
Emely melangkah ke kamarnya, menyiapkan segala sesuatu untuk ke kantor. Dani akan menjemputnya nanti? Dia sangat bahagia, semoga saja dia tidak kecewa nantinya.
Kecupan hangat dari Dani masih terasa di keningnya. Emely tersenyum pelan hingga suara deringan ponsel terdengar di telinganya.
"Lelyta," ucapnya.
"Halo Asalamualaikum Lel, ada apa?" tanya Emely sambil memasukan beberapa berkas di dalam tas.
"Maaf Em, aku hari ini tidak bisa masuk kerja. Ibu kambuh dan aku terjatuh sehingga tidak bisa berjalan," ucap Lelyta terdengar sedang menangis.
"Kamu baik baik saja Lel? Kamu dan ibu di rumah sakit mana? Aku akan menjenguk ibu nanti," ucap Emely dengan hawatir.
"Tidak perlu Em, aku sudah sering merepotkanmu. Aku tidak enak," ucapnya. Emely menghela napas panjang.
"Oke, cepat sembuh Lel, hubungi aku jika kamu perlu bantuan Lel, jangan sungkan. Bukankah kita bersahabat sejak dulu?" ucapnya dengan tenang.
"Terimakasih Em, kalau begitu aku istirahat dulu, asalamualaikum Em," ucap Lelyta kemudian menutup ponselnya.
Emely meletakan ponselnya dan berpikir sejenak, kenapa Lelyta akhir akhir ini sering izin dan tak pernah bercerita ada apa dan karena apa?
"Ada apa sayang? Kok bengong?" Mama Elyna menatap Emely dengan tenang. Mengusap wajah cantik itu dengan pelan.
Bibirnya tersenyum melihat Emely yang kini tampaknya sedang berbenah diri lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta langit dan bumi.
"Lelyta Ma, dia izin," ucapnya.
"Memangnya kenapa?" tanya mamanya.
"Aneh saja menurutku, dia sering sekali izin tapi tak cerita apapun padaku," ucapnya.
"Doakan saja, semoga Lelyta baik baik saja," ucap mamanya.
"Amin," ucapnya.
"Ma aku berangkay ya," ucap Emely sambil menatap mamanya dengan teduh.
"Hem, hati hati," jawabnya.
"Em," Mama Elyna memanggil putrinya dan menatapnua dengan tenang.
"Ya," jawabnya.
"Apa kamu nyaman berpenampilan seperti ini?" tanya mamanya sambil menatap putrinya.
Emely melihat dirinya sendiri kemudian tersenyum menatap ke arah ibunya dengan senyuman.
"Aku nyaman seperti ini ma, Em bukan wanita yang baik. Akan tetapi Em ingin menjadi lebih baik, apa aneh ma?" tanya Emely pada mamanya.
"Tidak, mama bangga padamu," ucapnya.
__ADS_1
Emely memeluk erat tubuh mamanya, mendekap erat wanita itu.
"Oh iya Ma, dimana kak Vino? Kenapa beberapa hari dirumah aku tidak pernah melihatnya?" tanya Emely.
Mama Elyna memejamkan matanya, Vino tengah sibuk dan mama Elyna melarang putranya untuk pulang dulu. Bahkan Vino telah menikah dengan Micela korban tabrak Emely.
Jika mama Elyna memberi tau, apa Emely akan bisa menerima? Sedangkan dari cerita yang di dengarnya, Dani menculik Emely karna kejadian itu. Mama Elyna hanya menunggu waktu untuk menjelaskan semua pada putrinya. Setidaknya sampai ada kejelasan hubungan Emely dan Dani.
Dan lagi Emely juga belum tau tentang kakaknya yang telah ditemuka , jika suatu saat nanti kabar baik dari Dani dan Emely sudah jelas. Dia pasti juga akan memberitahukan bahwa kakak perempuan yang hilang sejak kecil sudah di temukan. Mama Elyna berharap tiga anaknya meraih kebahagiaan, dan dia akan merayakan dengan besar pastinya.
Mama Elyna juga meminta pada Vino bahkan keluarga besar MRD untuk tidak membeberkan semua ini pada Emely dan Dani dulu tentang semua itu.
"Kakakmu sibuk, dia ada urusan dan tidak bisa pulang," ucap mamanya.
"Padahal aku kangen, pengen sekali aku memukulnya," kekeh Emely. Mama Elyna terkekeh pelan. Emely merasakan kepalanya kembali pusing, dia sedikit terhuyung mundur.
"Em, kenapa Nak?" tanya mamanya. Emely menggeleng pelan.
"Em sedikit pusing aja Ma, entar juga hilang sendiri. Em brangkat ya Ma," ucap Emely dan diangguki mama Elyna. Keduanya berjalan bersama menuju ke pintu utama.
"Nanti Mama ada janji sama sahabat mama, bertemu dengannya di mol," ucap mamanya.
"Mol?" tanya Emely.
"Ya, dia ngajak shoping. Katanya pusing, mau curhat. Lama sekali kami tak bertemu sejak kami sama sama ikut suami, eh beberapa hari yang lalu kami dipertemukan, ya sebentar berbincang dan belum puas," ucap Mama Elyna.
"Entahlah, sepertinya memikirkan putranya yang seusia dengan kakakmu itu," jawab mamamya.
"Kenapa putranya ma?" tanya Emely.
