Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kejujuran Lelyta


__ADS_3

Lelyta hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Dafa.


"Apa tuan Wilson melibatkanmu dalam rencananya? Kenapa kau disekap olehnya?" tanya Dafa lagi dan membuat Lelyta memejamkan mata indahnya.


Dafa mengamati gerak gerik wanita cantik yang kini berada di depannya. Bibirnya tersenyum. Bahkan dia pikir Lelyta gadis bar bar ternyata dia manis juga. Bahkan dia sangat proaktif.


"Ya, aku dijebaknya. Bahkan nyawa ibuku yang menjadi taruhannya," ucap Lelyta sambil membuka matanya menatap ke arah Dafa yang kini masih mengamati dirinya. Keduanya saling berpandangan, sorot mata mereka bertemu dan kuduanya saling mengalihkan untuk sesaat.


"Jadi kau disekap karna ini? Jadi apa yang terjadi antara Emely dan Dani ada hubungannya denganmu?" tanya Dafa sambil menyedekapkan tangannya di depan dada. Netranya mengamati Lelyta yang begitu tenang.


"Ya, aku terpaksa melakukan ini semua. Ini yang kedua kalinya aku disekap oleh Tuan Wilson. Dan aku juga pernah disekap oleh orangnya Tuan Ardani," ucap Lelyta sambil melirik Dafa yang dipastikan tau tentang penyekapan itu.


Dafa menautkan alisnya, disekap orangnya Dani? Bukankah itu Rudi? Dan bukankah Rudi bekerja menurut intruksinya. Lalu, bukankah Rudi tak pernah menyekap wanita. Lalu kenapa Lelyta bilang pernah disekap Rudi? Astaga, padahal yang kemaren diinterogasi seorang lelaki, bagaimana bisa Lellyta mengatakan dia disekap?


"Kau jangan bercanda, penyekapan dari Dani aku yang mengintruksikan. Bahkan aku membebaskan dan memberi uang tunjangan, dan kupastikan itu bukan kau, Nona," ucap Dafa membela diri.


Lelyta tersenyum dan menatap ke arah Dani.


"Berikan pekerjaamu padaku. Aku bisa menjalankan dua perusahaan sekaligus, sepertinya aku jauh lebih pandai darimu. Begitu saja kau tidak bisa? Sangat mengejutkan, ini yang membahayakan. Kau bisa dikelabuhi semudah itu," ucap Lelyta dan sanggup membuat Dafa emosi. Tapi benar, dia tak tau kalau saat itu dikelabuhi.


"Sangat menarik," lirih Dafa di tengah emosi yang menggebu.


"Kau disekap berkali kali? Dan kau baik baik saja? Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Dafa lagi.


"Hidupmu terlalu bahagia untuk tau bagaimana sulitnya hidupku, aku terlahir di keluarga yang sederhana. Untuk sampai di titik ini bagiku tidak mudah Tuan Dafa. Banyak sekali hambatan dan ancaman yang aku lalui," ucap Lelyta sambil menatap Dafa yang saat ini menatapnya dengan intens. Sungguh, wanita dihadapannya begitu menarik perhatiannya.


Dafa terkekeh dan mendekat ke arah Lelyta. Wanita cantik itu berdiri, netranya melirik waspada pada Dafa yang mengulurkan tangannya.


Bug Bug


Dengan cekatan lelyta memluntir tangan Dafa, Dafa yang seolah kalah mengikuti gerakan Lelyta. Lelyta tersenyum sinis seakan memenangkan aksi ini, akan tetapi saat itu Dafa menggerakan badannya membuat tubuh kecil lelyta terpluntir dan terpelanting ke belakang. Dengan cekatan tangan Dafa meraih pinggang Lelyta sehingga mereka saling berpandangan.


Lelyta menatap sorot mata Dafa yang kini tersenyum smirk menatap ke arahnya. Wajah tegangnya seakan tak terima bahwa pria menyebalkan itu kini memegang tubuhnya.


"Kau tak cukup pandai untuk mengelabuhiku Nona," ucap Dafa sambil mendorong tubuh Lelyta sehingga wanita itu kembali berdiri.


Wanita cantik itu menghela napas panjang dan kembali merapikan bajunya yang sedikit berantakan.


Lelyta menatap Dafa dengan geram, Dafa cukup menantang baginya, tidak bisa disepelekan.


"Kembali duduk di tempatmu," ucap Dafa. Lelyta tetap berdiri dengan emosinya. Dafa menghela napas panjang dan mengambil sebotol aqua, diserahkanya botol itu pada Lelyta.


"Minumlah," ucapnya. Lelyta masih diam dan tak mengambilnya.


"Perlu aku paksa?" Dafa mengambil ancang ancang untuk bergerak. Lelyta mengambil air itu dengan terpaksa dan meneguknya.


