Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 14


__ADS_3

Sampai di kosan, langsung tampak Vina dan dia langsung melonjak girang.


“Akhirnya Kak Akel balik.” Aku hanya memberi kode padanya, ingin masuk kamar.


Dia memberi jalan dan aku tidak keluar hingga esok pagi. Hingga berjumpa lagi di kampus, ingin menanyakan langsung, tapi dia masih sibuk dengan teman-temannya.


Hari ini bukankah hari libur? Sepertinya hari ini jadwal Yukita jaga pagi, aku hampiri ah.


Sekedar nanyain nomor hape saja. Nanti akan coba jelaskan lewat telepon atau pesan saja. Ternyata memang Benar dugaanku, tempat dia kerja jaga sudah buka. Tapi dia tak terlihat, dari dalam terdengar ada sedikit kegaduhan, tapi tidak begitu jelas.


“Permisi… permisi…” tiba-tiba hening dan Yukita keluar dengan tergesa.


“Eh… kamu kok pucat?” Dia mencari air dan minum. Keluarlah seseorang yang berjalan mengikutinya, yaitu pacarnya. Deg, sakit serasa ada tusukan di jantung.


“Oh, dia lagi? Jangan-jangan dia?” berkata dengan nada dingin.


“Oow… lagi asyik pacaran?” mungkin hari ini kurang tepat. Lebih baik kupergi.


“A..A…Akel…” sepertinya ada hal yang tak beres, dia tampak gemetaran. Apa yang dilakukan si brengsek itu pada Yukita? Langsung kukejar dan menarik kerahnya.


“Eh… lu apain Yukita?”


“Apa urusan lu?” mengibaskan tangannya melepaskan genggaman eratku di kerah bajunya.


“Udah-udah… dia nggak ngapa-ngapain kok… Di… lebih baik kamu pergi!!! Kita PUTUS…” putus? Benarkah? Akhirnya...


“Jadi benar? Karena dia lu mutusin gue?”


“Bukan Di… jangan cari kambing hitam lagi!!! Aku ingin putus karena keinginanku sendiri… kita nggak cocok Di… cinta tak bisa dipaksakan…” laki-laki itu melotot pada Yukitaku?


Rasanya inginku pukul wajahnya sekerasnya. Jangan melihat dia seperti itu!


“Oke… kita PUTUS” dan dia pergi meninggalkan kami. Aku takut dia bisa saja kembali kapan pun, bisa berbuat nekat pada gadis yang kucinta ini.


“Kel… terimakasih ya?”


“Kenapa terimakasih? Aku tak melakukan apa-apa”


“Tapi kedatanganmu secara tak langsung telah menyelamatkan aku”


Kuberikan waktu untuknya agar bisa lebih tenang. Entah apa yang terjadi barusan. Untung saja datang tepat waktu, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.


Seharusnya aku yang ada di sampingmu Yukita. Kulihat dia sedang menyembunyikan wajah dalam pangkuan tangan di meja.


Aku ingin, jadi seorang yang bisa melindungimu kapan pun dan dimana pun, izinkanlah aku menjadi seseorang yang selalu ada itu Yukita?


Agar aku bisa merasa tenang saat yakin kamu selalu aman. Atau sebaiknya dia berhenti saja? Agar Aldi brengsek tadi tak bisa lagi megganggunya?


Cukup lama kulihat dia hening, akhirnya dia mengangkat wajahnya.


“Maaf ya… membuatmu menunggu terlalu lama???”


“Apa udah baikan?”


Senyuman dipaksakan, “Mau apa nih? mau isi pulsa, beli voucher, beli cassing hape, beli softcase, tambah aplikasi atau jual hape?”


“Nggak ada”


“Lho??? Terus mau ngapain nih?”


“Mending kamu berhenti!!!”


“Berhenti?”


“Iya, berhenti!”


“Jadi kamu mau ke sini Cuma buat menyuruhku berhenti?”


“Daripada dia datang lagi dan macem-macem?”


“Benar juga sih… tapi aku…”


“Takut nggak bisa ikut study Banding itu?” dia mengangguk “jadi study itu lebih penting dari keselamatanmu?”


“Kamu datang ke sini hanya untuk ini? kamu inget nggak sih? Dulu… kamu itu yang memberiku informasi kita akan ikut study banding. Sekarang setelah tinggal sedikit lagi, kamu ingin menghancurkan mimpi aku karena menyuruhku berhenti?”


Apa? Aku? Mimpi? Katakanlah apa mimpimu? Biar aku bantu untuk mewujudkannya.

__ADS_1


“Kenapa kamu begitu menginginkan pergi ke Bandung?”


“Ya… untuk study banding lah…???”


“Bohong”


“Kenapa kamu bilang aku bohong?”


“Karena tak mungkin hanya untuk ikut study itu kamu bisa begitu gigihnya menuju Bandung?” katakan saja sedikit nama Harry! Aku akan langsung mengatakannya padamu, aku adalah Harry itu.


“Aku memang memiliki alasan lain untuk ke sana. Tapi…kamu tak perlu tahu apa alasan yang sebenarnya!”


“Kenapa?” semua tentangmu adalah urusanku Yukita. Katakan saja!


“Karena ini urusanku… jangan tanya-tanya terus!!!”


“Lalu biarin kamu kayak gini terus?"


“Ya… terserah aku lah? Kenapa kamu yang sewot sih?”


“Maaf… ini memang bukan urusanku.” Kenapa kamu tak mau mengatakannya? Biarkan aku tahu sedikit saja.


