
Dani menempatkan Emely ke dalam mobil, kemudian dia berlari ke arah kemudi dan duduk bersebelahan dengan istrinya.
Ditatapnya wanita cantik yang kini juga menatapnya dengan diam, dipastikan Emely masih menyimpan rasa sakit dalam hatinya.
Dani menghadapkan tubuhnya pada Emely, menatap wajah cantik itu dan mengusapnya pelan dengan jari jemarinya. Dipandanganya luka lebam di pipi Emely yang membulat.
"Sekali lagi maaf, aku tidak sengaja tadi. Aku akan mengobatinya, setidaknya walau tidak hilang rasa sakitnya, kamu akan lupa rasa sakit itu karna sebuah kenikmatan," ucap Dani dengan tenang.
Emely menepis tangan Dani dari pipinya, semakin tak mengerti saja pada pria yang dari tadi ngomong ngalor ngidul dan sulit untuk dipahaminya itu.
"Antarkan aku pulang," ucapnya sambil memasang sealbet. Dani menghela napas panjang dan mencoba untuk tetap tenang menghadapi Emely yang masih dalam suasana hati yang tidak baik.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang, aku akan membawamu ke suatu tempat," ucap Dani sambil menyalakan mobil, menancap gas kemudian berjalan menyusuri jalanan yang tampak begitu sepi.
"Antarkan aku pulang Mas!" sentak Emely, tapi tetap saja Dani tak mau mengalah. Melajukan mobil seauai dengan kemauannya. Emely tampak memejamkan matanya, percuma berdebat dengan pria macam Dani yang memang kepala batu.
Tak ada pembicaraan yang berarti dalam perjalanan mereka, mereka tampak diam dan tenang hingga Emely menyadari sesuatu, ketika melihat sebuah vila yang indah, tempat dirinya dan Dani saat itu di grebek warga.
Emely memejamkan matanya. Bayangan bayangan beberapa minggu yang lalu seakan muncul dalam ingatannya. Bahkan bayangan Syfa yang berada du kantor Dani tadi siang juga masih teringat jelas.
Emely terdiam saat Dani keluar dan berlari membuka pintu untuknya, lelehan tangis membasahi pipi mulusnya hingga Dani kini berada di sampingnya.
Melihat Emely yang menangis membuatnya hawatir, diusapnya air mata yang mengalir di pipi Emely.
"Kita turun," ucap Dani.
"Turun?" tanya Emely sambil menatap wajah Dani yang tampak hawatir itu.
__ADS_1
"Ya," jawab Dani.
"Untuk apa? Untuk melihat kamu bahagia bersama Sifa? Untuk melihat kamu datang ke sana dengan binar mata bahagia begitu?" tanya Emely dengan tetesan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Kenapa kamu jahat sekali Mas? Setelah mengatakan cinta padaku, kamu menyakiti aku dengan menemuinya dibelakangku. Kamu menyakiti aku dengan membawa aku kesini? Dimana hati kamu? Jika tidak benar benar mencintai aku, kamu bisa menceraikan aku Mas. Tidak harus dengan memberikan aku harapan, lalu menghempaskan aku untuk jatuh ke dasar jurang," ucap Emely panjang lebar. Air matanya mengalir deras.
Dani tampak memejamkan matanya, tak berpikir lama Dani mengangkat tubuh Emely. Emely memberontak tapi Dani tak menghiraukan.
Dani berhasil menggendong tubuh Emely dan memutar tubuhnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat beberapa orang warga desa yang berdiri di depan mereka dengan napas yang ngos ngosan. Mereka pikir ada penculikan sehingga terdengar teriakan. Dani menghela napas panjang.
"Aku tidak berbuat Zina, dia istriku. Bukankah kalian yang menikahkan kami saat itu? Pergi dari sini dan jangan ganggu malam indah kami," ucap Dani kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama.
"Ayo kita pergi saja, itu Mas Dani dan Mbak Emely," ucap salah satu warga desa, mereka segera melangkah pergi meninggalkan rumah megah itu.
Dengan Pelan Dani memencet pasword untuk membuka pintu rumah itu, Emely terus memberontak hingga sampailah mereka di sebuah kamar nan indah.
