
Emely merasakan detakan jantung yang tak beraturan. Bahkan saat ini dirinya seperti tersihir ucapan Dani agar dirinya tetap diam dan tak melakukan apapun.
Dani memejamkan matanya, sungguh dia merasakan kenyamanan yang sedari kemarin tak dia rasakan. Begitu juga dengan Emely, wanita cantik itu merasakan kenyamanan yang sama.
Emely tak sanggup lagi merasakan detak jantung yang kian semakin cepat. Emely memutar tubuhnya, terang saja keduanya saling berpandangan, kedua tangan Dani melingkar sempurna di pinggang Emely. Mawar merah masih tetap berada di tangan Dani yang kini ada di belakang.
Dani menatap intens, wajah wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Mendekat, dan semakin mendekat. Dani mengangkat dagu Emely, sungguh berada di dekat Emely membuat dirinya selalu merasakan hal bodoh yang seharusnya dia jauhi malah dia lakukan.
Dani mendekat dan menempelkan bibirnya kepada Emely, mencium wanita cantik itu ditengah dinginya suasana malam yang membutuhkan kehangatan.
Emely masih tersihir, bahkan dia tak mampu memberontak sesdikitpun, menikmati ciuman lembut yang diciptakan oleh Dani. Semula Emely berdiam, tapi gigitan Dani membuatnya sedikit tertarik dan pada akhirnya membalas ciuman Dani.
Dani menyunggingkan senyuman, mereka menikamati momen indah ditengah suasana malam yang tadinya dingin kini telah berubah menjadi hangat.
Walau ciuman Emely masih terasa kaku, akan tetapi Emely juga bisa mengimbangi. Walau belum lihai, dipastikan istri sirinya pernah melakukan hal yang sama dengan kekasihnya. Hais, Dani merasakan hawa panas menjalar di hatinya. Kenapa dia tak rela, walau sudah berlalu rasanya dia ingin menghapus jejak bibir lelaki itu dari bibir Emely.
Beberapa detik kemudian, Mereka menghentikan aktifitas. Pasokan oksigen dalam tubuh sepertinya telah berkurang sehingga kedua orang itu kini saling berpandangan. Tak ada kata yang mampu terucap, hanya warna merah keduanya yang mewakili rasa yang ada.
"Kau pandai sekali membalas ciuman dariku, sudah berapa kali kau berciuman dengan kekasihmu?" Dani kini memandang Emely yang tampak syok dan malu atas pertanyaan Dani.
Emely memejamkan matanya, sangat tidak berbobot pertanyaan yang dilontarkan suami sirinya itu. Memang dia pernah berciuman dengan Raymon. Akan tetapi, tidak sering juga.
Sekali, ya sekali saja dia berciuman dengan Raymon. Karna memang, Emely menjaga dirinya dengan baik. Tak mau melakukan hal yang pastinya akan merugikan dirinya sendiri. Tapi aneh sekali, rasa yang ditimbulkan tidak seperti ciuman bersama Dani yang menurutnya bisa membuat jantungnya hampir melompat.
"Memang, aku melakukannya setiap hari!" Bohong Emely pada Dani, malu saja jika dia hanya ciuman sekali.
Dani terkekeh pelan, dia bukan lelaki bodoh. Bahkan, dia tau ciuman kaku Emely bisa menjelaskan jawaban kebohongan yang dilontarkan istrinya.
"Oke, berarti aku akan mencuri ciuman darimu setiap hari juga. Sama seperti yang kau lakukan dengan Raymon," ucap Dani.
__ADS_1
Emely membelalakan matanya, rasanya jengkel sekali pada Dani. Emely mendorong Dani menjauh darinya, Dani mundur beberapa langkah dan melepaskan tangannya dari Emely.
"Apa maksudmu Dan? Jangan melakukan yang tidak-tidak. Kau tau Dan, kita menikah karna terpaksa. Kau mencintai Sifa, dan aku mempunyai Raymon. Tolong jangan memperumit keadaan Dan," ucap Emely. Entah, mengingat Dani bersama Sifa tadi sore membuatnya sakit. Tak mau saja dia merasakan sakit yang berkelanjutan di hari berikutnya jika dia dan Dani sedekat ini.
