
Sifa dan Dani masih tetap pada posisi yang sama, saling menatap dengan tatapan yang yang sangat intens. Pandangan mereka benar-benar seperti perasaan kecewa yang dalam dan tatapan keduanya sanggup dibaca oleh Emely.
Emely yang mendengar suara Sifa dan Dani yang saling menyebutkan nama membuat dia menyimpulkan sesuatu, ada perasaan aneh yang merayap di hatinya melihat pemandangan itu.
Perasaan apa? Entahlah, dia tidak tau. Yang jelas melihat Dani dan Sifa saat ini membuat huru hara tersendiri di dalam hatinya. Dia bukan anak kemaren sore, sudah jelas kedua orang di depannya menyimpan suatu perasaan yang sangat kentara sekali.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Emely. Netranya menatap ke arah Dani dan Sifa secara bergantian, membuyarkan lamunan dua insan yang tampak terkejut itu.
Dari pada penasaran, Emely bertanya terang- terangan. Toh dia dan Dani juga tidak saling mencintai. Meskipun Dani sudah mengambil mahkotanya, akan tetapi dia cukup tau bahwa Dani melakukan itu semua karna sebuah keterpaksaan. Sifa menoleh ke arah Emely, berusaha untuk tetap tenang.
"Kami...."
Sifa yang masih dalam keadaan terkejut sepertinya masih tak sanggup untuk berbicara. Jadi Ardani yang menikah? Dengan Nona Emely? Salah satu klien di Sheyna bontique? Hati Sifa merasa sesak mendapati kenyataan itu. Perasaan gelisah bergelayut di hatinya.
Kecewa? Pastinya. Dani selalu memenuhi otaknya, dan sekarang mendapati kenyataan yang seperti ini. Sifa menghela napas panjang, netranya memandang ke arah Emely yang menggunakan jas milik Dani. Dia juga melihat dengan jelas kostum yang digunakan Emely saat ini. Malam seperti apa yang dilewati Dani dan Emely dengan pakaian gaun di balik jas itu? Otak Sifa berkelana kemana-mana. Ingin menangis tapi dia bukan siapa siapa.
Oh tidak, Dani dan Nona Emely terjebak dalam suatu keadaan sehingga menimbulkan pernikahan. Pasti mereka tidak melakukan apapun. Emely mencintai orang lain, pasti Emely menjaga dirinya. Lalu Dani?
Sifa menggelengkan kepalanya, Walau bagaimanapun mereka sah menurut agama jika melakukan hal itu. Sifa menggeleng lagi, mencoba menepis segala perasaan yang muncul dalam otaknya.
"Hai, apa kalian mendengarku?" tanya Emely lagi. Sifa menatap Emely dan tersenyum. Sedangkan Dani melangkah maju dan menatap dua wanita yang berbeda kostum itu. Sifa dengan gamis dan jilbab yang menghiasi dirinya dan menambah kesan anggun, sedang Emely dengan kostum terbukanya. Walau sangat cantik dan menawan, akan tetapi jelas Sifalah yang saat ini menjadi pemenang dalam hati Ardani.
"Kami saling mengenal," ucap Sifa dan Dani secara bersamaan. Emely tersenyum sambil menatap Dani dan Sifa dengan tenang. Dipastikan memang apa yang dilihat olehnya adalah suatu kebenaran.
Aneh, jawaban mereka membuat Emely merasakan rasa lain dalam hatinya. Tapi segera mungkin Emely menepis perasaan yang seharusnya tidak ada itu.
Raymon, saat ini prioritasnya adalah lelaki itu. Dia masih harus berusaha menjelaskan tentang semua ini pada tunangannya itu, berharap Raymon menerimanya kembali. Mungkin tadi malam Raymon syok dan sangat terpukul sehingga berbicara kasar tentangnya.
__ADS_1
"Maaf, maksudku...." Sifa mencoba menjelaskan, akan tapi Emely sepertinya mencoba untuk mengerti.
"Sepertinya kamu tidak perlu tidak enak atau bagaimana Sifa. Aku dan Tuan Dani tidak ada hubungan apapun, tanya saja pada Abahmu. Beliau pasti tau apa alasan yang membuat kami harus tetap menikah. Jadi, no problem. Kalian saling mengenal bukankah lebih baik? Jadi kita sama sama kenal di sini. Bukankah begitu Tuan Ardani?" ucap Emely sambil mengalihkan pandangannya pada Dani dengan senyum indahnya.
