Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Hidup masing-masing


__ADS_3

Emely dan Dani berjalan ke luar ndalem, berjalan bersama ke arah rumah dinas untuk berkemas. Sampai mereka di depan pintu, Emely membuka pintu dan tersenyum bahagia.


"Alhamdulilah ya Dan, akhirnya kita bisa keluar dari sini. Tanpa kita kabur, tanpa kita dicari cari bagai buronan. Tanpa kita harus bersusah payah, Allah itu maha baik. Allah mendengar segala permohonan hambanya," ucap Emely.


Emely memutar tubuhnya. Kini netranya menatap Dani yang terdiam di depannya, menatapnya dengan teduh sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.


Entah, apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki yang berusia dua puluh tujuh tahun itu. Tapi, lelaki itu tak seperti biasanya.


Dani menghela napas panjang, pikirannya memikirkan apa dia juga tak tau. Yang jelas, hatinya menolak jika dia berpisah dengan wanita yang saat ini tengah bahagia karna akan berpisah dengannya.


Emely maju beberapa langkah, tak mendapat jawaban dari Dani, wanita cantik dua puluh tiga tahun itu mendongak, mengulurkan tangannya menyentuh kedua pipi dani.


"Kau sakit Dan? Apa mau aku buatkan teh? Atau mau aku buatkan makanan?" tanya Emely tampak menghawatirkan keadaan Dani.


Dani masih terdiam menatap Emely, Emely yang tampak hawatir berjinjit dan memegang dahi Ardani. Sejak memutuskan untuk baikan, rasanya Emely begitu lebih berani.


"Kau tidak panas Dan, kenapa diam saja? Jangan membuatku hawa,,,"


Sebelum Emely menyelesaikan bicaranya, Dani sudah menarik Emely dalam dekapannya. Dekapan hangat yang saat ini mampu membuatnya terenyuh. Sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan menyusup ke dasar jiwanya.


Sebenarnya dia juga tidak tau itu perasaan apa, kenapa manusia laknat di depannya tampak melow seperti ini? Diapun tak tau jawabannya.


"Dan, kau tidak berniat membunuhkukan? Aku sesak napas Dan," ucap Emely, mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Ardani.


Bukan apa apa, dekapan Dani membuat kesehatan jantungnya terganggu karna berdetak tak seperti biasanya. Berdetak kencang, dan membuat hatinya jedak jeduk tak karuan.


"Apa kau tak bisa diam Em?" cercanya. Emely menggeleng di dada bidang Dani, membuat Dani memejamkan matanya merasakan suatu kenyamanan. Entah, posisi seperti ini begitu nyaman dia rasakan. Sangat nyaman, bahkan rasa tak rela berpisah muncul dalam otaknya.


"Dani, aku sesak napas. Apa kau tidak sadar, bajumu bau. Sudah berapa hari tidak ganti?" sentak Emely. Tak ada cara lain, sepertinya hanya dengan cara ini Dani mau melepaskannya.


Yang benar saja, Dani melepaskan pelukannya, mengendus lengan baju kanan dan kirinya. Tidak bau, bahkan parfum mahal yang dia gunakan masih terasa di bajunya.

__ADS_1


Emely yang merasa membohongi segera berlari menjauh. Akan tetapi, Dani segera meraih tangan Emely dan dengan gerakan cepat menyambar tubuh ramping itu. Emely merangkulkan tangannya di leher Dani. Keduanya saling berpandangan.


"Kenapa bahagia sekali berpisah denganku?" tanya Dani sambil membuka pintu kamar dengan lututnya.


"Bukankah seharusnya begitu Dan? Kita menikah karna keterpaksaan, tidak seharusnya kita berdiri di atas takdir yang salah, kita harus segera memperbaikinya Dan," ucap Emely.


Deg


Dani merasa terusik dengan ucapan wanita di depannya, wanita yang sudah dia miliki seutuhnya. Apa pernikahan yang terjadi adalah takdir yang salah? Lalu, bagaimana seharusnya dia berdiri?


