Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 48 Menjaganya


__ADS_3

Wajah polos itu mengangguk, "Aa malam ini bobok sini? Temani Yuki lagi kayak tadi malam?"


Ayah Ibunya seketika melirikku dengan tajam...


Tatapan kedua orang tuanya hanya bisa kubalas dengan senyuman kikuk. Tidak mungkin aku menginap di sini bukan. Nanti digrebek sama warga dipaksa nikah karena jalur grebekan itu rasanya nggak elite banget ya. Aku maunya nikah dengan jalur yang lurus-lurus aja meski itu sederhana, sebagai bukti bahwa aku benar-benar sangat mencintai nya.


Aku pandang lagi gadis yang pikirannya kembali seperti anak kecil ini. Wajahnya yang tak henti menyemburkan senyuman jenaka. Sejak dia sadar beberapa waktu lalu, aku baru sadar senyuman ini persis senyuman anak kecil. Kenapa dulu selalu ku kira itu senyuman manis?


"Bobo sini ya A'..." sambil menggoyangkan lenganku. Kembali kulirik kedua orangtuanya tengah terbelalak melihat tingkah Yukita yang lagi polos dan tidak malu-malu ini. Padahal setahuku, gadis ini sangat pemalu.


"Tidak boleh ya Yukita.." padahal sebenarnya lebih pengen pakai kata ganti sayang, hanya saja orang tuanya tengah berada di depan hidung, aku menjadi sungkan jika berkata demikian. Apalagi kami ini statusnya hanya pacaran, bukan suami isteri.


"Kenapa? tadi malam Aa temani Yuki di rumah sakit. Kenapa di sini tidak boleh? Kan sama-sama di rumah, tempat bobo.."


Berusaha ku tahan tawa ini, takutnya malah orang tuanya menyangka aku sebagai orang aneh yang menyukai anak kecil. Meski sebenarnya kita tahu dia ini gadis dewasa, tetapi jiwanya benar-benar anak kecil yang sangat polos tanpa dibuat-buat.


"Mengapa kamu ingin Aa nginap di sini?"


Lalu dia tampak berpikir, keluar lagi senyuman jenaka itu di wajahnya. "Aku lihat Aa ganteng banget saat bobo. Aku pengen lihat Aa gak pakai itu..." menunjuk benda yang ada di wajahku. Aku coba menerka yang dimaksu mungkin adalah kacamata ini.


Aku lepas kacamata yang dia maksudkan, "Kata kamu lebih suka lihat Aa tidak pakai ini?"


Dia mengangguk senang. Padahal tadi Anggi bilang tampang ku makin mengesalkan apabila tidak menggunakan kacamata.


"Kalau kamu suka lihat Aa nggak pakai kacamata, kamu tinggal ngomong aja kok. Tidak perlu Aa sampai nginap di sini kan. Nanti apa kata orang-orang."


Aku kembali meli rik orangtuanya, sepertinya orang tuanya akan memberikan kami ruang untuk ngobrol berdua untuk sesaat. Sebenarnya cukup sungkan juga ngomong aneh-aneh di dalam rumahnya. CCTV di rumah ini aktif 24 jam. Maksudnya orang tuanya yang juga ikut nimbrung. Maklum sih, ini si bungsu mereka yang kembali jadi anak kecil, tentu pengawasannya pun seperti mengawasi anak kecil.


"Tapi Aa tidak bisa melihat kamu dengan jelas kalau Aa' tidak pakai kacamata, sayang..." karena orangtuanya sudah tidak mengawasi, bisa lah kata 'sayang' kuucap, meski sedikit berbisik. Aku merasa lebih nyaman memanggilnya sayang dari pada namanya.

__ADS_1


"Ooohh gitu..." kupasang kembali kacamata ini dan melihat lagi senyumnya yang kali ini lebih terlihat jahil. "Yuki mau ajak Aa main bareng. Kayaknya seru banget main berdua.."


Hmmm... ternyata karena itu dia menungguku. Padahal udah sempat ge er dikirain dianya kangen aku juga. Ternyata dia mau ngajak main game. Kok kecewa ya? Apa yang aku pikirkan tentang anak sepuluh tahun ini?


"Kamu dah mulai bosan belum di rumah Mulu?"


Lalu tampak dia berpikir kembali. Ternyata dia malah menggelengkan kepalanya. Padahal bila seandainya dia bilang bosan, aku ingin sekali mengajaknya jalan-jalan.


"Ooh.. kalau nggak bosan ya udah... kita mainnya di rumah aja..


Barusan aku memikirkan apa ya? Padahal berjalan dengan baik pun dia belum bisa. Nanti kalau dibawa jalan malah membuatnya kesusahan.