Dani mengepalkan tangannya, ucapan Emely mengusik pikirannya. Rasa geram tumbuh dalam hatinya.
"Kau bukan Dewa yang bisa mengaturku Em. Saat ini kau adalah istriku, walau kau mempunyai kekasih. Sah sah saja aku melakukannya, meski tanpa cinta juga. Bahkan aku sah melarangmu melakukan hal seperti ini dengan selain aku selama kita masih dalam status pernikahan," tegas Dani.
Deg
Rasa sesak menyeruak di hati Emely, air matanya mengalir. Kenapa? Entahkah. Emely tak bisa menjabarkan perasaanya. Sangat menyakitkan ucapan Dani baginya, walau memang itu kenyataannya.
Emely mengusap air matanya, Dani memejamkan matanya. Apa dia keterlaluan?
"Antar aku pulang Dan, Raymon ada di rumah. Aku harus mencari kelanjutan dari rencana pernikahanku dengannya," ucap Emely.
"Aku lelah," jawab Dani.
"Oke, aku pulang sendiri," Emely mengambil tasnya. Netranya memandang ke arah pasmina di atas meja yang mungkin disiapkan oma tadi. Entah, dia ingin belajar menutup auratnya sehingga mengulurkan tangannya meraih pasmina dan memakainya kemudian berjalan menuju pintu kamar.
Dani yang semula diam kini menarik tangan Emely, dia harus mencegah wanita itu bertemu dengan Raymon.
"Dani please, tolong biarkan aku pergi!" sentak Emely sambil menatap tajam ke arah Dani. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan Raymon saat ini juga, hingga saatnya tiba nanti dia juga harus menyelesaikan urusannya dengan lelaki yang saat ini ada di hadapannya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi," jawabnya dengan penekanan.
"Kenapa Dan? Aku harus pergi," ucap Emely.
"Apa kau pelupa? Aku bilang padamu untuk menemaniku malam ini!" sentak Dani.
__ADS_1
Deg
Emely memejamkan matanya, sangat geram dengan lelaki yang menyandang status sebagi suaminya itu, sangat menjengkelkan. Hubungan tidak jelas arahnya, tapi meminta haknya. Menyebalkan.
Emely tidak mau berdebat lagi, dia harus mencari cara agar bisa keluar dari sini bagaimanapun caranya.
"Oke, aku temani kau tidur malam ini. Tapi dirumahku," ucap Emely. Dirinya tak menolak, tapi dipastikan Dani yang akan menyerah dan tak mau.
Dani menautkan alisnya, ucapan Emely bagai tantangan bagi Dani. Ke rumah mertua? Tuan Pradikta? Tidur bersama Emely disana? Bahkan dia belum mengenalkan Emely pada mamanya. Lalu, sekarang diajak ke rumah Emely.
"Oke, aku antarkan kau kesana," jawab Dani.
Deg
Jantung Emely beedetak tak karuan, Dani setuju? Bagaimana bisa?
"Ehem," Emely berdehem dan menatap ke arah Dani. Apa penawaranya salah? Kenapa Dani mau? Dia pikir Dani akan menolak.
Dani melihat Emely tampak bengong, Dani tersenyum menang. Menatao wajah cantik yang kini berbalut pasmina warna moca. Dani mengambil tangan Emely, menyerahkan bunga mawar merah ke tangan istrinya.
Mawar untukmu, semoga kau suka. Ucapan itu hanya mampu bertahta di hati Dani.
"Bawa bunga ini, aku mau ganti baju," ucapan yang sanggup keluar dari mulut Dani saat menyerahkan mawar merah itu pada Emely.
Emely menatap rangkaian bungan cantik itu, dia teesenyum, tapi sebentar kemudian rasa gugup menyelimuti dirinya. Bagaimana jika Dani bertemu dengan orang tuanya? Apa yang akan teejadi? Apa orang tuanya mengizinkan Dani sekamar dengannya? Hais, kenapa dia sekarang Emely yang ribet sendiri.
Tak lama dari itu, Dani keluar dari ruang ganti dengan memakai kemeja warna biru dan berpadu dengan celana hitam. Terlihat sangat tampan dan membuat Emely tak berkedip. Dia tampaknya sedang terpesona.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1