Cinta Sang Big Bos Pada Wanita Nya

Cinta Sang Big Bos Pada Wanita Nya
78. Tergelincir


__ADS_3

di lihat dari ekspresinya, mira mulai melunak.


mendengar kata pacar dari mulut sisy sendiri, membuat wanita yang sedang terbakar api cemburu itu mulai menurunkan bendera perang nya, berpikir dan berpikir lagi.


ekspresi nya masih bengong menerawang, seperti sedang mengingat sesuatu.


"tapi kan orang yang sudah punya pacar, bisa saja selingkuh" kali ini suara mira tak sekeras tadi.


" astaga mir, terserah kamu lah. aku mau melanjutkan bekerja, nggak enak juga di dengar yang lain"


sisy berharap mira segera mau di ajak mengakhiri perdebatan.


dan kali ini mira akhirnya mau menghentikan perdebatan.


mira tak membalas ucapan sisy lagi. wanita itu mulai beranjak dari tempat nya berdiri sejak tadi, berjalan ke arah meja kerjanya sendiri.


sementara itu, setelah juna dari ruangan pak bharata, juna meminta sisy segera mengantar laporan ke ruangan nya, secara langsung.


" siy, keruangan ku ya, bawa laporan yang kemarin saya minta kerjakan"


seutas senyum juna sebelum beranjak meninggalkan sisy membuat mira yang dari tadi melirik kedatangan juna membuat api kemarahan mira pada sisy yang baru saja reda kini mulai melirik sinis.


sisy hanya menganggukkan kepala meng iyakan perintah atasan nya itu.


segera mempersiap kan berkas yang di minta juna.


sisy yang di lirik sabahabatnya dengan ekspresi seperti mau menerkam diri nya itu tahu, namun pura- pura tidak tahu saja.


lagian mira juga, pacar saja belum .


juna juga belum tentu menyukai diri nya.


tapi kenapa seolah juna itu kekasih nya yang mau di rebut sahabat nya sih marah nya.


.


.


hari mulai sore, waktu nya pulang kerja.


sisy sedang menunggu tukang ojek perempuan langganan nya.


terus memandangi jam tangan , berpikir kenapa tukang ojek nya belum juga datang. padahal sudah menunggu hampir satu jam.


jam 3 sore tepat, tadi sudah keluar dari kantor.


pekerjaan sudah selesai lebih awal. di tambah besok adalah weekend, jadi jam pulang kantor tidak terlalu sore.


dan sekarang jam 4, kalau tidak segera pulang takut nya terlambat. malas sekali mendengarkan ocehan alex.


berulang kali sisy mencoba menghubungi tukang ojek nya, namun belum berhasil.


di coba lagi, pikir nya yang terakhir, kalau tidak bisa ya diri nya akan naik taksi, namun jam pulang kantor begini juga susah mencari taksi, penuh semua.


akhirnya panggilan berhasil di jawab dari seberang sana, rupanya mbak ojek online perempuan langganan sisy sedang tidak bisa datang, urusan keluarga mendadak, anak nya sakit.


tet...tet...

__ADS_1


suara klakson mobil yang berhenti di depan sisy.


" kok masih di sini? ayo masuk pulang bareng" suara juna memanggil sisy dari dalam mobil.


"hah? nggak usah pak. saya naik taksi saja"


jawab sisy pada juna menolak ajakan atasan nya.


memang rencana nya kalau tukang ojek langganan nya tidak bisa, akan naik taksi.


"ayo cepat masuk, taksi jam segini juga susah, penuh semua" juna masih memaksa .


"tidak usah pak, bapak duluan saja"


tak enak menolak ajakan bos nya juga tak enak kalau harus merepotkan.


terlalu lama, akhirnya juna segera mengambil sikap tegas.


juna turun dari mobil nya, menjemput dan menarik tangan sisy, mendorong punggung wanita yang dari tadi berdiri untuk masuk ke dalam mobil nya.


"ha?,,,tapi pak"


sisy mencoba menolak, bahkan kaki nya sengaja tak di gerakkan.


namun dorongan juna lebih kuat.