Dani menurunkan Emely di atas ranjang, melepas sepatu Emely kemudian menatap wajah Emely yang sembab itu.
"Antarkan aku pulang!" ucapnya.
"Aku suamimu, mau membawamu kemanapun itu hakku," jawab Dani.
"Aku tidak mau mempunyai suami yang egois sepertimu, lepaskan aku jika bersamanya kau bahagia," lirih Emely. Dani mengepalkan tangannya, harus berapa kali dia terluka dengan ucapan Emely yang terus menyakiti dirinya sendiri?
Dani mendekat ke arah Emely, mendongakan wajah cantik yang kini tampak emosi itu. Dengan cepat Dani menyambar bibir Emely yang sedari tadi mengomel. Memberikan c*uman hangat yang mampu membuat Emely merasa tenang.
Emely terdiam, memberontakpun percuma saja. Dia menikmati setiap permainan yang dimainkan Dani. Emely memaki dirinya sendiri dalam hati, kenapa ada kenyamanan ketika bersama Dani? Kenapa dia tak bisa benci pada lelaki yang selalu menyakitinya itu? Keduanya tampak kehabisan napas kini melepaskan ciuman itu.
__ADS_1
Keduanya saling berpandangan, Dani mengusap bibir Emely yang basah kemudian tersenyum, membuat wanita cantik itu malu dan mengalihkan pandangannya.
"Em, apa kamu masih tak bisa mempercayai ucapanku? Apa kamu pikir ungkapan cintaku waktu itu gurauan? Apa saat ini kamu mau aku mengatakan?" Dani menggenggam tangan Emely dengan erat. Membawa tangan Emely ke dadanya.
Terasa deguban jantung Dani yang seakan maraton, Emely membawa pandangannya mengarah ke arah Dani dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak butuh ucapan kebohongan, yang aku butuhkan adalah ketegasan kamu mas. Cintai aku, Lupakan dia. Atau kamu memilih lepaskan aku, bahagiakan dia," ucap Emely.
"Lalu, kamu pikir aku membawa kamu kesini untuk apa? Aku kesini untuk menegaskan kamu milikku, tak ada seorangpun yang bisa mengambilmu dariku. Tak ada satu orangpun yang bisa memisahkan kita," ucap Dani, ditatapnya wajah Emely dengan teduh.
Emely memejamkan matanya, bisakah dia percaya dengan ucapan Dani? Lalu, kenapa Sifa tadi ada di kantor Dani?
"Jangan mencoba menghiburku," ucap Emely.
"Tak percaya tak masalah, itu memang kenyataan. Lagi pula aku bahagia melihatmu marah tak jelas seperti ini, karna itu menegaskan betapa kamu sangat mencintai aku. Kamu cemburukan?" Dani tampak tersenyum dan terkekeh pelan.
Wajah Emely tampak memerah, Dani merah Emely dalam dekapannya. Emely yang bingung menyembunyikan wajahnya sekarang bisa leluasa bersembunyi dalam dekapan Dani, mencari kedamaian dan ketenangan di dada bidang makhluk tampan yang kini selalu mengisi hatinya.
"Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, maaf jika pertemuan kita sempat membawa luka, tapi kedepannya aku akan berusaha untuk membahagiakanmu," ucapnya.
"Jangan salah sangka pada Sifa, dia wanita baik baik, berasal dari keluarga yang terhormat. Jika tidak ada keperluan, dia tidak akan berani untuk menemuiku," Dani beruacap sambil mengusap puncak kepala Emely.
Emely mencoba tenang, memang benar apa yang dikatakan suaminyam. Sifa wanita baik baik, Emely mencoba mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh suaminya.
"Kau tau, dia datang ke kantorku setelah berusaha mencarimu, tapi dia tak menemukanmu. Dia datang hanya untuk memberikan surat pemberitahuan dari pak lurah, bahwa buku nikah kita sudah jadi. Kita telah menjadi pasangan suami istri yang sah menurut agama dan Negara, Sayang," lanjut Dani.
Deg
__ADS_1
Dada Emely tiba tiba saja sesak dan bahagia bersamaan. Bagaimana bisa? Kenapa dia tak berpikir sejauh itu dan malah berpikir yang tidak tidak?
🎀🎀🎀🎀