"Apa kau yakin takdir ini salah?" tanya Dani sambil meletakan Emely di atas ranjang.


Emely memejamkan matanya, jantungnya semakin tak waras. Emely membuka matanya dan tersenyum sambil menatap Dani dengan tenang.


"Kau mencintai Sifa, aku mencintai Raymon, jadi jawaban apa yang di dapat?" tanya Emely. Dani mengangguk pelan. Itu kenyataannya, mungkin kenyamanan dalam kebersamaan yang singkat ini akan menghilang seiring berjalannya waktu.


"Oke, bersiaplah. Kita ke rumah dulu mengambil mobil. Kau bisa bebas dan bersenang senang sesukamu Nona Rakhayla Emely Pradikta," ucap Dani sambil berdiri.


"Tapi, aku juga akan menerima jika pada akhirnya aku tetap di tolak karna aku bukan lagi wanita yang bisa mempeesembahkan sesuatu yang berharga padanya," ucap Emely terdengar lirih dan putus asa.


Deg


Dani yang hampir saja melangkah keluar kini menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya kemudian mengarahkan langkahnya ke arah Emely.


"Sepertinya besok pagi kau baru sampai di rumah, cepat beresi pakaianmu dan kita ke rumah di sebrang sekarang juga!" ucap Dani mencoba mengalihkan kesedihan Emely.


Emely membelalakan matanya, bagaimana bisa besok pagi baru sampai rumah? Emely melirik jam yang masih menunjukan pukul 10.00.


"Dan, ini masih pagi. Perjalanan dari sini ke rumah paling lama hanya 3 jam!" protes Emely.


Dani tak menghiraukan perkataan Emely, saat ini dia membawa paper bag Emely dan berjalan ke arah rumah pemberian Radit. Rumah yang memberikan kenangan tersendiri sehingga dirinya dan Emely akhirnya terjebak dalam suatu hubungan yang sangat sulit.

__ADS_1


"Dan," Emely bergegas mengejar langkah lebar Dani. Tak ada percakapan keduanya, sampai pada akhirnya mereka berada di depan rumah dua lantai yang berarsitek indah itu.


"Dani menatap paviliun samping rumah, Dani mengernyitkan dahinya saat melihat pak Ahmad berada di sana.


Bagaimana bisa lelaki itu tak muncul menolongnya saat itu? Kenapa dia sekarang juga ada di sini? Kemana dirinya saat itu? Sedikit rasa curiga berada dalam pikirannya, akan tetapi dia segera membuang jauh jauh pikiran liarnya.


Dani membuka pintu mobil dan meletakan peperbag milik Emely di mobil.


"Aku masuk sebentar, aku ganti baju. Sepertinya ada baju ganti di sana," ucap Dani.


"Aku ikut," ucap Emely yang penasaran dengan isi rumah dua lantai yang terlihat istimewa itu.


Emely dan Dani berjalan beriringan dan tampak takjup dengan arsitektur rumah yang sangat disukai Emely ini.


"Desainya aku suka banget," ucapnya.


Dani menghentikan langkahnya dan menatap Emely dengan tenang.


"Kalau kau suka kau bisa tinggal di sini," jawab Dani.


"Jangan bercanda, kita punya kehidupan masing masing Dan, bahagialah dengan hidupmu," ucap Emely sambil melangkah ke arah balkon kamar.


"Mungkin kita memang punya kehidupan masing masing, tapi malam ini hidupmu bersamaku, Nona!" ucap Dani kemudian melenggang pergi. Emely menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Sepertinya ketidak warasan Dani masih berlanjut hingga saat ini. Pikirnya.


Dani mengganti bajunya dengan salah satu baju yang berada di walk in closed di kamar mewah itu. Kaos oblong berwarna hitam dan celana pendek berwarna navy.


Setelah rapi dan tampak terlihat tampan, lelaki itu berjalan ke arah balkon kamar.


Emely yang saat itu merasakan puas menikmati pemandangan, berjalan ke arah pintu masuk.


Bruk, mereka bertabrakan dan saling menatap dengan teduh.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2