
di restoran depan kantor, ketiga orang yang sedang duduk berhadapan satu sama lain sedang menyantap berbagai menu makanan yang lumayan banyak di pesan.
dua sahabat itu, seperti memanfaat kan keadaan saja. mumpung dapat gratisan, hajar dah...
"jangan menyesal ya pak , sudah mentraktir kita, kita makan nya banyak, hehehe" ucap sisy bercanda, di sertai sedikit tawa.
" habiskan saja, jila kurang, kita bisa pesan lagi. buat kamu, apa sih yang tidak, " sahut juna.
membuat kedua wanita yang sedang makan dengan lahap sontak tersedak, dan menghentikan kegiatan makan nya.
juna yang melihat pun ikut terkejut, dengan sigap juna mengambilkan air mimun milik sisy.
"hati- hati " sambil memberikan segelas air minum pada sisy, ekspresi nya terlihat khawatir. dan di terima sisy dengan sungkan.
sungkan pada teman di samping nya, yang sudah jelas naksir sama pria yang kini malah perhatian pada nya.
sementara mira, terlihat raut muka nya kecewa. mengambil minum nya sendiri tanpa ada yang membantu dan memperhatikan.
berbeda dengan teman di samping nya.
merutuki kemalangan nya, pandangan nya melihat ke arah juna yang begitu perhatian pada sisy .
[ya patah hati sebelum jadian].
tak ada kata yang terucap selain bergumam dalam hati saja.
"terima kasih pak juna" sisy menundukkan kepala, seolah memberikan isyarat mengucapkan terima kasih namun tak terucap, hanya gestur tubuh. sisy malah merasa semakin canggung.
[ ish ada apa dengan pak juna, apa memang pak juna ini tipe orang yang suka merayu dan tebar pesona? masak sih. di lihat orangnya bukan orang seperti itu, ah mungkin aku yang salah menilai. mungkin pak juna memang tipe orang yang suka bercanda ]
sisy berdebat dengan pikiran nya sendiri.
sementara mira, hanya diam, mood nya sudah terlanjur buruk melihat perhatian lelaki impian nya lebih perhatian ke sahabat nya ketimbang diri nya.
__ADS_1
terlihat jelas kalau juna naksir nya bukan pada mira. namun pada sisy.
mira bahkan memperhatikan juna sejak tadi, terlihat oleh mira, atasan nya itu sempat curi- curi pandang pada sahabat di samping nya.
sedangkan sisy yang di perhatikan , pura- pura tidak tahu. padahal diri nya pun merasa kan perhatian juna, dan tatapan mata nya yang curi- curi pandang.
namun tak ingin membuat suasana menjadi kikuk, berusaha untuk bersikap biasa saja.
"oh ya, kalian sudah lama bekerja di perusahaan?" tanya juna , sambil menatap ke arah sisy maupun mira bergantian, ingin membuat suasana lebih cair dan ada kedekatan dengan karyawan nya.
tidak seperti sekarang, suasananya kaku, dan mencekam.
sisy yang tak mendengar mira berbicara, akhirnya diri nya menjawab pertanyaan juna lebih dulu.
"kalau saya, baru pak. saya karyawan dari majalah online yang di akuisisi perusahaan yang kurang dari setahun ini".
sisy menjawab sopan. memang benar, diri nya masih baru kalau di banding kan mira. mira tentu lebih senior.
tak ada jawaban dari pihak mira karena terlanjur bad mood dan cemburu, sisy kemudian menyenggol lengan mira, memberi kode supaya juga ikut berbicara pada juna. tak ingin hanya diri nya saja.
"kalau saya sudah 2 tahun setengah pak" ucap mira dengan sedikit menundukkan kepala, sebagai tanda sopan santun.
entah lah, perasaan antusias yang di rasakan mira ketika pertama kali mendengar pak juna mengajak dan mentraktir makan siang, kini tak terlihat lagi di wajah mira, sedangkan saat ini , makan siang itu terasa tidak nyaman bagi sisy.
sedangkan juna, dari tadi juga tidak banyak bicara, hanya mengucapkan sepatah kata dua patah kata saja.
.
.
.
"mir...mira? kamu kenapa sih seperti nya sejak tadi menghindari ku terus, di ajak ngomong tidak menjawab" ucap sisy yang sedari tadi mengikuti mira, berjalan di belakang nya, namun mira tak merespon apapun ucapan sisy.
__ADS_1
"MIRR...." panggil sisy pada sahabat nya itu dengan setengah berteriak. membuat mira yang sedang berjalan ke arah lift berhenti seketika.
"APAAA..." jawab mira tak kalah lantang. sambil menghadap ke arah sisy, yang ada di belakang nya .
mereka baru saja kembali dari makan siang. juna tidak ikut kembali, karena tadi ada telepon dari pak bharata, papa dari juna. untuk segera kembali ke kantor.
alhasil juna kembali lebih dulu, sedangkan sisy dan mira masih di restoran, menghabiskan makanan yang sudah terlanjur di pesan.
"kamu senang? iya? di perhatikan sama pak juna. kamu senang kan yang di taksir pak juna itu kamu?" mira memojokkan sisy, menyalahkan sikap juna yang malah perhatian pada sisy bukan pada nya.
"astaga mir, kamu marah karena tadi pak juna ngasih minum ke aku pas tersedak tadi? kamu cemburu?"
kedua sahabat itu saling bertengkar di depan lift,
dengan suara yang masih terkendali, menahan teriakan, suapaya tak menimbulkan perhatian dari orang di sekitar. namun sikap mereka dan gestur tubuh serta ucapan yang sempat terdengar sekitar meskipunbtak jelas, tetap saja membuat beberapa karyawan yang lain melihat ke arah mereka ber dua.
"kamu senang kan juna lebih perhatian nya ke kamu? , atau jangan- jangan kamu juga naksir pada pak juna kan? tapi kamu malu mengatakan nya?" mira benar- benar sedang cemburu akut.
[boro- boro mau naksir pria lain, kamu tidak tahu saja keadaan ku sekarang].
"enggak mir, aku tidak ada perasaan apa- apa pada pak juna, soal perhatian tadi, mungkin saja pak juna cuma refleks, nggak sengaja" sisy mencoba meredam amarah mira.
"iya refleks nya ke kamu saja, ke aku enggak? kamu menikungku" mira masih tidak terima. yang ada malah sekarang menuduh teman nya itu merebut pria pujaan nya.
sontak sisy yang mendengar tuduhan yang di tujukan pada nya merasa geram.
"kenapa aku yang kamu salahkan? aku tidak meminta, juga aku tidak menggoda pak juna sama sekali. kenapa kamu malah marah nya ke aku? lagian siapa yang menikung mu?" sisy tak terima di tuduh menikung sahabat nya itu.
diri nya bahkan tidak melakukan apapun tapi di tuduh yang macam- macam oleh sahabat nya, sisy yang awalnya tidak emosi malah sekarang ikut emosi gara- gara tuduhan mira.
" apa aku terlihat keganjenan? apa aku tebar- tebar pesona ke pak juna? atau aku terlihat ingin dekat- dekat pada pak juna?"
mereka ber dua sudah masuk ke dalam lift, hendak menuju ke ruangan kerja mereka kembali.
__ADS_1
mira yang di berondong pertanyaan oleh sisy, kali ini tidak menjawab apapun, hanya diam dengan ekspresi wajah yang masih sewot dan kesal. mengacuhkan pandangan nya dari sahabat nya itu.