Cinta Sang Big Bos Pada Wanita Nya

Cinta Sang Big Bos Pada Wanita Nya
76. Bareng Lagi


__ADS_3

merasa aneh melihat alex yang ternyata mendengar saran yang di berikan nya. bukan saran sebenar nya. tepat nya memerintah alex.


mana ada yang berani dan bisa memerintah alex selain sisy?


" ehm....itu tidak penting kapan"


alex tak ingin terlihat kalau diri nya melakukan apa yang di perintah kan wanita nya itu.


"aku sudah kenyang, ayo pulang"


berusaha menghindar dari pertanyaan yang di lontar kan sisy.


lah kok malah pulang, makan malam dengan suasana romantis, itu hanya untuk membahas hal sepele itu?


kirain akan ada acara mengungkap kan perasaan gitu, atau melamar mungkin? eh lha kok cuma gini- gini aja? terus kapan dong enak- enak nya kalau tarik ulur terus.


melihat alex yang sudah beranjak berdiri, sisy segera berdiri, mengikuti alex.


.


.


.


sampai di rumah, hari sudah malam.


membuat kedua nya sudah terasa lelah, terutama sisy.


wanita itu, di kantor sedang banyak pekerjaan. bahkan ketika diri nya pulang , masih menyisakan pekerjaan yang belum terselesaikan.


kedua orang yang baru saja makan malam, berjalan naik tangga beriringan.


"eh"


ketika sisy hendak berlalu ke kamar, tiba- tiba alex menarik tangan nya.


"cup "


alex memberikan kecupan singkat di bibir sisy.


"selamat malam"


ucap alex kemudian berlalu meninggalkan sisy yang masih berdiri mematung.


"hah?, ada apa dengan nya? dari tadi pagi hingga sekarang, dia begitu manis. bahkan dirinya tak menyalahkan aku atau menghukum ku ketika aku ketahuan membantu flora"


sisy masih heran, bergumam sendiri melihat alex tiba- tiba begitu romantis.


.


.


.


pagi hari di kantor, sisy tak sengaja berbarengan lagi dengan juna di depan lift. namun kali ini sisy tidak sedang melamun.


"selamat pagi " ucap juna menyapa.


"pagi pak" di balas sisy dengan menganggukkan kepala tanda hormat.


hanya mereka berdua. tak ada karyawan lain.

__ADS_1


"wah kita barengan lagi, jangan- jangan kita jodoh"


ucap juna sambil nyengir.


"hehehe"


sisy tertawa kikuk. mau membalas apa juga bingung.


dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi juna dan sisy.


pria itu mengernyitkan mata nya ketika sisy tertawa dan juna sedang tersenyum.


mengisyaratkan kalau sedang bertanya- tanya pada kedua orang yang saling tertawa di depan lift.


"ehm"


suara deheman pria bersuara baritone itu mengagetkan juna juga sisy.


sisy sempat menoleh ke sumber suara, kemudian menganggukkan lepala.


"papi..."


sapa juna pada pria berusia 55 tahun itu.


ya, yang baru datang menghampiri adalah pak bharata.


sedangkan sisy tertunduk dan mundur ke belakang, ada ceo sekaligus pemilik perusahaan. pimpinan tertinggi di kantor tempat nya bekerja.


"ke ruangan papi dulu ya, papi mau bahas program baru"


ajak pak bharata pada anak sulung nya itu.


baik juna maupun pak bharata, masuk lift secara bersamaan, minus sisy yang masih berdiri di sebelah pintu lift. tak ingin satu lift dengan CEO nya.


namun ketika pintu lift hendak tertutup, tangan juna menghalangi pintu lift nya hingga terbuka kembali.


"siy, ayoo"


ajak juna dengan bahasa yang tak formal.


membuat pak bharata, juga sisy melongo.


