
"Shittt.... “ alex memaki dirinya sendiri. Menjambak rambut di kepalanya. Kemudian memeganginya.
“nyatanya aku tidak bisa melakukan nya. Kenapa aku begitu lemah terhadapnya?” batin alex berkecamuk menyalahkan perasaan yang kini menang melawan hawa nafsunya.
Duduk di tepi ranjang, merutuki diri sendiri serta mencerna keadaan. memikirkan kebenaran keputusan yang ia ambil sambil memandangi senjatanya yang butuh pelepasan dan masih berdiri di balik handuk yang membelit pinggangnya.
Sedangkan sisy masih menangis sesenggukan meringkuk di bawah selimut yang ia gunakan untuk menutupi dadanya yang hampir telanjang.
Menarik diri sedikit menjauh dari pria yang masih memegangi kepalanya.
Hingga akhirnya melihat alex berjalan menuju kamar mandi.
Cukup lama alex berada di kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan .
Setelah keluar kamar mandi tampak alex berganti baju dengan baju yang dia ambil dari lemari yang ada di hotel. Kemudian berlalu keluar kamar hotel.
Masih terdiam tak bersuara apapun . Sebelum keluar dia sempat melirik wanita yang masih meringkuk di bawah selimut tebal untuk sejenak .kemudian berlalu meninggalkan kamar hotel.
Sisy melihatnya di balik selimut tebal yang masih menutupi tubuhnya. Setelah melihat alex pergi berlalu meninggalkan kamar, sisy bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Melihat sejenak dirinya di depan pantulan cermin kamar mandi, terbesit rasa jijik melihat leher serta dada nya yang penuh tanda merah kissmark yang dibuat alex beberapa waktu yang lalu. Sambil memejamkan mata, disertai airmata yang tak sengaja keluar begitu saja mengingat kejadian panas ketika alex meraba setiap inci dari setengah tubuhnya. Mengingat bagaimana alex bahkan sempat menghisap puncak gundukan nya. menjamahnya dengan liar. sesuatu yang belum pernah pria manapun lakukan terhadap diri nya.
“setengah dari tubuhku sudah ternoda” sisy begitu menyesali akan ketidakberdayaan nya menjaga diri.
Airmata yang mengalir seakan tak ada habisnya. mencoba menghentikan tangisan. Mengguyur tubuhnya dengan pancuran air yang keluar dari shower. membersihkan diri dengan sabun, mengulangnya beberapa kali untuk pada bagian dada mencoba menghilangkan bekas tanda merah yang tercetak di sana.
Setelah mencoba untuk menghentikan tangisan nya, sisy ingat, kini kemeja nya bahkan tidak tahu kemana rimbanya. Memakai baju nya kembali serta memakai kimono mandi untuk menutupi setengah tubuhnya. sebelum keluar kamar mandi, tidak lupa melihat keadaan dulu, mencari tahu apakah alex sudah kembali atau belum. Tak mendapatkan siapapun, sisy mulai berjalan mencari kemeja nya di antara kasur yang berantakan serta bantal yang berserakan di lantai.
“ isssshhh..” setelah mendapati kemejanya yang sobek dan kancing yang lepas tak bisa di pakai kembali.
Sisy berjalan menuju lemari baju yang ada di kamar. tempat dimana alex mengambil baju nya. Setelah membuka pintu almari, dia dapatkan beberapa baju pria serta beberapa gaun tidur transparan .
“astaga.., mungkin di sini sudah biasa di buat tempat mesum olehnya” gumam sisy.
Kemudian sisy mengambil kemeja pria yang tergantung di situ untuk ia pakai.
“aku terpaksa memakai pakaian mu” sambil mengancingkan kemeja yang kebesaran itu.
Setelah membereskan bantal serta tempat tidur yang berantakan, sisy mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“melelahkan...” sambil memejamkan mata. tak berapa lama kemudian sisy benar- benar terlelap tertidur.
…………
__ADS_1
Terik sinar mentari tampak masuk melalui celah tirai jendela yang sedikit terbuka,,,
“haduwh...jam beraap ini?” gumam sisy sambil meregangkan otot-otot nya.
“astaga, jam sepuluh pagi” kemudian sisy bergegas bangun dan mencuci muka ke kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi sisy duduk di sofa dan memikirkan sesuatu.
“bagaimana aku bisa keluar dari kamar hotel ini? Aku bahkan tidak tahu pasword pintunya. Kalaupun aku keluar dari sini , apa iya aku kembali ke rumah itu?” sejuta pertanyaan serasa terngiang- ngiang di kepala.
