
Haruskah dia menjawab dengan jujur? Dani tampak memejamkan matanya, menahan gejolak rasa sesak karna merasa bimbang.
"Apa kamu mau Mas?" tanya Emely lagi sambil memandang wajah tampan yang kini tampak bimbang.
Dani tampak berpikir keras, bagaimana reaksi Emely jika tau bahwa dia tak suka bubur sumsum? Emely menghela napas dalam-dalam.
"Aku..." Dani menghentikan ucapannya dan menatap ke arah Emely dengan tenang.
"Sebelumnya, aku boleh bertanya?" Emely menatap wajah Dani yang berdiri dan mengusap lembut wajah tampan itu dengan tangan mulusnya.
"Kau bebas bertanya apapun Dear," jawab Emely dengan pelan.
"Kamu mau jawaban yang jujur atau bohong?" tanya Dani.
__ADS_1
Emely memejamkan matanya, hanya bubur sum sum, tapi kenapa sepertinya Dani setakut ini? Emely terkekeh dan kini meraih tepung beras yang ada di meja. Dani duduk dan menatap Emely dengan tenang.
"Kamu seperti sedang memikirkan seauatu Mas. Aku tidak membutuhkan jawaban darimu," Emely meraih panci dan menuang tepung beras di panci.
Emely menghela napas panjang kemudian mengambil ponselnya yang beberapa hari dalam mode pesawat. Emely yang melihat beberapa panggilan dari Dani yang mengkhawatirkannya. Sifa yang mencari cari keberadaan dirinya tampak bahagia. Tak ada keraguan lagi yang ada dibenaknya untu Dani.
"Aku ingin kamu dalam mode angguk, aku tidak mau kamu menggeleng. Sebenarnya aku tau kalau kamu membenci bubur sumsum. Tapi aku ingin memaksamu, aku yakin kamu akan senang nantinya," ucap Emely sambil memperlihatkan profil Dani di gogle majalah bisnis dalam ponselnya.
Dani menghela napas panjang, dia dipaksa makan? Sejak dulu dia sangat membenci bubur sumsum bukan karna sesuatu yang serius. Dia membenci bubur sumsum hanya karna dia merasa bersalah pada seseorang.
Saat itu, Dani mengambil dengan paksa tas dan buku pelajaran seorang gadis yang tak mau memberikan uangnya. Dani mengejek adik kelasnya itu, karna gadis itu suka ngadu guru dan begitu manja sehingga dua kali dia dapat surat peringatan. Bahkan hanya gadis kecil itu yang berani mengadu, karna selain dia tak satupun ada yang berani melakukannya.
"Hu...." teriak siswi lainya ikut menyoraki gadis kecil itu.
__ADS_1
Saat itu, Dafa datang dan mengambil kotak makan gadis kecil itu yang berada di tas, kemudian Dafa membuang bekal gadis itu, sehingga gadis kecil itu menangis sesenggukan.
"Awas aja ngadu pada bu Guru lagi, aku kirim kau ke kebun binatang," sentak Dafa waktu itu yang masih jelas diingatannya.
Dani merasa geram dengan Dafa. Karna sejak saat itu, gadis cantik itu tak lagi menunjukkan wajahnya. Bahkan baru satu minggu di sana dia sudah pindah sekolah. Ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya, sehingga Dani membenci bubur sumsum. Setiap melihat itu, dia teringat sebuah peristiwa yang mengingatkan pada gadis kecil itu.
Emely menatap Dani yang bengong, dia mengibaskan tangannya di depan Dani.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Emely.
Dani menggelengkan kepalanya. Dia menghela napas panjang. Apa dia bisa melupakan kejadian yang selalu menghantui pikirannya sejak SMP itu?
"Tapi Sayang," sanggah Dani. Emely tersenyum. Dia yang dari dulu suka makan bubur sumsum tampak terkekeh.
__ADS_1
"Kau tidak akan mati karna bubur sumsum, sejak kecil aku suka. Bahkan ini adalah makanan vaforitku, aku akan membuatmu suka juga," ucap Emely dengan tersenyum.
****