Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Bab 49 Aku selingkuhan mu?


__ADS_3

“Emang kenapa dia?” tanya Akel dingin.


“Yang membuatmu meninggalkanku?” gadis itu menatapku dengan sinis, waduh.. gawat nih? Ku pura-pura melihat ke arah lain. Kenapa aku berada di posisi yang salah? Aaahh.. ternyata keputusanku tadi salah melihat pasangan ini. gara-gara kepo yang Tak terbendung sama kekasih Akel... padahal aku berpikir dia bakalan lembut banget lho sama Ayanknya ini? Kok berbeda dari ekspektasi ku ya? Malah kayaknya perilaku dia lebih baik kepadaku...


“Pergilah!” masih dengan suara dingin khas pangeran kaca mata dan dia terus menatapku, membuatku jadi tidak enak. Mungkin dia tak mau aku melihat mereka begini. Ku coba membalikkan tubuh hendak meninggalkan mereka.


“Yukita, bukan kamu yang pergi.” Ku hentikan langkah tak berani menoleh ke belakang dan mematung. “Yang harus pergi itu elu Pon!”


“Oh, dia... ternyata memang dia? Baiklah, aku pergi. Tapi ini tak akan sampai di sini saja.”

__ADS_1


Kenapa aku malah diikutkan pada masalah ini? Ucapan gadis itu membuatku takut, kulihat kepergian gadis itu. Aku pikir dia akan naik Jazz Hitam tadi dan meninggalkan Akel pacarnya, ternyata berbeda dengan yang kubayangkan. Dia tidak naik mobil itu, berbelok terus menuju gerbang depan.


Akel meninggalkanku yang mematung hendak masuk ke ruang pertemuan, ku kejar “Kamu bertengkar dengannya? Kenapa aku dibawa-bawa segala? Apa dia mengira aku ini selingkuhanmu?”


Dia berhenti, “ge-er banget?”


Mendengar itu hatiku menjadi lega. Untung bukan karena itu “Lalu kenapa kalian bertengkar?”


“Kenapa kalian bertengkar?” masih kepo mode on.

__ADS_1


“Padahal aku pikir masih menangis," masih jurus mengalihkan...


“Jawab donk? Kenapa kalian bertengkar?”


“Lalu kenapa? Kamu mau nangis lagi?”


“Ya sudah lah...” uuh, apa-apaan dia? Bikin malu saja? Lalu kupercepat langkah meninggalkan dia. Mending aku melihat Mili menampilkan bakatnya di Festival Apresiasi Seni yang diadakan SSFDR. Mili membacakan puisinya dengan menakjubkan. Semua yang mengikuti acara terhanyut memberi tepukan tangan yang meriah. Di akhir acara, Mili mendapatkan voucher belanja.


Sekarang sudah hari ketiga kami berada di Bandung, lusa akan melanjutkan perjalanan ke Semarang. Tentu saja, Mili harus segera menggunakan voucher belanja yang diberikan SSFDR, dan Mili mengajak kami berbelanja di salah satu mall di sini. Mili mengajak aku dan Anggi, katanya aku boleh milih apa saja yang kami suka, hemmm tidak enak juga rasanya. Mili meyakinkan kami bahwa voucher itu juga harus segera digunakan hingga habis, dari pada tidak bisa dimanfaatkan hingga perjalanan berikutnya. Untung saja Dery, salah satu mahasiswa asal kota Bukittinggi mau mengantarkan kami ke tempat yang tertera di voucher.

__ADS_1


Aku memilih benda yang sama dengan Mili, yaitu... sepatu lukis. Rencananya kami ingin sesuatu yang sama. Aku memilih warna orange, dan Milli sang gadis merah jambu pasti memilih warna pink kesukaannya. Sementara Anggi memilih topi cupluk sebagai benda yang diinginkannya. Sesuatu yang paling nikmat ialah… dapat traktiran dari sang tuan rumah.


Perempuan dan belanja memang tak kan pernah terlepas. Mungkin itu sedikit jadi obat bagi hatiku yang terluka. Memang, seharusnya sejak awal aku tak pernah berharap apa-apa. Tapi itu lah cinta, membuat mangsanya selalu menghayalkan hal yang mungkin bisa dibilang mustahil. Sepertinya ini mampu membuatku teralih dan sepulangnya secara refleks terbaring di atas tempat tidur.


__ADS_2