
"Bagaimana bisa lu menghadapi ini dengan tenang?" berbisik sambil melihat dua orang yang tengah berpelukan seperti itu. Bisa menghadapi dengan tenang? Aku rasa itu adalah pernyataan yang kurang pas. Karena hatiku sendiri meronta, menyadari semua tentang kami telah dilupakannya begitu saja.
"Menurut lu kenapa?"
Anggi mengedikkan bahu, lalu kami berdua melihat ke arah dua gadis itu, satu tengah sesegukan memeluk Yukita, yang satu dengan kening berkerut melihat Mili menangis entah karena apa.
"Mil.. Mil..." Anggi mendekat untuk menenangkan Mili. Mili menyeka air mata yang sia-sia jatuh karena orang yang di hadapannya ini tidak akan memahami situasi ini.
"Kamu jangan membuatnya makin bingung, seharusnya kita hibur.." tambah cowo yang lebih muda dariku ini. Mili menatap kami bergantian, lalu mengangguk. Gadis itu bangkit menuju motor Anggi, mengambil bungkusan yang mereka beli tadi. Aku teringat juga akan eskrim yang tadi kubelikan. Segera menengok kantong tersebut, mungkin eskrim yang ada di dalamnya mulai mencair.
Aku lirik kedua temannya itu, lalu memanggil Yukita, "Yang..." gadis itu melirikku sejenak, dan pandangannya beralih pada sesuatu yang ada di tanganku. Matanya terbelalak gembira..
"Es kriiiim...." soraknya hendak bangkit dari posisi duduk tadi. Mili membantu Yukita untuk berdiri, dan melihat reaksinya lebih dari ekspektasi langsung kuperlihatkan benda dalam pot yang tertutup rapat ini.
"Nanti saja ya? Kayaknya sudah mulai mencair. Aa masukan kulkas dulu, biar enak lagi..." dengan wajah kecewa dia terduduk kembali pasrah.
"Aa masukan ke frezzer dulu, biar nanti kamu bisa makannya bareng ayah, ibu, dan kakak..."
Dia merengut, kecewa. Ingin menikmati makanan sejuta umat ini sekarang juga. Tak tega liat raut wajahnya dengan bibir membulat seperti itu, akhirnya aku buka juga benda berbentuk pot ukuran 750ml ini. Seperti dugaanku, eskrimnya sudah mencair.
"Kamu yakin mau yang ini?"
Dia ikut mengintip, melihat es yang sudah mencair, namun tetap kekeuh untuk mencobanya. Aku masuk ke rumah, mencari sendok dan wadah kecil untuk menyalin sedikit es krim tersebut. Ekhem.. berasa rumah sendiri yang sudah hapal letak dan lokasi benda-benda itu, lalu kembali ke teras.
Aku melihat Anggi dan Mili tertegun menahan senyuman melihat gadis yang tengah menikmati eskrim bagai minum susu dingin. Di sekitar bibirnya telah belepotan dengan leleran cairan yang creami bewarna coklat.
"Aduh sayaaang, kamu beneran gak sabaran banget ya? Kenapa tidak bisa menungguku sekejap saja?"
Aku cari sapu tangan yang selalu kubawa dan kusiapkan kemana-mana. Aku biarkan dua makhluk ini terpana akan aktivitas yang kami berdua lakukan. Menyeka eskrim yang belepotan disekitar mulutnya. Dia menengadahkan tangan, meminta sendok yang baru saja aku ambil.
"Ini namanya susu coklat dingin.." 😋 ucapnya sambil menyuapkan eskrim yang telah mencair dan encer.
__ADS_1
Waduuh, ini anaknya benar-benar deh, kalau gitu tadi mending beli susu coklat malah dapat banyak. Kembali kulirik dua orang tadi yang masih memerhatikan aksi kami.
"Sumpah dah.. kalian lebih mirip ayah sama anak sekarang.." kembali Anggi mengomentariku dan Yukita membalasnya dengan cengiran asik dengan kegiatannya sendiri.
"Anggap aja kami ayah dan anak," ucapku sambil menghela nafas pasrah tapi tak rela.
"Kalau gitu gue jadi mantunya ya Ayah mertua," kembali Anggi berkelakar lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh tawa Mili yang tadi masih tidak menerima keadaan temannya yang kembali seperti anak kecil ini.
"Ini buat lu..!" mengepalkan tinju ke hadapannya. Belum kapok dia, masih saja ingin mengujiku dengan candaan garingnya itu. Itu kenapa Mili juga ikut terkekeh mendengar umpatanku. Oh iya, mereka berdua temenan.
Kembali kulirik Yukita, ternyata tangannya juga tengah terkepal. "Kayak ini A.. main tinju kita A?" Aku hanya bisa menepuk jidat, disambut tawa terbahak kedua temannya.