“Emang”


“Tadi… rencananya aku mau menanyakan nomer hapemu yang baru. Karena setiap mencoba menghubungi mu, nomermu tak pernah aktif. Karena setiap liburan kamu kerja dari pagi, makanya aku langsung ke sini. Ku lihat kios ini sudah buka, tapi kamunya tak ada. Makanya aku panggilin….”


“Sini hape mu!”


“Buat apa?”


“Sini!!!” kasih nggak ya? Nanti kalau dia lihat galeri foto gimana?


“Tenang!!! Aku nggak niat merusakkannya kok” meski agak waswas tetap kuserahkan.


Apa yang dia lakukan?


“Kok nggak ada namaku sih? Jangan-jangan kamu beri nama yang nggak-nggak lagi?”


Oh, gawat.. langsung kurebut hape tersebut “Makanya… jadi orang tu jangan sok tahu! Sebutin aja nomernya!”


Dia sebutkan, dan aku ganti nomor tersebut pada kontak ‘Ayank’ dia mencoba mengintip.


“Mau tahu aja” terlihat dia sedikit kesal, dan melihat jam tangannya.


Oh, mungkin ini udah waktu makan siang,


“Eh… aku mau beli makan siang ni, mau nitip?”


“Iya…iya… aku mau nitip” dia langsung menyerahkan selembar uang. Wah, biasanya cewek minta dibayarin terus bukannya?


“Nanti aja! Mau makan apa?”


“Kalau aku cukup lotek warung sebrang jalan saja, jangan lupa air mineral juga. Karena persediaan airku telah habis.”


“Oke” harus cepat nih. Aku masih khawatir, nanti pria tadi ke sana lagi. Sampai-sampai ternyata dia tengah melamun lagi.


“Hey, bengong lagi?”


“Eh… ehmmm”


“Lama nunggunya?” kuserahkan makanan pesanannya tadi “lupakan saja masalah yang tadi!”


“Eh… nggak juga, kamu cepet kok. Hemmm… mudah-mudahan bisa ku lupakan. Makasih ya…”


Kembali dia tersenyum, manissss pake banget, waduh..gulaku tiba-tiba berasa naik diambang batas normal “makan bareng yuk!?”



“Di sini?”


“Ya iya lah…? Masa di tengah jalan sana? Gimana?”


“Emang boleh?”


“Tentu saja boleh… aku malas makan sendirian. Tapi… kalau ada temen kos yang nitip sama kamu… ya gimana lagi?” kembali dia menyerahkan uang yang tadi.


“Nanti aja! Kalau gitu aku makan di sini saja” malah aku senang, bisa menemaninya di sini.

__ADS_1


Ini adalah keinginanku dari dulu, berdua saja dengannya, tanpa ada yang lain mengganggu.


Saat makan dia terlihat hanya memainkan makanan yang kubelikan tadi.


“Eh, abisin donk!”


“Nggak berselera, mungkin karena kurang pedes.”


“Kurang pedes? Masa sih?”


“Menurutku kurang pedes”


“Tadi aku minta ‘super pedes.’ Ku lihat yang jual masukin cabe rawitnya banyak.”


“Kalau nggak percaya, coba aja!!!”


Masa iya nggak pedes, padahal udah pesen pedes banget karena aku tahu dia doyan yang pedas. Lalu kucicipi sedikit, ternyataaaa....


“Pedes pisan ini mah? Kok kayak gini dibilang nggak pedes?”


air..mana air?? Kuperhatikan dia merenung memperhatikanku.


“Pedes tahu?”


“Masa ginian kamu bilang pedas? Ku coba punya mu ya?” tentu saja, buatmu semuanya juga boleh..


“Manis banget? yang kayak gini, kamu suka ya Kel?” kembali kunikmati makanan milikku ini.


“Emang kamu asli mana sih? Doyan yang manis gitu?”


“Buruan makan! Kalau nggak habis, nanti ku minta ganti tiga kali lipat”


“Hey… aku nanya kampungmu di mana? Jawab donk!”


“Nggak usah nanya-nanya! Makan saja sana!”


Sedang enak makan berdua dengan yang tercinta malah datang lagi pengganggu.


“Haai”


“Helow… Kita…”


“Helow… Helow…”


“Siapa tuh?” bisik salah satu yang datang mungkin temannya pada Yukita ketika melihatku makhluk aneh makan lotek.


“Temen”


“Temen apa demen?” lalu meledak tawa mereka berdua.


Demen banget malah, ayo semua “Mari makan…”


“Lanjut aja!” kata salah satunya. Aku tanyakan siapa mereka pada Yukita.


“Kel… sini!!!” terpaksa gabung dengan gadis-gadis itu.


“Kenalkan… ini temen-temen deketku. Yang ini namanya Feli dan yang ini namanya Chesi”


Ooh, ini teman-teman yang diceritakannya dulu.


“Akel”


“Eh… kami ganggu kalian ya?” goda yang nama Chesi terkekeh.


“Eh… apaan sih kalian?” Yukita sedikit malu-malu. Tapi syukurlah teman-teman dekatnya sudah datang.


“Oh… enggak kok. Ya udah… temen-temennya Yukita udah dateng, kalau gitu aku balik dulu ya”


“Eh… tunggu dulu!” dia berlari kecil menuju tasnya “tadi berapa?” kembali menyerahkan uang.


“Nggak usah! Simpen aja uangnya! Maaf. Membuat kiosnya jadi berantakan.”


“Ayo ambil!!!”


“Nggak usah.! Feli, Chesi… aku balik dulu ya?” tolong jagain dia ya batinku.


“Kok buru-buru banget?” goda yang nama Feli.

__ADS_1


“Enggak… ini udah dari tadi. Kalau gitu, udah dulu ya.”


Semoga Aldi ngga datang ke sini lagi.


__ADS_2