
mendengar pertanyaan sisy, alex rasa nya sudah kehabisan kesabaran, menjatuhkan sendok dan garpu nya kasar di atas piring , hingga mengeluarkan suara dentingan,
"Kamu masih tanya kenapa? setelah apa yang kamu perbuat kepada ku tadi pagi?, oh my lord,,, shitttt"
umpat alex saat mengingat diri nya yang tak jadi bercinta di saat senjata nya berdiri penuh siap eksekusi, hal itu benar- benar membuat alex seperti si permainkan oleh wanita nya itu.
sisy yang mendengar kemarahan alex berbicara dengan nada tinggi, refleks menutup mata, merasa kaget dan ngeri dengan kemarahan alex.
"tak kamu sadari kah sudah berapa lama kamu tidak melaksanakan kewajiban mu sebagai istri? ini sudah tiga bulan lebih, aku harus berpuasa selama itu? aku bahkan tidak pernah berpuasa selama seminggu sebelum nya, sebelum menikahi kamu dan sekarang? aku tidak yakin akan sanggup lagi untuk bersabar"
alex benar- benar menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan kemarahan nya, rasa resah gelisah nya di dalam dada selama ini, mencurahkan isi perasaan nya karena tak mendapat jatah dari istri selama itu.
suara lantang alex membuat sisy menghentikan aktifitas nya makan.
"Aku rasa aku akan benar- benar mencari wanita lain jika kamu terus menolakku"
gerutu alex lagi, masih dengan ekspresi kesal, membuat mata sisy membuka lebar, melotot kaget dengan apa yang barusan di ucapkan alex.
"Apa maksud mu?"
tanya sisy syok berat dengan apa yang baru saja ia dengar dari pria di depan nya itu.
"Aku bahkan sedang mengandung anak mu dan kamu mau mencari wanita lain?"
air mata sisy sudah di pelupuk, siap terlepas dan terjun bebas di atas pipi sisy yang semakin cabi. tak habis pikir alex sampai berkata seperti itu sekalipun sedang marah, tak sepantas nya alex berkata demikian.
apalagi semenjak hamil, sisy menjadi lebih melow.
Alex kelewat emosi, ah alex menyesali kata terakhir yang sempat terucap, dada nya kembang kempis naik turun, nafas nya tersengal menatap sendu pada mata sang istri yang mulai berkaca- kaca, alex menyesali semua kata kasar yang sudah tak sengaja ia lontarkan.
Itu hanya suatu bentuk kekecewaan alex pada sisy yang sudah terlalu lama menolak untuk di sentuh oleh nya.
sebagai seorang lelaki, bercinta adalah kebutuhan penting.
apalagi alex sudah berusaha terus memperbaiki kesalahan nya, namun wanita nya tak kunjung bisa menerima nya kembali, membuat kesabaran alex benar- benar di uji dan hampir habis.
"Maaf"
__ADS_1
ucap alex lirih, melihat manik mata sisy yang masih berkaca- kaca, terdiam menahan sesak di dada.
"Aku tahu, aku hanya properti mu, yang ketika kamu bosan , maka kamu akan membuang ku bukan?"
kali ini seolah keadaan berbalik, kalau tadi alex yang mendominasi kemarahan, sekarang sisy lah yang lebih mengintimidasi.
sisy mengingat apa yang dulu sering di ucapkan alex pada nya, dengan menahan tangis, mata nya masih berkaca- kaca.
"Aku salah berharap lebih pada mu" ucap sisy sinis pada Alex.
ada gurat kekecewaan yang mendalam dari sisy atas ucapan alex barusan.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, itu memang hidup mu, aku cukup tahu diri, aku tidak akan pernah jadi siapa- siapa untuk mu, aku ingat siapa aku kamu memang sampai kapan pun tak akan bisa berubah"
Ah alex merutuki diri nya yang salah bicara, karena emosi, semua nya menjadi runyam.
"kalau sudah bosan, katakan sejak awal dan aku akan segera pergi"
ucap sisy lagi, kemudian berlalu meninggalkan meja makan, di sana masih ada Alex yang masih terdiam, merutuki diri sendiri yang tak bisa menahan emosi.
lagi- lagi alex yang di tinggalkan begitu saja.
panggil alex pada istri nya, berusaha menahan agar sisy tak pergi meninggalkan nya sendiri dengan keadaan marah.
namun langkah kaki sisy terlalu cepat, menyadari sisy sudah berlalu meninggalkan meja makan dengan keadaan marah.
"shiiiittttt, kenapa menjadi semakin rumit"
alex mengusap wajah nya kasar, bergegas menyusul istri nya yang berlalu meninggalkan nya seorang diri di meja makan.
.
.
sisy menuju kamar pribadi nya, kamar yang sejak pertama dia datang ke rumah itu, di situ barang pribadi nya berada, menurunkan tas besar, memasukkan barang- barang ke dalam tas besar tersebut.
membatin, akhirnya hari di mana dia akan akan bebas dari jerat alex tiba, dulu sisy membayangkan akan terasa menyenangkan jika bisa lepas dari alex, tapi sekarang kenapa terasa sakit?, rasa nya seperti sampah , habis manis sepah di buang.
__ADS_1
padahal di dalam kandungan nya ada calon bayi, tapi kenapa alex tega membuang nya di saat sedang hamil? mengatakan akan mencari wanita lain di hadapan nya secara jelas, di saat masih mengandung, sungguh menyakitkan bagi sisy.
akhirnya air mata yang ia tahan sejak tadi, luruh juga.
rasa menyeruak nyeri, sakit di hati, ingin ia keluarkan seiring dengan keluarnya air mata dari pelupuk mata, agar hati terasa lebih lega.
duarrr...
Alex masuk kamar sisy menyusul wanita nya itu dengan mendorong kasar pintu, hingga menimbulkan bunyi hentakan.
membuat sisy kaget dan berjingkat, menghentikan gerakan tangan nya sejenak, tahu alex yang datang, tanpa menoleh sisy melanjutkan kembali akitifitasnya mengemasi barang.
melihat wanita nya itu mengemasi barang memasukkan ke dalam tas besar, alex semakin murka.
"Hentikan"
alex merebut tas besar milik sisy dan membuang nya ke arah pojokan kamar, hingga barang yang sempat di masukkan ke dalam tas berhamburan, berserakan.
"Siapa yang mengijinkan mu pergi dari sini? hah?"
"aku tidak akan mengijinkan mu keluar dari rumah ini selangkah pun"
wajah alex terlihat nyalang, marah.
mata nya melotot sempurna.
"Bukan kah kamu akan mencari wanita lain? aku dulu mungkin bisa santai melihat wanita lain keluar masuk kamar mu, tapi sekarang aku bahkan mengandung anak mu, aku tidak akan sanggup melihat itu semua" mata Sisy berkaca- kaca membayangkan hal menyakitkan itu.
alex menghela nafas dalam kemudian menghembuskan nafas kasar, mengusap wajah nya kasar,
"okey, aku salah bicara tadi, aku tidak akan mencari wanita lain" ucap alex.
mencoba menormalkan emosi, tak ingin lepas kontrol dan membuat istri nya ingin pergi dari rumah.
alex memilih mengalah.
"a..apa selama aku menolakmu, kamu sudah bermain dengan wanita lain di belakang ku? iyakan? " sisy menerka, menebak sambil memicingkan mata, mencari jawaban kebenaran pada alex.
__ADS_1
"astaga, aku bahkan rela menderita menahan semua nya dan kamu masih menuduhku, aku bisa gila dengan semua ini"
alex menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan keadaan, masalah pertengkaran dengan sang istri tak kunjung selesai.