
Usai menyuapkan dia makan dan memberikan obat, tak lama setelah itu dokter pun datang. Dia tampak kebingungan dengan kehadiran dokter tersebut. Aku memberikan senyuman setulusnya agar dia tetap merasa nyaman berada di antara orang-orang asing ini baginya. Dokter memulai dengan pemeriksaan fisik, menghitung denyut nadi, menghitung suhu tubuh dan baru memulai menghitung berapa daya ingat yang saat ini masih ada di dirinya.
Dokter melirikku, kemudian perawat meminta ku untuk menunggu di luar. Sembari menunggu dokter usai memeriksanya, aku membuka gaway yang kumiliki ini untuk mencoba kembali menghubungi Stevan. Barangkali saja dia sudah menyelesaikan memilah hasil rekaman dari ponsel Yukita saat dia kecelakaan. Kembali nada sambung menunggu panggilan diangkat.
"Hallo Ry..."
"Bagaimana hasilnya Steve?"
"Sebenarnya sudah selesai Ry, tapi kali ini gue sedang di kampus mengurus persiapan buat sidang skripsi. Nanti kalau gue sampai kostan, akan gue hubungi kembali dan langsung gue kirim.."
"OOOh.. baiklah Steve, semoga semua persiapannya lancar, dan sidangnya pun lancar yaaa..."
"Amiiin..."
Akhirnya telepon ditutup, dan ternyata masih belum mendpatkan hasil yang aku harapkan. Dokter masih di dalam meemeriksa kondisi Yukita, lalu kali ini aku coba menghubungi Remon. Kembali menunggu nada sambung hinga panggilan diterima.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh... kawan"
"Walaikum salam warrahmatulahi wabarakatuh.. Mon, udah dapat belum kabar tabrak lari yang dialami Yukita?"
"Nah itu lah kawan, karena kejadiannya sudah malam dan cukup gelap, sehingga sumber informasi tidak bisa menberikan informasi lebih lanjut siapa orang yang melakukannya. Dia hanya mengatakan, pelaku menggunakan mobil mini yang muat empat orang itu lho.. katanya bewarna silver. Namun dia tidak sempat memfoto nomor polisi kendaraanya."
"Itu bahkan jadi sebuah informasi yang penting lho? meski banyak yang menggunakan mobil yang sama,sepertinya saya bisa mulai menerawang arah siapa pelakunya..."
"Waaahh, berarti kawanku ini punya ilmu cenayang yaaa..." candanya.
"Hehehe, hanya sekedar tahu saja kok Mon.. makasi ya atas informasinya. Ini sangat bermanfaat sekali bagi saya. Sehingga saya bisa memulai melakukan apa yang harus saya lakukan untuk memasukkan pelakunya ke penjara..."
__ADS_1
"Waduh, kok saya merasa takut duluan ya?"
"Jika ini adalah sebuah tindakan yang dilakukan dengan sengaja, berarti ini adalah sebuah kasus tindak kriminal. Ya, penjara lah hasilnya...:
"Waaah, anak hukum itu bener-bener menakutkan rupanya..." candanya.
"Hehehe, kalau begitu terima kasih atas informasinya ya Mon, saya tutup dulu. Assalamualaikum..."
"Walaikum salam warrahmatullah....."
Langsung aku searching bagaimana pasal dan sanksi atas tindakan yang dilakukan orang itu pada Yukita. Kubaca dengan seksama, ternyata informasi yang kuharapkan tidak lengkap. Sepertinya aku harus ke ruang baca fakultas hukum nanti. mencari informasi, bagaimana hukuman yang tepat untuk penjahat kurang ajar itu.
Lamunanku dibuyarkan oleh dokter yang tadi memeriksa Yukita ternyata sudah muncul dihadapanku. DOkter tersebut memberiku aba-aba agar mengikutinya, lalu kuikuti langkah beliau menuju ruang kerjanya di rumah sakit ini. Awalnya dokter tersebut menggelengkan kepalanya. Lalu setelah itu menjelaskan diagnosa awal atas apa yang dialami oleh Yukita saat ini.
