
Kenapa dia harus menyinggung nama Yukita. Mau kecelakaan bagaimana pun, aku akan tetap ada untuk dia. Tidak peduli dia cacat sekalipun.. Aku tak akan bisa melepaskan perjuangan ini. Sengaja ke sini memang untuk dia, bukan untuk siapa-siapa lagi.. Hanya untuk bersama dengannya. Meski saat ini dia sendiri benar-benar Melupakan semuanya.
Entah kenapa orang yang tidak kuingat namanya ini membuatku kesal. Daripada aku marah gara-gara kesal, akhirnya aku memilih untuk pergi. Meninggalkan dia yang tercengang melihat tingkah laku ku yang mereka bilang menyebalkan. Salah sendiri, ikut-ikutan aja sama urusan orang lain.
Lalu selanjutnya yang aku tuju adalah perpustakaan pusat, dimana itu merupakan pusat perpustakaan dari kampus ini. Kemudian kucari bagian hukum dan kasus pidana tindakan tidak menyenangkan dan tabrak lari. Aku catat hal-hal penting itu di blocknotes agar nanti aku bisa mengulangnya kembali. Sepertinya aku sudah memikirkan tentang cita-cita kedepannya ingin menjadi apa, seperti nya menjadi jaksa penuntut umum itu sangat menarik.
Waktu istirahat siang sudah masuk, dan kucari warung untuk makan terlebih dahulu. Tampak Mili bersama kawannya yang lain. Ternyat Mili juga melihat ke arahku, dan berjalan ke arah tempatku makan.
"Bagaimana keadaan Yuki saat ini Kel?"
Aku bingung harus berkata apa, apa harus ku katakan bahwa Yukita mengalami gegar otak? Bagaimana dengan kuliahnya nanti? Apakah akan terhenti? Dan pertanyaan Mili hanya bisa kujawab dengan sebuah gelengan.
"Apa dia sudah sadar ?"
Aku hanya bisa menghela nafas, entah kenapa rasa lapar tiba-tiba menjadi hilang. Mengingat dia yang telah sadar, namun seperti tak sadar.
"Dia sudah bangun, sudah duduk, sudah bicara... Tetapi ada satu hal yang tidak bisa kujelaskan, mungkin sebaiknya kamu melihat kondisinya sendiri ke rumah sakit.."
Mili mengangguk, dan mengatakan akan segera membezuk dia saat jadwal agak sedikit longgar. Memang benar, sebenarnya jadwal semakin padat. Namun terpaksa aku meninggalkan beberapa kegiatan observasi lapangan karena harus menjaga Yukita. Kira-kira bisa dapat nilai bagus ngga ya, untuk mata kuliah itu?
Usai makan, maktu Zuhur masuk dan langsung kutuju mushola fakultas, bermunajat agar sang pemilik hati segera disembuhkan oleh sang pemilik nyawa.
Kuliah kulewati dengan perasaan sepi, tidak ada lagi objek indah yang selalu kulirik setiap ada kesempatan. Tidak ada lagi kicauannya di kelas yang biasa terdengar merdu di telingaku. Sampai kapan ini harus kurasakan? Bisa kah dia tetap aku ajak ke kampus meski dia terjebak dalam pikiran anak-anak nya? Aku sempat melirik Anggi, tampak wajahnya yang penuh tanda tanya terus melihat ke arahku. Sepertinya aku tahu, apa yang tengah dipikirkannya, dia pasti sangat terkejut mendapati Yukita tidak mengenalinya. Dia saja terkejut, apa lagi aku sebagai kekasihnya.
__ADS_1
Seperti kemarin, kuliah usai menjelang magrib. Dan seperti biasa juga kubersihkan diri dan bersiap dengan tugas ku sebagai calon suami.. 🤔 hmmm.. setelah dipikir kan kembali kapan ya bisa nikahi dia?
Aku periksa gaway yang sudah cukup lama tidak kutengok. Karena tidak ada yang bisa kutelepon, membuatku lupa pada benda yang sangat penting ini. Dan ternyata telah masuk pesan dari Stevan, hasil pengolahan data yang tidak terpikirkan oleh makhluk awam seperti ku. Dengan seksama ku dengar kan hasil rekaman tersebut.
Setting an waktunya mungkin dimulai di pagi hari. Terdengar suara isakan Yukita yang menangis entah kenapa.
Terdengar suara telepon tersambung, lalu dijawab oleh operator. Mungkin dia tengah mencoba menelepon ku, waktu itu aku sedang menginap di rumah Dirga sejak semalam sampai di Bandung.