***
Usai sholat Isya, akhirnya aku membaringkan tubuh di atas ranjang. Esok akhir pekan, jadi sedikit bebas dari tugas untuk sementara. Kebetulan laptop telah kembali ke tanganku, diserahkan oleh ayahnya tadi. Awalnya dia tidak mau mengembalikan itu, tetapi setelah ayahnya menyerahkan laptop miliknya, baru dengam ikhlas menyerahkan benda ini kepadaku. Untung saja dia belum mengotak-atik isi drive yang lain.
Jika seandainya dibuka di depan keluarganya, pasti malu sekali di hadapan kedua orang tuanya. Mengetahui, selama ini aku menjadi paparazi yang diam-diam memotret anak mereka tanpa sepengetahuan orangnya. Atau mungkin beli chromebook khusus untuk game buat dia?
Aku buka kembali file yang berisi rekaman dari hape milik Yukita, yang dikirim oleh Stevan. Yang pertama kudengar adalah suara gadis itu bernyanyi. Tidak bosan-bosan gendang telingaku mengulang dan mengulangnya lagi. Sampai lupa tujuan utama ku sebelumnya.
Setelah satu jam mengulang mendengar suaranya, baru teringat apa yang menjadi tujuanku sebenarnya. Akhirnya aku fokus dan mencoba scrolling hingga di saat Yukita pulang dari kostan ku ini. Entah kenapa aku malah menjadi lalai, apa sebenarnya aku menikmati dia yang seperti saat ini? Hidup berasa menjadi lebih bewarna, dengah tingkah konyol yang selalu dan selalu dia buat.
Hetset segera ku pasang, memulai lagi dengan obrolan terakhirnya dengan Remon.
"Kalau begitu lebih baik kamu pulang dulu. Nanti kalau ada kabar aku hubungi lagi..." ucap Remon pada Yukita.
"Baik lah... aku pulang dulu. terima kasih sudah memberi tahu kan semuanya padaku ya. Sedikit demi sedikit aku bisa mengetahui teka-teki tentang dia yang banyak dia simpan..." itulah, aku juga bingung terhadap diriku sendiri.
"Aku pulang dulu ya, terima kasih. Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam warrahmatullah.... hati-hati di jalan pacarnya Akel.." canda Remon membuatku kaget dan terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Malu aah.." celetuknya. Lalu terdengar suara motor dinyalalakan, kembali hanya terdengar suara motor lalu lalang. Terdengar suara ringtone Yukita bergema.
"Haloo.." jawabnya, terdengar suaranya menjawab tapi ada gesekan dengan suara angin. Apa dia menjawab panggilan dengan sambil berkendara? Waduuh, anak nakal ini kelakuannya kok mirip cowok sih?
"Masih ingat dengan gue?" karena ini adalah panggilan dalam rekaman ponsel, aku pun bisa mendengar apa yang diucapkan oleh si penelepon.
"Apa? Siapa?" teriaknya dalam panggilan itu.
"Mudah sekali lu lupain gue ya? Padahal kita baru saja bertemu sebulan lalu di pusat perbelanjaan.."
"Aldi? Ini Aldi? Kamu ganti kontak?" masih berteriak menjawab panggilan itu.
"Hahaha, masih bertanya. Seenaknya kontak gue diblokir. Telepon-telepon dari gue menggunakan kontak lain pun lu rejeck, sekarang tumben sekali lu ngangkat panggilan gue?
"Kamu, kenapa menghubungiku lagi? Aku kira ini telepon dari mm...." suaranya terdengar lebih jernih, mungkin dia sudah menepi.
"Lu berharap ini panggilan dari orang lain yaa.. Jangan-jangan lu berharap ini panggilan dari si kacamata keparat itu? Jadi benar kalian pacaran?"
"Kita sudah tidak ada urusan! Kamu jangan ganggu aku lagi!"
"Hahahaha, jangan pikir gue bakalan tinggal diam. Sekarang dia sedang bersama gue!"
"Siapa sama kamu? Akel sama kamu? Jangam bohong!"
"Lu kebingungan kehilangan kontak dengan dia kan? Saat ini dia sedang tak sadarkan diri, setelah gue hajar.."
"Bohong!!" teriak Yukita lalu sepertinya panggila ditutup kembali. Motor dinyalakan kembali dan sepertinya dia melajukannya dengan sangat cepat.
Motor terdengar dimatikan kembali, dan "Assalamualaikum..." dia sudah sampai di rumah kah?
"Walaikum salam.. Pacar Akel lagi.. ada apa lagi?" itu suara ibu kost kami. Dia kembali lagi ke kostan.
__ADS_1
"Boleh Yuki bicara lagi dengan Remon Bu?" suaranya terdengar sangat cemas dan ketakutan.