"Kamu kepo deh, nanti nyusul aja kalau ada waktu, mama kenalkan kamu padanya," ucap Mama elyna.
"Oke, aku usahakan Ma. Em brangkat dulu Ma, asalamualaikum," ucap Emely setelah sampai di depan pintu utama.
"Waalaikumsalam," jawabnya saat putrinya mencium pipi kanan dan kirinya.
Emely menapaki anak tangga turun ke parkiran. Emely menancap gas mobilnya melewati jalanan pagi yang begitu sepi. Emely mengulurkan tangannya mencari cenel radio dan menghentikannya pada satu cenel yang tengah memperdengarkan salah satu lagu yang indah yang berjudul Andai kau tau.
Emely tersenyum bahagia, satu wajah tampan yang kini menghantui pikiranya. Wajah tampan yang selalu mengusik hatinya. Bahkan, wajah Raymon mantan kekasih sekaligus mantan tunangannya itu kini seperti tertelan bumi entah kemana.
Emely menghentikan mobilnya di depan RE Colection banyak sekali kerumunan wartawan yang saat ini ada di depan bangunanan berlantai Empat itu.
Lantai satu, restauran dan segala kelengkapannya. Lantai dua, fashion dan segala kelengkapannya. Lantai tiga Perhiasan dan segala pernak perniknya. Lantai empat adalah ruangan kantor untuk beberapa staf dan jajaran kepengurusan RE colection.
Bahkan, dulunya Emely adalah salah satu agency permodelan yang sempat menyalurkan beberapa model untuk mengembangkan karirnya. Bahkan, dalam ajang fashion mode Sheyna bontique beberapa bulan yang lalu dia masih aktif di dunia itu. Akan tetapi, saat ini rasanya dia tak mampu menggelutinya dan memilih menyerahkan semua pada Felix salah satu sahabat baiknya sejak kuliah.
Walau mengundurkan diri dari dunia itu. Namanya, terlanjur dikenal wartawan dan pastilah mereka akan mencari tau sesuatu.
Emely sudah hampir empat minggu tidak hadir di kantornya, mengingat kesibukan dan beberapa masalah yang menimpanya beberapa minggu terakhir ini. Lalu, kenapa para wartawan ada disana? Apa yang mereka cari?
__ADS_1
Emely keluar dari mobilnya, saat itu juga para wartawan mendekat ke arahnya.
"Nona Rakhayla, kami mau bertanya. Apa benar anda melakukan hal tidak senonoh di suatu desa kemudian di grebek warga?" tanya salah satu wartawan yang kini menatap Emely dengan memberikan selembar foto yang mempeelihatkan dirinya dan Dani akan tetapi tidak begitu jelas itu.
"Apa ini foto anda?"
"Dengan siapa anda melakukan ini?"
Deg
Emely tampak memejamkan matanya, apa lagi yang akan menimpa hidupnya.
"Kenapa anda sekarang berpakaian seperti ini? Apa untuk menutupi aib yang tengah bergulir?"
tanya salah satu dari mereka dan mampu membuat Emely meneteskan air mata.
🎀🎀🎀🎀
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Lelyta terikat di sebuah kursi kayu, ibunya yang menderita sakit ginjal terbaring di sebuah ranjang yang kecil.
Air mata Lelyta mengalir deras. Ibunya adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah keluarga Ardiansyah. Ayahnya sudah lama meninggal. Bahkan dirinya kuliah karena beasiswa sehingga bertemu dengan Emely.
Saat ini, ibunya disandra. Jika Lelyta tak mau melakukan apa yang diminta oleh Tuan Wilson, maka lelaki itu tak segan segan menghabisi nyawa ibunya. Lelyta menerawang jauh pada kejadian yang telah lalu.
"Kau, aku tidak mau tau jebak Emely sehingga bersama dengan orang lelaki. Kau juga harus memasukan obat perangsang pada lelaki itu. Kau ambil gambar dan berikan padaku!" sentak Tuan Wilson.
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya!" sentak Lelyta.
"Kau lihat ini? Aku bisa saja menembak ibumu saat ini juga!" teriak Tuan Wilson sambill mendorong tubuh Lelyta.
Lelyta tersungkur dibawah dan bertekuk lutut di depan Tuan Raymon.
"Jangan sakiti ibuku Tuan," ucap Lelyta.
"Lakukan apa yang kuminta," ucap Tuan Wilson sambil menendang Lelyta sehingga wanita itu tersungkur dilantai.
Tuan Wilson melangkah pergi, Lelyta menghampiri ibunya.
Seekor lalat membangunkan Lelyta dari lamunannya. Saat ini, Lelyta kembali menatap ibunya. Kemudian menatap dirinya yang terikat di sebuah kursi.
Waktu itu dia tidak memberikan foto pada Tuan Wilson, akan tetapi dia sempat mengambil gambar Dani dan Emely. Namun, baru kali ini Tuan Wilson meminta gambar itu. Awalnya Lelyta menolak memberikan, akan tetapi Tuan Wilson kembali menyekap ibunya. beberap kali Lelyta berusaha mengajak kabur ibunya untuk tinggal bersamanya. Akan tetapi gagal, bahkan Tuan Wilson tak pernah memberikan izin untuk mengundurkan diri dari ART disana .
Lelyta menghela napas panjang, membayangkan wajah Emely yang begitu baik padanya.
"Em, maafkan aku," ucapnya.
🎀🎀🎀
Like, komen, hadiah ya...
__ADS_1