"Harry...kamu kemana? Kamu marah padaku? Maaf kan aku yang tidak percaya sama kamu.. Seharusnya aku lebih mendengar apa yang kamu katakan, aku hanya gadis bodoh yang selalu mengikuti kata hati. Harusnya aku memberikan kesempatan padamu untuk menceritakan kan apa yang terjadi antara kamu dan Anggi... huhuhu... apa kamu pergi gara-gara itu? huhuh..."
Dia menangis, jadi itu yang dipikirkannya? Lalu tidak terdengar lagi sesuatu penting dalam kurun waktu dua jam. Terdengar suara percakapan dengan teman-teman di kampus. Berarti dia sudah berada di kampus.
"Mana pangeran berkacamata nya Yuki?" itu seperti suara Mili.
Mengapa dia berpikir aku marah? Memang benar sih, aku cemburu melihat dia lebih mementingkan Anggi, tapi aku tidak sepicik itu. Aku tahu Yukita hanya mencintai ku. Tapi entah kenapa rasa cemburu itu tidak bisa kubuang.
Tak lama terdengar suara dosen yang tengah memberikan kuliah.. Tiba-tiba aku tersadar, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. aah karena keasyikan mendengar rekaman dari black box nya ponsel Yukita, aku jadi lupa waktu.
Aku masukkan beberapa buku dan laptop, untuk dikerjakan sembari menemani Yukita di rumah sakit. Tugas esok tak main-main banyaknya, malah keasyikan mendengar rekaman suara Yukita. Dengan kecepatan bukan main, kulajukan motor menuju rumah sakit tempat Yukita dirawat. Dan orang tuanya masih di sana. Dengan segera aku minta maaf datang terlambat dari seharusnya.
"Kenapa Nak Akel malah minta maaf? Seharusnya kami yang minta maaf karena sudah merepotkan kamu terus..." ucap ayahnya
"Aku tidak merasa repot kok Pak, aku senang bisa gantian untuk berjaga." karena dengan itu aku merasa dibutuhkan, diingat dan dipercaya.
__ADS_1
"Kalau Nak Akel ada banyak tugas, boleh pulang aja kok," sambil melirik ransel yang tengah tersandang di punggung ku.
"Tidak apa Pak.. Bisa sambil kerjakan tugas kok nantinya."
"Kamu yang sabar ya, Yukita kembali jadi anak nakal. Di usia sepuluh tahun itu dia membuat kami semua sakit kepala akan tingkah lakunya..."
Anak nakal? Aku hanya bisa menahan senyuman membayangkan bagaimana nakalnya aku di masa kecil, hingga orang tuaku selalu dipanggil ke sekolah akibat ulahku yang selalu dibilang mengganggu. Biarlah masa kanak-kanaknya nakal, tapi kalau udah dewasa nakanlnya tinggal sedikit saja.
Lalu kedua orang tua Yukita pamit dan tinggal aku sendiri. Aku masuk ke ruang rawat Yukita, tampak matanya berkaca-kaca sangat jenaka.
"Aa'...." sapanya ceria. "Kok Aa yang jaga? Kenapa bukan Ayah atau Ibu?"
"Jadi kamu nggak mau nih aku yang nemenin?" lalu kukeluar kan laptop dan buku-buku materi perkuliahan. Matanya terbelalak senang dan penasaran dengan benda elektronik yang kubawa ini.
"Itu apa A?" tanya nya dengan polos. Aku lirik dia tampak membolak-balik laptop yang kubawa tadi, masih dalam keadaan tertutup. "Berat..." celetuknya lalu hampir saja dilempar nya benda itu, langsung ku tangkap dengan selamat.
"Aduh sayaaaang... ini jangan dilempar atuh.. kalau dilempar ini bisa rusak.. Aku bekerja pakai ini," ucapku gemas mencubit hidungnya.
Setelah itu kubuka benda itu dan menekan tombol nyala. Kembali kuperhatikan ekspresi nya, dengan wajah kepo melihat segala tindakan yang kuperbuat. Wajahnya sangat penasaran ingin mencoba hal yang sama dengan yang aku lakukan.
"Tunggu ya sayang.. Aku bikin tugas dulu.. Nanti kita main game pakai ini..."
Dia mengangguk, mencoba menungguku. Namun sepertinya dia tidak sabar dengan keingin tahuannya.. Dia ikut menekan semua tombol yang terdapat di keyboard laptop ini. Arrgghht... pekerjaan yang kubuat malah ikutan terhapus tanpa sempat aku menyimpan nya.. Aku hanya bisa lesu melihat wajahnya sumringah terus menekan semua tombol yang ada, dan akhirnya laptop ku hang..
__ADS_1
😖😩