
Satu jam sudah Ardani dan Emely membeli beberapa belanjaan lengkap dengan bumbu dapurnya.
Dani membayar beberapa belanjaan yang dibawa oleh Emely itu, dan mereka segera berjalan menuju ke arah mobil.
Deringan ponsel berbunyi, segera Emely mengambil ponselnya.
"Halo lel, ada apa?" tanya Emely sambil memejamkan memijat pelipisnya.
"Nona, dimohon untuk segera datang ke alamat yang saya kirimkan dua jam lagi, untuk meeting diajukan pada jam itu. Mereka mengharap kehadiaran Nona Emely," ucap Lelyta.
Disaat yang bersamaan, Ardani juga mendapatkan telepon dari Ganesa. Bahwa mereka mendapatkan undangan meeting bersama dan dilakukan jam 11.00 nanti.
Dani menghela napas panjang, sepertinya urusan perutnya masih harus diatasi. Segera dia menjawab ucapan dari Ganesa.
"Oke, aku akan datang ke sana nanti. Kau kirimkan supir untuk menjemputku," ucap Dani.
"Siap Kak, dua jam lagi aku akan mengirimkan supir untukmu. Kau mau dijemput dimana?" tanya Ganesa.
"Di rumah Oma," jawab Dani dengan tenang.
"Baik kak," sahut Ganesa.
Dani yang baru saja keluar dari toilet segera mendekat ke arah Emely yang sudah siap untuk keluar.
"Sudah selesai?" tanya Dani. Emely yang merasa menunggu terlalu lama tampak menghentak hentakkan kakinya.
"Kau darimana saja? Lama sekali!" ketusnya kemudian berjalan ke arah mobil. Dani mengikuti langkah Emely. Keduanya segera naik, Dani melajukan mobilnya dengan tenang.
🎀🎀🎀🎀
Dani menghentikan mobilnya di sebuah rumah di sebrang jalan yang tampak sederhana tetapi begitu asri dan indah.
"Ini rumah siapa?" tanya Emely sambil menatap ke arah Dani.
"Rumah Oma, kau harus masak makanan yang banyak di sini, aku akan menemanimu," ucap Dani dan diangguki oleh Emely.
Mereka segera turun dan melangkah menuju rumah sederhana itu. Suasana sangat sepi, mungkin Oma Riana pergi jalan jalan bersama dengan asisten rumah tangganya sehingga tak ada di rumah.
Emely berjalan ke arah dapur, berkutat dengan beberapa bumbu dan beberapa daging. Emely begitu lihai memainkan sepatula dan wajan di atas kompor. Tangannya begitu lincah mencincang bumbu.
__ADS_1
Dani yang berada di luar tampak memandang ke arah Emely yang tampak sangat menikmati memasak.
Semerbak bumbu tercium dari arah dapur. Dani tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah Emely yang tampak berkeringat. Dani mendekat dan mengelap dahi emely dengan tisue yang kini ada di meja.
"Terimakasih Dan," ucap Emely dengan tenang. Dani mengusap wajah cantik Emely dan menatap wajah cantik itu dengan teduh.
Sangat cantik, Emely begitu cantik dan mampu mengusik hatinya. Akan tetapi, rasa cinta pada Sifa masih juga mengusik hatinya.
Emely mengangkat ayam goreng dari wajan, mengangkatnya kemudian meletakan ayam diatas piring yang sudah tersedia sambel dan beberapa sayur.
"Ayam apa ini?" Dani bertanya.
"Ayam penyet penuh cinta," jawab Emely asal sambil memandang Dani. Dani terkekeh pelan.
Akan tetapi, jawaban Emely tampak membuat Dani terusik dan menatap Emely yang tengah menata makanan di atas meja.
"Cinta siapa?" tanya Dani penasaran.
"Cinta Emely untuk,,," Emely menghentikan ucapannya dan menatap Dani.
"Untuk siapa?" tanya Dani lagi dengan tenang.
"Untuk semua orang," ucap Emely dengan tersenyum. Bahkan sebenarnya Emely juga bingung, cintanya untuk siapa saat ini. Bahkan, Raymon sampai saat ini tak datang padanya.