Gerakan tadi cukup memberikan keringat untuk Lelyta, hingga saat minum dan mendongak membuat Dafa mengalihkan pandangannya. Rasa aneh merayap dalam hatinya, leher jenjang Lelyta tampak sek*i baginya.


Dafa juga sayang melewatkan momen ini, Lelyta selesai minum. Wanita cantik itu meletakan botol dan kembali duduk, rambut Lelyta yang berantakan menarik perhatian Dafa.


Dafa mengambil jepitan yang ada di sakunya, jepit rambut milik Ganesa yang tadi dititipkan kepadanya.


Dengan cepat lelaki tampan itu menjepitkan jepitan rambut itu di kepala Lelyta, membuat wanita itu terperanjak kaget.


"Jangan bergerak, kau pelayanku, tapi aku berbaik hati melayanimu. Jangan protes, aku hanya membantumu supaya rambutmu tak berantakan," ucapnya. Lelyta menghela napas panjang. Jantungnya bergetar hebat, benci pada sosok ayah yang menduakan ibunya membuat wanita cantik itu sangat menghindari banyak laki laki.

__ADS_1


Setelah selesai memakaikan jepit rambut kini Dafa kembali duduk. Ditatapnya Lelyta yang kini mengusap bekas tangan Dafa di rambutnya. Gerakan Lelyta membuat Dafa tersenyum.


"Jadi apa motif Tuan Wilson menjebak Emely?" tanya Dafa kemudian meneguk air putih dalam botol yang tadi di minum Lelyta. Membuat Lelyta mengeenyitkan dahinya. Sangat menyebalkan.


Tapi, Lelyta tampak tak perduli dan hanya berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan Dafa.


"Kau tau, Tuan Wilson menginginkan perusahaan milik papa Emely yang bisa jatuh ke tangannya apa bila Emely menghianati Raymon. Tuan Wilson menghalalkan segala cara, salah satunya meminta aku menjadi mata mata untuknya. Dan dia akan menyakiti ibuku bila aku menolaknya," ucap Lelyta dengan tenang. Sebenarnya kegugupan masih mendera hatinya.


"Lalu, bagaimana bisa kau melibatkan Ardani? Bagaimana bisa kau diam saja dan tak mencoba untuk kabur? Kau cukup mampu melakukannya, Bahkan kenapa bisa kau tak jujur pada Emely?" tanya Dafa tampak geregetan.


Lelyta menatap lelaki itu, apa dia pikir dia pernah mencoba? Berkali kali dia lolos, tapi ibunya yang lemah tak bisa keluar. Sekarang kenapa dia tampak emosi dan seakan menyalahkan? Menyebalkan.


"Aku terpaksa melibatkan Ardani, aku bingung dengan siapa aku menjodohkan Emely saat itu. Walau keselamatan ibu terancam, aku tidak bisa membiarkan Emely tidur dengan lelaki sembarangan," ucap Lelyta sambil melirik Dafa yang tadi memegangnga dengan asal. Ucapan Lelyta sontak membuat Dafa menautkan alisnya.


Jadi kejadian Emely datang ke ARW bersamaan dengan pesta pernikahan yang gagal itu karna Lelyta? Sampai seperti itu berpikir? Secerdik itukah manusia di depannya?


"Yang lebih membuat aku bahagia adalah, ketika Takdir membantuku dan mempermudahku. Ketika tanpa aku tau mereka ada masalah pribadi dan akhirnya pergi berdua kemudian menikah. Rasanya rasa bersalahku sedikit berkurang, karna saat itu tuan Wilson memaksaku memasukan obat pada Dani," ucapnya. Lelyta menghela napas panjang memikirkan saat saat sulit waktu itu.


"Setidaknya Emely melakukan hal itu pada orang yang telah sah memilikinya," ucap Lelyta lagi.


"Entah pada akhirnya nanti Emely akan marah karena tau apa yang aku lakukan, yang jelas aku tidak mau ibu atau sahabatku menderita, bahkan aku sudah mengupayakan yang teebaik untuknya," ucap Lelyta.


Dafa tersenyum ada sedikit rasa bangga pada wanita di depannya. Jika dia peeduli dan menjaga sahabatnya sedemikian rupa, pasti dia juga perduli dan menjaga dirinya sendiri dengan baik. Pantas saja dia sampai waspada seperti tadi.


Dafa menghela napas panjang, sampai disini dia tau, perusahaan yang diajukan Tuan Wilson untuk bekerjasama dengannya adalah perusahaan Emely. Lebih mudah untuk menjebak lelaki jahat itu. Lagi, obat perangsang dan semua kejadian penjebakan dilakukan Tuan Wilson ternyata dengan melibatkan Lelyta dan keluarganya.


Selesai sudah tugas dari Dani, tanpa banyak Drama dia bisa mendapatkan apa yang dia mau. Lagi, dia bertemu dengan wanita cantik yang sangat menarik baginya.