[pak juna, apakah memang naksir sama aku ya?ah mungkin saja aku yang ke GR an, mana mungkin]


"papi nggak keberatan kan saya mengajak karyawan lain satu lift dari dengan kita?"


karena dari tadi sisy yang sudah di ajak juna namun masih hanya terdiam sisi, tak mau masuk lift.


akhir nya juna brpikir, munkin saja wanita di depan nya itu sungkan, tak berani pada papi nya.


jadi juna memutuskan meminta ijin pada papi nya.


"hemm"


di jawab singkat pak bharata, namun mata nya menatap ke arah sisy. mengamati dari atas sampai bawah.


alhasil, karena sungkan dan canggung, satu lift dengan para pimpinan, sisy hanya bisa berdiri terdiam di belakang nya pak bharata dan pak juna. menunggu sampai ke lantai di mana tempat nya bekerja, berharap cepat sampai.


ting...


berhubung kantor pimpinan berada paling atas di lantai tersebut, jadi sisy yang keluar dulu dari lift.

__ADS_1


setelah sampai di lantai ruangan nya, pintu lift terbuka,


"maaf pak saya permisi dulu"


sambil menuntukkan kepala sopan meminta ijin pada kedua atasan nya.


hanya di balas anggukan oleh pak bharata dan juna.


kemudian pintu lift kembali tertutup, melanjutkan ke lantai paling atas.


[suasana macam apa itu? harus nya aku tadi menolak ajakan pak juna jadi nggak enak sendiri kan?]


sisy merutuki diri nya sendiri, sesekali memejamkan mata nya karena sudah menyesal menerima tawaran juna ikut satu lift dengan nya dan papi nya.


sementara di dalam lift,


" papi harap kau jangan terlalu akrab dengan bawahan"


suara pak bharata memecah keheningan di dalam lift.


"bukan kah untuk membangun tim yang solid harus dekat dengan bawahan?" juna membela diri.


" tatapan mu itu, bukan seperti seorang atasan pada bawahan yang ingin membangun tim yang solid"


pak bharata menilai, anak nya itu sedang naksir pada karyawan wanita yang baru saja keluar dari lift. dimana diri nya mengetahui kalau wanita itu ada hubungan khusus dengan rwkan kerja nya, alex morris.


ting...


pintu lift sudah sampai ke lantai paling atas, dimana ruangan pak bharata.


di sana tak banyak orang yang berlalu lalang, hanya ada ruangan pak bharata, ruang meeting utama yang paling besar dan empat sekretaris pak bharata yang duduk nya ada di ruang kaca depan ruangan pak bharata.


" apa seperti itu pi? kelihatan ya?" juna tak ingin menutupi perasaan nya pada salah satu bawahan nya itu.


hubungan juna dan papi nya itu memang terbilang akrab dan sangat baik.


berkat didikan pak bharata, anak nya itu tumbuh menjadi pribadi yang sopan, baik dan terbuka pada orang tuanya.


tidak seperti anak laki- laki pada umum nya kalau kepada ayah nya biasa nya takut, karena seorang ayah yang bersikap tegas pada anak nya.


juna dan papa nya justru bisa menjadi seperti seorang teman.


" hemmm"


pak bharata tersenyum pada anak nya karena sudah ketahuan naksir pada seorang wanita.


"papi tak pernah membatasi kamu dekat dengan wanita siapapun. papi bebaskan kamu pacaran sama siapa saja, tapi kalau wanita itu tadi, papa harap jangan mendekati nya"


pak bharata menasehati anak nya, ketika sejenak sampai di dalam ruangan CEO yang begitu luas.


"kenapa? apa karena dia karyawan kita?" juna masih terus bertanya pada papi nya.


"bukan" ucap pak bharata.


"kamu yakin dia belum punya pacar?"


pak bharata mengetes sejauh mana anak nya itu mengenal sisy.


juna hanya menggeleng.


"tapi seperti nya belum" juna menambahkan.

__ADS_1


__ADS_2