
Akel mengeluarkan handphondnya, membuka kontak hapenya dan memperlihatkan padaku. “Kamu mau tahu ini siapa?” menunjukkan kontak bernama ‘ayank’ aku masih mencerna ucapannya dalam diam. Dia menekan tombol telephone, tak lama ternyata hapeku yang berbunyi.
Otak terus merangkai puzle-puzle yang sepertinya mulai tersusun, “Ini maksudnya apa?” aku heran dan marah “Kel! Jelaskan padaku!”
“Jangan panggil aku Akel! Pangil aku Hary! Aku lah yang kamu cari hingga ke sini.” Menatapku semakin dalam, memegang kedua pundakku.
Klik, puzle itu telah tersusun, meski dengan kejutan yang membuatku cukup shock, meronta dan menolak kedua tangannya yang menyangga di kedua pundakku. Aku sungguh tidak percaya, walau seluruh rangkaian teka-teki itu telah tersusun, namun seluruh badan terbakar karena amarah.
“Jadi? Kamu itu Hary? Hary yang kukenal tiga tahun yang lalu? Kamu Hary yang kucinta itu? Kamu Hary yang ku cari seperti orang gila hingga berputar tak tahu arah? Dan kamu Hary yang tiba-tiba menutup teleponku, kemudian mengajakku berteriak seperti orang gila seperti kemarin?” terus kulangkah kaki mundur tak percaya.
Dia melangkah terus mendekat. “Maafkan aku Yukita. Seharusnya aku mengatakan ini semua saat pertama bertemu denganmu. Tapi sama sekali tak ada celah untuk menceritakan semuanya,” tangannya bergerak hendak menggapaiku namun langsung ku tepis.
Aku tak tahu, apakah harus bahagia? Atau harus marah. Rasanya jantungku baru mendapat pukulan yang sangat keras. Air mata menetes, ku tak ingin dia melihat aku menangis seperti ini dan membelakangi dia “kenapa?” suaraku serak dan berat.
Kembali Akel melangkah ke hadapanku, “Yukita, lihatlah aku! Kenapa kamu menangis?” kembali memegang kedua bahuku dan kembali ku tepis.
“KENAPA KEEEL?? KENAPAAAA?” teriakku, dia membisu. “BAHKAN AKU TAK TAHU HARUS MEMANGGULMU APA SEKARANG? KENAPA KAMU PERLAKUKAN AKU BEGINI KEEEL? KAMU PUAS TELAH MEMPERMAINKAN HATIKU?”
“Yukita! Kamu harus dengarkan aku dulu! Sejak dahulu aku sudah berusaha untuk mengatakannya padamu. Tapi....”
“KENAPA? KAMU PUAS MELIHATKU SEPERTI ORANG GILA INI? MENCARIMU YANG TERNYATA SEJAK DULU SUDAH ADA DI DEKATKU?”
“Yukita, dengarkan penjelasanku dulu?”
“APALAGI? KAMU MAU MENERTAWAKAN AKU?”
“Maafkan aku!”
Sungguh, aku tak tahu lagi. Kenapa aku malah jadi marah? Seharusnya aku bahagia. Orang yang kucinta dalam hati selama ini ternyata selalu berada di sisiku. Tapi, hati tak menerima. Jatuh bangun aku mengumpulkan uang hanya untuk bertemu dengannya yang selama ini tak pernah kuduga. Udah kebingungan setiap ditelpon ke rumahnya dia tidak pernah ada. Seorang diri mencarinya ke kampus, aku sampai salah orang. Jutaan sakit itu tak sanggup kuucapkan. Hanya isakan dan air mata tiada henti mengalir di mataku. Sungguh, aku bingung. Apa yang harus kulakukan. Yang jelas aku tak sanggup melihatnya kali ini. Ku langkahkan kaki berlari meninggalkannya. Yang teringat bagiku kembali ke penginapan dan menenangkan diri.
“Yukita, kamu mau kemana?” dia mengejarku dan menghentikanku, ku tepis dan tetap menuju area jalan menunggu kendaraan untuk kembali. “Yukita, kita belum selesai bicara. Please, kita selesaikan ini sekarang juga!”
Terlihat ada angkutan umum, ku naik angkot yang tidak tahu kemana arahnya itu. “Yukita kamu mau kemana?” teriaknya.
“Mang! Ayo jalan Mang!” pintaku, penumpang lain terheran melihatku.
“Neng, anak muda tadi ngikutin kamu atuh? Kenapa? Baru berantem?” seorang ibu-ibu prihatin padaku. Tampak di belakang Akel mengejar dengan skuternya, mendahului, dan mencegat angkot itu hingga berhenti.
“Mang, maaf ya. Neng yang itu salah naik kendaraan.”
“Oh, gitu.. Neng, mending ikut dia wae.. daripada neng nyasar kemana-mana!” kata supir angkotnya.
“Maaf ya Mang” kuserahkan ongkos, tapi ditolak supir. Katanya masih dekat.
“Yukita, mari kita selesaikan ini!” kembali Akel menarikku hati-hati, kembali kutepis dan meninggalkannya.
“Kamu mau kemana? Salah arahnya!” mendengar itu aku langsung berbalik dan jalan ke arah sebaliknya. Akel mengejar dengan skuter dan mengikutiku di belakang. “Ayo naik! Kalau kamu tak mau bicara tak apa! Biar aku antar pulang!” mendengar itu aku berhenti, menerima helm yang diberinya dan memasangnya asal. Kembali dia turun dan merapikan helmku, menuntunku menuju motornya. Sejenak dia menghela nafas dan menyeka air mataku. Dia naik kembali kendalikan skuter antiknya dan aku duduk di belakang.
__ADS_1
sesi satu selesai... akan dilanjutkan dalam season 2.. diambil cerita dari sudut pandang Harry...
saya sebagai author, hanya ingin menulis.. hanya sekedar menyalurkan hobby.. tiba-tiba tertarik untuk mencari ilustrasi tokoh yang sedikit mirip dengan tokoh dalam cerita ini.
1. Akel/Harry

Nama: Akel Harryendra
Tinggi: 174 cm
Zodiak: Capricorn


2. Yukita

Nama: Yukita Marsya
Tinggi: 163 cm
__ADS_1
Zodiak: Cancer
Hobby: Menghayal


3. Mili

Nama: Milyantika
Tinggi: 160 cm
Zodiak: Gemini
Hobby: Menulis
4. Anggi

Nama: Anggi Oktavian
Tinggi: 185 cm
Zodiak: Libra
Hobby: olah raga
__ADS_1