" sudah, ayo, tidak usah sungkan"


juna terus mendorong sisy hingga masuk sepenuh nya ke dalam mobil.


ya, juna biasa mengemudikan mobil nya sendiri, tidak memakai jasa sopir.


"rumah kamu dimana siy?"


dengan bahasa informal juna bertanya di mana rumah wanita yang sedang duduk di sebelah nya dengan canggung.


"em...itu pak nanti berhenti di depan gang saja" pinta sisy pada juna.


" kenapa? aku nggak boleh tahu di mana kamu tinggal?" tanya juna dengan senyum, sengaja membuat sisy terpojok.


" bukan begitu pak, jalan nya rusak, susah buat mobil" alasan sisy, berbohong.


bagaimana diri nya menjawab kalau diri nya di antar sampai rumah elit nan megah, tidak mungkin kan diri nya yang seorang karyawan biasa bisa tinggal di rumah elit.


" tidak apa- apa, kalau begitu nanti aku antar dengan jalan kaki saja kalau begitu. aku mau tahu rumah mu, sekalian mampir"


ish juna, sudah aku kamu saja.


terus mau mampir ke rumah sisy segala.


"buat apa pak? rumah saya kecil" jawab sisy lagi. tak tahu harus beralasan seperti apa lagi.


"ya biar kita semakin mengenal" juna to the point tanpa basa basi.


" hah?"


sisy yang dari tadi terlihat canggung, melongo, tak tahu kemana arah pembicaraan juna.

__ADS_1


"ya kita kan atasan dan bawahan, nggak ada salah nya kan kita lebih akrab?"


juna masih fokus dengan jalanan di depan nya, namun dari tadi bibir nya tak berhenti tersenyum. merasa senang bisa mengantarkan wanita yang di taksir nya.


"iya, tidak ada salah nya pak, tapi takut nanti kalau karyawan yang lain tahu, jadi salah paham"


sisy memikirkan bagaimana reaksi mira kalau tahu juna mengajak pulang bareng dan mengantar pulang.


pasti marah sekali, dan berakibat renggang nya hubungan persahabatan mereka.


"salah paham bagaimana?" juna memicingkan mata, sesekali menoleh ke arah sisy, namun kemudian kembali fokus mengemudi.


"ya, takut nya bapak di bilang pilih kasih, atau kita di gosip kan ada apa- apa misalnya?"


seperti yang mira pikir kan pada nya.


"aku mau nya sih kita ada apa- apa memang" jawab juna santai.


" maaf, maksud nya pak?" sisy di buat kaget dengan ucapan juna .


namun belum sempat juna menjawab, rupanya sudah sampai di depan gang yang sisy maksud.


"ah, pak berhenti di sini saja"


menyadari kalau sudah sampai di depan gang, sisy meminta berhenti.


sisy bersiap turun dari mobil. melepaskan seat belt dan menoleh sebentar ke arah juna,


"yakin tidak boleh mampir?" juna masih saja berusaha membujuk ingin mengetahui tempat tinggal sisy.


" lain kali ya pak, terimakasih pak" ucap sisy sambil menundukkan kepala.


tak menunggu jawaban juna, sisy langsung keluar dari mobil juna. tak ingin mendengar juna minta mampir lagi.


sisy juga sedikit kesal, merasa juna tadi mengendarai mobil seperti keong saja, begitu pelan di tambah di beberapa titik keadaan jalan yang memang rame, padat merayap.


" siy sebentar" juna keluar dari mobil nya, memanggil kembali sisy.


yang di panggil langsung menoleh.


" ya pak?"


sisy menoleh ke arah juna . sedangkan juna berjalan mendekat ke arah sisy.


" ponsel kamu ketinggalan" ucap juna sambil mengulurkan tangan nya yang sedang memegangi ponsel sisy dan memberikan kepada sisy.


"ohhh, iya lupa"


ucap sisy setelah menyadari tidak ada ponselnya di dalam saku.


"awww"


saat hendak meraih ponsel yang di berikan juna, kaki sisy malah tergelincir batu kerikil.


membuat tubuh nya terhuyung ke depan, menabrak dada bidang juna, dan jatuh tepat di pelukan juna.


[o...ow...]

__ADS_1


__ADS_2