
Aku lihat sepasang mahasiswa yang baru datang ingin menikmati bakso di tempat ini juga. Seorang cewe, mencolek pipi pacarku yang sedang mengunyah baksonya. Dengan mata membulat, mulut masih penuh dengan bakso, menatap perempuan berkerudung yang baru saja mencoleknya itu.
Yukita melihatku, seolah bertanya siapa mereka berdua. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Aku tidak terlalu mengenal banyak orang di kota ini.
"Iiiih, sombong banget kamu ah!" ucap yang lelaki.
"Iya, masa aku dicuekin begitu saja?" tambah yang perempuan.
"Maaf, apa kalian pernah mendengar Yukita mengalami kecelakaan baru-baru ini?"
"Apa? Yuki kecelakaan? Kapan?" ucap si cowok dengan nada khawatir.
"Sekitar tiga minggu yang lalu."
"Waaah, Kami berdua tidak mendapat informasi." Yang lelaki meminta tempat kepada si perempuan agar sedikit bergeser.
Duduk berjongkok menatap wajah Yukita, "Kamu tidak apa Ki? Kenapa tidak mengabari aku?" tanyanya. Sepertinya hubungan lelaki ini cukup dekat dengan Yukita. Siapa dia?
Sementara si cewek yang belum paham situasi serius yang terjadi, masih asik menikmati bakso yang ada di hadapannya. Dia hanya melihat orang itu, tetapi sendok demi sendok tetap masuk ke mulutnya.
"Abang siapa?" akhirnya dia bertanya. Terlihat si cewek terkekeh menahan tawa di belakang si cowok.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda Ki. Tiga tahun kita sekelas waktu SMA, masih kamu candain kayak gini. Sombong amat!" ucap yang cowok.
"Hmm, maaf saya ikut campur lagi. Yukita sebenarnya ada gangguan di ingatannya semenjak kecelakaan itu."
"Apa? Maksudnya?" dia terlihat sangat terkejut.
"Dia mengalami gegar otak."
"Astaghfirulah..." ucap lelaki dan perempuan itu bersamaan.
"Maaf Kawan, kalau boleh tau Kawan ini siapanya Yuki?" tanya yang pria.
"Saya pacarnya Yukita. Akel." ucapku mengulurkan tangan menyalami dia.
"Iya, biasanya dia selalu cerita kalau ada info atau cerita-cerita baru." tambah si perempuan.
"Saya Ody, teman sekelah Yukita semenjak kelas satu hingga kelas tiga SMA. Kami dulu sangat dekat."
"Dekat?"
"Jangan khawatir! Kedekatan kami dulu bisa dibilang seperti sahabat. Dia udah kayak adik dapat gede buat saya. Jadi apa pun tentang dia, saya sudah hapal. Tapi mengetahui dia gegar otak seperti ini, benar-benar membuat saya terkejut. Tidak ada yang mengabarkan kami atas kejadian kecelakaan itu."
__ADS_1
"Iya, bagaimana lagi. Sudah takdir. Kita hanya bisa menjalaninya." ucapku lirih melihat Yukita seolah tidak peduli dengan obrolan kami.
"Jadi, sejak kapan kalian pacaran? Kenapa Yukita tidak pernah cerita ya?"
"Kapan ya, kira-kira awal semester baru ini. Mungkin belum ada kesempatan saja. Ditambah masalah ini juga membuatnya menjadi kacau." jelasku.
"Yuki, asik aja makannya. Gak ajak-ajak Ody makan. Bagi lah baksonya!" candanya.
"Gak mau! Beli sendiri, wek ...!" akhirnya gadis itu menautkan kedua alisnya.
"Iiihh, pelitnya kok gak ilang ya? Ingatan aja yang lupa!"
"Aa, dia mau ambil bakso Yuki? Suruh dia beli sendiri? Punya Yuki tinggal sedikit." rungutnya mengadu padaku. Tampak Ody dan pacarnya terkekeh melihat aksi imut temannya ini.
"Dia ini seperti anak berusia sepuluh tahun. Jadi, ingatan yang dia miliki hanya sebatas waktu dia berusia sepuluh tahun. Jadi harap maklum, dia terlihat kekanakan seperti ini." jelasku.
"Aduh Yuki, aku iri padamu!" ucap pacar Ody.
"Kenapa iri Yang? Seharusnya kasihan Yang." ucap Ody.
"Lihat tu, dia benar-benar imut bertingkah seperti itu. Dia bahkan tampak lebih muda dari usia seharusnya." jelas pacar Ody.
__ADS_1
Refleks mataku memperhatikan wajahnya yang polos. Wajah yang dulu sempat aku benci. Waktu aku mengetahui dia telah membohongiku mentah-mentah. Namun, kali ini, wajah itu juga yang selalu mengisi hari-hariku dengan tingkah konyolnya. Bahkan aku tak ingin, jika ingatannya kembali. Aku lebih menyukai dia yang seperti ini. Dimana hanya aku yang dia ingat sebagai pengisi hatinya.
*bersambung*