Dani memandang ayam penyet, tahu, tempe, sayur sop dan juga beberapa makanan menarik lainya yang sudah siap di atas meja.
"Kita makan," ucap Dani kemudian duduk santai di depan Emely. Matanya menatap ke arah ayam penyet. Dani mengambil ayam dan memasukan ke dalam mulutnya.
Dani tersenyum, Tak salah lagi. Emely begitu pandai memasak. Bahkan rasa masakan yang kini ada di depannya begitu memanjakan lidahnya. Mereka menikmati makanan dengan lahab. Menikmati cita rasa makanan yang menggugah selera itu.
Setelah selesai menyantap makanan, Dani memandangi pemandangan di depannya, wanita cantik dengan bibir ranum merah muda, hidung mancung, wajah putih bersih meski tanpa riasan sedikitpun, dan dikepalanya berhias hijab yang menyembunyikan rambut indahnya.
Emely mendongak mendapati Dani yang memandangi nya, sesegera Dani mengalihkan pandangannya.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan Tuan Dani?" tanya Emely sambil membereskan meja makannya.
"Hem," jawab Dani singkat.
"Apa?" tanya Emely
__ADS_1
"Pernikahan," ucap Dani. Emely tampak terkejut dan menatap ke arah Dani.
"Kenapa terkejut? Maksudku pernikahan yang kita jalani ini," ucap Dani lagi.
"Bukankah kesepakatan masih tetap sama? Kau mencintai Sifa? Bahkan jika kau bertanya tentang aku, aku masih tak tau jawabannya," ucap Emely.
Dani menghela napas panjang, bahkan untuk saat ini diapun tak tau bagaimana perasaannya.
"Aku tak perduli itu, yang ingin aku sampaikan adalah agar kau tidak salah paham saja, aku seperti ini, memintamu memasak dan lainya. Itu semua karna kau bersetatus sebagai istriku sah didalam pernikahan, bukan karena alasan lain. Aku tidak mau saja kau salah paham," ucap Dani.
Deg
Emely tampak mengangguk, rasanya hatinya begitu sesak.Akan tetapi Emely mencoba tersenyum dan mengangguk.
"Kau tenang saja Dan, aku tau posisi kita. Kita berteman, dan alangkah baiknya teman saling membantu," ucap Emely sambil tersenyum.
"Terimakasih atas pengertianmu Em, aku harap pertemanan kita tak berhenti sampai di sini," ucap Dani dan diangguki oleh Emely.
"Sudah siang Dani, aku harus ke kantor saat ini juga. Lain waktu kita bertemu lagi," ucap Emely mencoba untuk tetap baik baik saja kemudian berdiri. Dani mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih atas waktumu Em, sampai jumpa besok lagi," ucap Dani. Emely melangkah pergi. Hatinya terasa begitu sesak. Dani memejamkan matanya. Kenapa sesedih ini?
"Siapa dia?" tanya seseorang yang berada di belakan Ardani.
🎀🎀🎀🎀
Nyonya Nina melangkahkan kakinya menuju sebuah restauran mahal di sebrang jalan. Setelah meeting berlalu, dia segera menghubungi sahabatnya akan tetapi tak ada jawaban. Mereka bertemu di restauran ini.
Resah dan gelisah bercampur di hatinya, dia meminta waktu pada Sahabatnya untuk bertemu. Nyonya Nina mengedarkan pandangannya dan mendapati wanita cantik yang tengah menikmati jus sedang berada di ujung meja restauran.
"Elyna," sapanya sambil mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.
"Nina," jawab wanita itu dengan tenang. Keduanya tampak tersenyum bahagia.
"Lama sekali kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu," ucap Nyonya Nina.
"Aku juga sangat merindukanmu, sayang sekali ya pernikahan anakmu masih tertunda, bahkan pernikahan anakku juga sama. Kalau kita tidak mengaagendakan, kapan lagi kita bisa bertemu," ucap Nyonya Elina.
"Apa? Pernikahan putrimu juga batal?" tanya Nyonya Nina dan diangguki oleh Nyonya Elyna.
__ADS_1
"Entahlah Nin, putriku terkena musibah dan sampai saat ini kami belum bisa saling bercerita bagaimana kelanjutannya," lirih Nyonya Elyna.
🎀🎀🎀🎀🎀