“aku coba lagi saja lah “ sisy ingin mencoba membuka pintu kamar hotel lagi.
Ketika melangkah ke ruang tamu, sisy melihat seseorang laki- laki sedang duduk di sana yang sibuk dengan ponsel pintarnya.
“thomas?” sisy menyapa heran kenapa asisten sang big bos sudah duduk di sana bahkan tahu pasword pintu kamar hotel.
“ selamat pagi nona” thomas kemudian berdiri memberikan sapaan sebagai tanda hormat sambil menundukkan kepala.
“kenapa ada di sini? Bagaimana kamu bisa masuk? Sejak kapan?” thomas langsung diberondong banyak pertanyaan oleh wanitanya si bos.
Namun thomas hanya tersenyum tak menjawab satu pun pertanyaan sisy.
“saya sudah memesankan sarapan untuk anda di bawah, setelah itu saya akan mengantar anda pulang ke rumah” ucap thomas lagi.
Keduanya kini berjalan menuju lift.
“mmmm... alex di mana?” tanya sisy ragu-ragu.
“bos ada di kamarnya yang lain. Bos meminta anda tidak perlu menunggu” jawab thomas datar.
Sisy hanya menganggukkan kepalanya tanda paham. Kemudian keduanya tidak lagi berbicara.
“dia pasti marah sekali gara-gara semalam” gumam sisy dalam hati. Sambil berjalan menuju lift.
Setelah sarapan pagi di restoran hotel, thomas mengantarkan sisy pulang ke rumah alex tanpa sang bos.
“tidak mau ikut turun?” tanya sisy pada thomas yang duduk di kursi kemudi .tepatnya duduk di samping sisy.
Sejak tadi thomas terlihat canggung. Mendapati wanita bosnya yang duduk di sebelahnya. Sejak awal thomas meminta sisy duduk di bangku penumpang. Tapi sisy tetap memaksa duduk di depan. Hingga akhirnya thomas mengijinkan nya.
“tidak nona” jawab thomas singkat.
Namun sisy belum juga keluar dari mobil thomas.
__ADS_1
Membuat sang kepercayaan bos mengkerutkan dahi heran.
“nona bisa turun” perintah thomas.
“em...sejak kapan kamu kerja pada alex?” tanya sisy ragu-ragu.
“nona bisa menanyakan pada bos kalau mau” jawab thomas dengan sikap enggan dia berusaha agar wanita di sampingnya segera turun dari mobilnya.
“apa kerjaan alex?” tanya sisy lagi tak mau menyerah.
“maaf nona, silahkan anda turun” perintah thomas lagi, sambil menahan geram.
“sudahlah kalau begitu, percuma aku bertanya lagi” ucap sisy sambil menuruni mobil thomas. dengan ekspresi kecewa, tak satupun pertanyaan nya di jawab sang asisten bos.
Kemudian berlalu masuk rumah.
Setelah membersihkan diri sisy membaringkan tubuhnya di kasur. Memikirkan banyak hal tentang nasibnya kedepan.
Menatap langit- langit kamar “jadi pengangguran lagi. Haduwh pusing dah” sambil mengacak-acak kepalanya. Berguling kesana kemari dari ujung ke ujung tempat tidur.
“hehm....semangat” mengepalkan tangan. Mencoba memberi energi positif pada diri nya.
Kring....kring....kring...
“siapa? Ya... hallo?” sisy mengangkat telfon dari nomor tak di kenal.
“siy kamu nggak masuk kerja hari ini? kamu ijin dua hari nggak masuk kenapa?” suara di seberang telfon langsung menodong pertanyaan.
“aku? Bukan nya aku di pecat?” spontan sisy bertanya pada orang di telfon . Ya dia adalah mira salah satu teman baru di tempat kerja sisy.
“kenapa di pecat? Bukan nya dari hrd tadi bilang selama kamu ijin dua hari pekerjaan mu aku yang mengerjakan? Kenapa jadi di pecat?” tutur mira panjang lebar.
“kok..haduwh...i..iya . Kok aku jadi bingung “ ucap sisy lagi.
“bingung kenapa?” tanya mira lagi.
“enggak...em...nanti aku telfon lagi ya... bye...” ucap sisy segera mengakhiri obrolannya dengan mira dan terburu-buru menutup telfon. sebab kini ada orang yang ingin dia hubungi dengan segera.
Kring....kring...kring...
Sisy mencoba menghubungi alex . Namun berulang kali menelepon tak di angkat juga.
“kenapa nggak di angkat?” gumam sisy pada ponsel yang sedang ia pegang.
__ADS_1