"Jadi saya menyimpulkan bahwa pasien Yukita mengalami amnesia sebagian. DImana Pengidap amnesia jenis ini biasanya akan mengalami hilang ingatan pada kejadian tertentu secara total, walaupun kejadian tersebut baru saja dialaminya. Amnesia jenis ini disebabkan karena adanya cedera yang berhubungan dengan kepala. Dan kebetulan, saat ini pasien kehilangan memori sepuluh tahun terakhir, dan menyisakan ingatan semasa kecilnya."
"Jadi apakah ingatannya bisa kembali dok?"
"Bagaimana caranya agar ingatannya bisa kembali dengan segera Dok?"
"Ya sebagai manusia kita harus selalu brusaha, nanti ada tindakan yang bernama terapi psikologis, terapi kognitif, atau bisa pilih hipnosis... Seperti yang saya bilang tadi, hasilnya akan fifty fifty..."
"Tidak apa Dok, menurutku kesempatan untuk fifty fifty itu cukup besar, Kalaupun kemungkinan lebih kecil dari itu saja, aku akan tetap berusaha menyembuhkan amnesia yang dia alami ini."
Dokter itu terlihat tersenyum penuh arti. "Kamu benar-benar calon suami yang hebat..."
Waduh, jangan-jangan perawat tadi yang menyampaikan pada dokter ini, padahal itu baru sebuah harapan. Apakah harapan itu bisa terwujud kembali? Sementara dia kembali menjadi anak kecil, haruskan aku menunggu hingga sepuluh tahun lagi? Tuhan, tak henti ujian ini Engkau berikan kepada hamba-Mu yang lemah ini. Tapi aku yakin, Engkau tak akan pernah memberi ujian melebihi batas kemampuan dari ciptaan-Mu.
__ADS_1
Kembali kutuju ruang rawat Yukita. Ternyata sudah ada tantenya yang datang untuk menggantikan menjaga Yukita. Aku pamit pada beliau, dan pamit secara spesial pada anak kecil ditubuh dua puluh tahun itu.
"Yukita, aku pergi dulu ya? Nanti malam aku kembali lagi untuk menjagamu.."
"Aa mau pergi kemana? Sekolah?"
Hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan nya itu. "Iya, Aa mau sekolah dulu..."
Aku tuju parkiran, dan ternyata malah bertemu Anggi. Dia ingin melihat kondisi Yukita, dan aku biarkan dia ke sana. Biar dia lihat sendiri kondisi sahabat nya itu, dan aku ingin segera pulang ke kostan untuk beristirahat meski hanya sekitar satu jam saja.
Usai tidur sebentar, kambali kubersihkan diri bersiap ke kampus. Meski jadwal hari ini habis istirahat siang, aku usahakan datang lebih cepat, agar aku bisa mencari informasi yang aku inginkan tadi. Untuk menangkap orang brengsek yang membuat Yukita amnesia. Melupakan segala hal tentangku dan segala perjuangan yang kami lakukan untuk bersama.
Di ruang baca, tampak beberapa anak satu kelas denganku. Aku tengah duduk membaca beberapa buku pasal tindak pidana, dan tampak beberapa teman yang aku sendiri kurang hapal namanya mendekatiku.
"Akel..." sapa gadis itu. Aku lirik dan aku kembali lagi pada kegiatanku mencari informasi.
"Akel, aku dengar sebelum kuliah di sini kamu pacaran dengan Yukita ya?" ini kira-kira arah pembicaraannya kemana ya?
"Padahal sejak awal aku ingin sekali mengenal kamu lho? Tapi karena sikap kamu acuh tak acuh seperti sekarang ini, membuat aku ciut dan gengsi untuk mendekati." hmmm... jadi begitu...dia mau mengenalku lebih jauh juga.
"Tapi kenapa kamu malah lebih memilih Yukita? Padahal aku lebih baik dari segala hal di banding dia..."
"Maaf ya.. saya lagi sibuk.."
"Kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Yukita? Bukankah saat ini dia mengalami cacat pasca kecelakaan?"
Kenapa dia harus menyinggung nama Yukita. Mau kecelakaan bagaimana pun, aku akan tetap ada untuk dia. Tidak peduli dia cacat sekalipun.. Aku tak akan bisa melepaskan perjuangan ini. Sengaja ke sini memang untuk dia, bukan untuk siapa-siapa lagi.. Hanya untuk bersama dengannya. Meski saat ini dia sendiri benar-benar Melupakan semuanya.
__ADS_1
teringat lagi tatapan sendunya tadi yang masih belum terlalu On...