"Terimakasih atas kejujuranmu. Aku bangga padamu, kau terlalu jujur dan apa adanya," ujar Dafa. Lelyta yang tadi emosi kini tertawa.


"Aku bukan orang yang suka dengan kepalsuan, aku memang begini. Aku tidak pernah mau berkata yang tidak sesuai dengan kenyataannya," ucap Lelyta.


"Apa mungkin kau menganggapku palsu?" tanya Dafa antusias. Lelyta menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak juga bilang begitu, aku membicarakan diriku sendiri," ucap Lelyta.


"Apa kau tidak bermaksud untuk membicarakan ini Paada Emely?" tanya Dafa. Lelyta tersenyum tapi perlahan senyumanya menghilang.


"Itu akan segera aku lakukan, saat ini aku dan ibu sudah bebas dari Tuan Wilson. Tidak ada lagi penyiksaan, dan aku akan mengatakan pada Emely," ucap Lelyta.


Dafa tersenyum, Lelyta benar benar menyita perhatiaanya. Rasa kagum melekat di hatinya.


"Oke, aku akan membantumu nantinya," ucap Dafa.


"Benarkah? Kau mau membantuku?" Lelyta memastikan.


"Ya, kau pelayanku. Sudah sepantasnya kita saling membantu bukan?" tanya Dafa balik sambil tersenyum sinis.


Lelyta menghela napas panjang. Pelayan lagi, pelayan lagi, sangat menyebalkan ucapan lelaki di depannya itu.


"Aku akan meminta bantuanmu nanti, aku juga bingung harus memulainya kapan. karna saat ini aku juga masih disini bersamamu,"


"Oke.. tidak masalah," ucap Dafa.


"Kau jawab jujur. Bagaimana bisa kau lolos dari sekapan orangku waktu itu?" pertanyaan Dafa membuat Lelyta terkekeh. Itu lagi.

__ADS_1


"Kau penasaran?" tanyanya.


"Aku meminta sepupuku untuk menggantikan aku, Tuan," ucap Lelyta.


"Aku salut padamu, meski tak bisa mengalahkan aku. Ku akui kau sangat hebat, Nona Aurora Lelya Anggita," ucapnya. Wajah Lelyta tampak merona mendengar ucapan Dafa.


"Boleh aku meminta nomer ponselmu?" tanya Dafa, Lelyta memandangnya dengan waspada.


"Bagaimana kita bisa saling membantu jika aku tidak memiliki nomer ponselmu." lanjut Dafa, sambil memberikan ponselnya. Lelyta menganggukkan kepalanya dan menuliskan nomer ponselnya di ponsel Dafa.


"Ini, itu nomorku," ucap Lelyta.


"Ok," jawab Dafa.


"Oh ya, lain waktu aku akan mengganti uangmu. Saat ini aku tidak punya uang sebanyak itu. Ibuku baru saja oprasi dan menghabiskan biaya yang banyak," ucap Lelyta.


Dafa terusik dan menatap ke arah Lelyta.


"Aku tidak memintamu mengembalikan, lagi pula aku memberikannya sendiri. Bukan pula permintaanmu, kau tidak berhutang padaku," ucap Dafa.


Lelyta kembali tersenyum dan menatap Dafa.


"Terimakasih Tuan Dafa," ucapnya.


"Panggil aku Dafa, kau memang pelayanku tapi anggap saja aku temanmu," ucapnya.


Lelyta menghela napas panjang, entahlah apa kata Dafa saja.


"Oke, aku pamit kembali, sudah malam. Pasti ibu mengjawatirkan aku," ucapnya dan diangguki oleh Dafa.


Lelyta berdiri, menatap Dafa sekilas kumudian melenggang pergi. Dafa tersenyum dan menatap punggung Lelyta yang menjauh darinya.


Dani, kita bertemu malam nanti. kirim. Dafa memasukan ponselnya kemudian melangkah pergi.


🎀🎀🎀🎀


Papa Pradikta dan Mama Elyna yang baru saja menelpon Emely kini saling berpandangan.


"Memang kita ada acara apa pa? Aku belum jadi ketemu sama Nina, besok kok," ucapnya.


"Ya acara kita di kamar ma, dimana lagi," ucapnya.


"Ngomong ngomong Nina siapa? Tampaknya aku tak asing dengan namanya, tapi aku belum tau orangnya," ucap papa Pradikta.


"Memang kamu belum pernah ketemu, makanya besok aku mengajakmu bertemu dengannya," ucap Mama Elyna.


"Besok aku ada meeting denga. Tuan Hendra Wijaya," ucapnya sambil menatap ke arah istriny.


"Kamu selalu seperti itu," ucapnya.


"Kita tidur, mumpung sepi," ucap Papa Pradikta dan diangguki mama elyna.


🎀🎀🎀


Like komen dan hadiah yak..wkwkkw

__ADS_1


__ADS_2