi nya?


sungguh aku tidak memahami hati wanita itu seperti apa ..

__ADS_1


__ADS_2