"Aa'.. Yuki kangen sekolah.. tapi tadi cari baju sekolah ternyata udah tidak muat. Padahal kemarin masih muat.."


Hmmm.. baju sekolah? Baju sekolah mana yang dikatakannya tidak muat? Ooh.. mungkin baju sekolah masa sekolah dasarnya kali ya?


Kembali matanya membulat dan menganggukan kepala. Apakah beneran paham, atau malah makin bingung.


"Kamu mau sekolah bareng Aa nggak?"


Kembali wajahnya terkejut, dengan ekspresi yang sangat lucu. "Jadi Aa masih sekolah? Sekolah di tempatku? Udah kelas berapa? Berapa kali tinggal kelas?"


Lagi-lagi aku sulit menahan gelitikan dari perut, lucu sekali. Entah kejutan apa lagi nanti yang akan dia berikan kalau seandainya beneran aku ajak kuliah lagi. Tapi kalau dia begini, bisa membuatku muda juga nggak ya?


"Aa' bukannya sering tinggal kelas. Tapi kamu nya yang tiba-tiba udah gede lhooo.. Kamu inget nggak, kemarin Aa ajak bertemu doraemon? Kita datang ke masa depan, setelah itu kamu langsung jadi sebesar ini..."


Lalu dia mencoba untuk berdiri, aku bantu memapahnya.. Dia berjalan menggunakan dua buah tongkat kiri dan kananmenuju sebuah pojok di ruangan ini. Ada sebuah cermin yang cukup panjang di sana. Dia memandangi dirinya lewat cermin itu. Di cermin itu juga tampak dia mengukur beda tingginya denganku.


"Waaah.. benar A.. aku sekarang sudah besar..." mata dan mulutnya membulat, "Pantas saja baju merah putihnya tidak muat lagi.."

__ADS_1


Aku hanya bisa menahan senyuman melihat ekspresinya itu. Kejadian ini sunggu sangat ajaib menurutku. Dulu aku berpikir gegar otak hanya sebuah bumbu di dalam sinetron. Namun sekarang aku merasakannya sendiri. Melihat orang yang kusayang ini melupakan semua yang telah kami lewati bersama.


"Kamu mau ikut sekolah bareng Aa? Kita tidak pakai seragam merah putih lagi kok.."


Dia mengangguk, "Iya.. Yuki mau ikut sekolah yang tidak pakai seragam itu."


Pasti akan banyak sekali kejutan yang akan dibuat olehnya. Membayangkan nya saja perasaan ini sudah bercampur aduk. Nanti biar aku bantu kalau ada materi yang tidak dipahaminya.


"Yuki... Nak Akel..." ternyata ibunya telah berada di belakang kami. Lalu kami memutarkan tubuh kami segera menghadap ke arah Ibunya berbicara.


"Udah waktunya magrib, ayo sholat dulu. Habis itu kita makan malam bersama-sama.."


Oh.. waktu tak terasa telah masuk malam saja. Aku segera menuju kamar mandi untuk berwudhu, mengikuti sholat magrib berjamaah yang diimami oleh ayahnya. Setelah itu kami semua makan bersama, ini kali pertama bagiku makan bersama keluarganya. Kebetulan Kakaknya belum pulang dari kerja. Karena tadi kakaknya bekerja siang, mungkin pulangnya agak malam.


"Ibu, bapak.. nanti kalau keadaan Yukita udah baik, boleh atau tidak kuajak masuk kuliah lagi?"


Ibu dan ayah nya menatap dengan sedikit kerutan di kening. Mungkin merasa itu sesuatu yang tidak mungkin.


"Apa dia bisa kuliah di usia sepuluh tahun?" tanya ayahnya dengan berat.


"Kita coba dulu pak, biasanya anak-anak kan biasanya daya tangkapnya malah lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Jadi siapa tahu, mungkin bisa membantu dia mengingat beberapa hal saat telah memasuki area kampus."


Lalu ibu dan ayahnya berbincang berdua, mengenai masalah yang baru saja aku angkat. Akhirnya mereka menyetujui, dan menyerahkan semua itu kepadaku.


"Ibu, bapak , jangan terlalu khawatir... aku akan menjaganya sebaik mungkin. Nanti masalah kuliah, sebisanya akan aku bantu juga. Agar kami tetap bisa lulus bersama.."


"Nak Akel, setelah kami diskusikan kembali, Kami percaya kan Yuki pada kamu ya? Namun jika nanti kamu merasa tidak sanggup menjaganya lagi, kita ajukan cuti saja pada Yuki.."


"Baik lah Pak.. serahkan saja semuanya padaku. Aku akan menjaganya sebaik mungkin..."

__ADS_1


__ADS_2