Dani menautkan alisnya, menatap Emely yang begitu ceria. Entah, melihat wajah wanita yang tadi malam sangat pucat dan sedih berubah ceria memberikan bahagia di hatinya. Dani bergantian menatap Sifa yang juga menatap dirinya.
"Ya, kau benar sekali Nona Emely," sahut Dani. Emely menganggukan kepalanya.
"Aku merasa ada sesuatu diantara kalian, jangan jadikan aku orang ketiga dalam hubungan yang entah aku tak tau itu," ucap Emely sambil tersenyum menggoda Sifa.
Meski entah perasaanya hancur mengingat perbuatan Dani padanya. Yang jelas, perkataan yang dia lontarkan pada Sifa adalah perkataan yang dikatakan Dani pada Raymon saat itu.
Dani dan Sifa membelalakan matanya, pernyataan Emely membuatnya tak enak. Sedang Dani terkejut melihat raut wajah Emely yang bahagia saat mengucapkan itu. Apa artinya dia memperbolehkan Dani mencintai wanita lain saat menjadi suaminya?
Hais, bukankah apa yang diucapkan Emely memang benar? Dia dan Emely tidak ada hubungan? Lalu, bukankah seharusnya dia merasa senang karna tidak usah menjelaskan pada Sifa tentang perasaannya karna Emely sudah tau, bahkan menyampaikannya?
"Aku bukan anak kemaren sore, Sifa. Sudahlah, lupakan saja. Kamu kesini mau memberikan ini untukku?" tanya Emely mengalihkan permbicaraan sambil menatap ke arah rantang makanan dan juga paper bag.
Sifa mengangguk pelan, suasana berangsur membaik.
"Iya Nona, ini baju untuk Nona," sahutnya.
"Terimakasih Sifa, tapi lebih enak panggil aku Emely saja, Sifa. Aku harap kita berteman sesudah ini. Disini aku tidak ada teman, hanya ada buaya saja," ucap Emely sambil melirik ke arah Dani yang sampai sekarang masih berdiri.
Sifa menghela napas panjang dan menatap Emely yang tampaknya sedang bercanda. Dani mengepalkan tangannya. Buaya? Rasanya tak terima harga dirinya dijatuhkan di depan Sifa oleh Emely.
Emely berdiri, Sifa menatap Emely.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Nona?" tanya Sifa. Emely tersenyum ramah.
"Apa aku harus memanggilmu Neng Sifa juga?" tanya Emely yang sempat mengerti bahwa anak kiai biasa di panggil neng. Sifa terkekeh dan menggeleng pelan.
"Panggil aku Emely saja, oke. Aku mau ambil piring dulu, kita sarapan bersama disini. Bukankah lebih asik Tuan Ardani?" tanya Emely. Dani mengepalkan tangannya, kenapa seolah Emely mengejeknya?
"Maaf Emely, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Ada acara donor d*rah di pesantren, jadi sepertinya aku juga harus segera pulang, bukankah begitu Mbak Hani?" tanya Sifa pada abdi ndalem yang masih setia menunggunya itu.
"Iya, benar sekali Neng Sifa," jawab wanita itu.
"Oh, apa aku boleh donor juga?" sahut Dani. Sifa menatap lelaki menyebalkan itu dan mengangguk.
"Boleh, siapapun boleh beramal. Semoga Allah memberikan pahala atas niat baiknya," sahut Sifa.
"Kalau begitu saya pamit dulu Em, Asalamualaikum," ucap Sifa sambil melangkah keluar.
"Waalaikumsalam,"
"Oh iya, abah berpesan tadi, mainlah ke pesantren. Kita berbincang di sana dengan tenang," tambah Sifa lagi.
"Akan aku usahakan," ucap Emely. Sifa tersenyum dan melangkah pergi.
Emely memutar langkah saat Sifa sudah menjauh, dia terkejut saat Dani tepat berdiri dibelakangnya. Keduanya sangat dekat, dia bisa merasakan detakan jantung Dani, Emely memdongak. Netranya mengamatai Dani yang menatap Sifa yang semakin menjauh.
"Kau mencintainya?" tanya Emely. Dani yang semula menatap Sifa kini menunduk. Menatap wajah Emely dengan intens.
ππππ
__ADS_1
Selamat pagi, semoga selalu sehat. Tetap dukung karya othor ramah ya.. Insya Allah jika diizinkan akan crazy up kedepannyaππ. Jangan lupa, like komen dan hadiah ya...wkwkw