
"Memastikan apa?" tanya Nala.
Oma Rosy berjalan ke arah Nala dan membisikan sesuatu pada cucunya itu. Nala yang tak tau apapun tentang pernikahan Dani malah tampak sangat terkejut.
"Kak Da-ni meng-hamili orang?" tanyanya.
Oma Rosy membungkam mulut Nala yang nyerocos itu. Kini Dani mendekat ke arah dua wanita yang tampak membicarakan sesuatu yang serius itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Dani.
Oma Rosy membungkam mulut Nala dan menatap ke arah Dani, cucu yang lodingnya lama itu. Bagaimana bisa dia tak tau tentang kehamilan Emely hingga sudah beberapa kali Emely pingsan dan pucat masih belum juga di periksakan?
"Kau terlalu ikut campur, ini urusan wanita," jawabnya. Dani menghela napas panjang dan menatap ke arah sepupunya.
"Kau terlambat, artinya kau harus di hukum. Satu bulan gaji tidak cair bulan depan," ucap Dani dengan entengnya kemudian melenggang pergi.
Nala membelalakan matanya, bagaimana bisa? Bekerja sebagai dokter di ARW grup juga menguras energi. Lalu, dia harus kerja rodi hanya karna lima menit? Sangat keterlaluan. Nala hampir mengejar Dani untuk protes, akan tetapi tangannya di tarik oleh Oma Rosy.
"Mau kemana? Tugasmu memeriksa cucu menantu, kakak iparmu!" sentak Oma Rosy.
Nala menatap omanya dengan mengeruttkan keningnya
"Cucu menantu? Kakak ipar?" tanya Nala.
"Ya," jawab Oma.
"Kak Dani menikah?" tanyanya dan diangguki oleh Oma.
"Ya, dan oma yakin istri dari kakakmu sedang mengandung. Pastikan itu, maka gaji yang ditahan oleh Dani malah akan kembali padamu dua kali lipat dari Oma," ucap Oma.
__ADS_1
"Sebenarnya Nala hanya bercanda, lagian mana berani dia menghentikan gaji Nala. Bisa tamat riwayatnya di tangan Ganesa," ucap Nala sambil terkekeh pelan.
"Ya sudah, ayo ke atas," ajak Neneknya dan diangguki oleh Nala.
Nala tampak bersemangat, dia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Dani, mengikuti langkah Dani.
...----------------...
Mama Nina dan Emely kini saling berpandangan, walau suasana tampak canggung keduanya kini saling berhadapan. Duduk di balkon kamar, menikmati indah pemandangan di luar.
Emely sudah membaik, bahkan dia juga sudah mengganti bajunya dengan baju gamis milik Mama Nina yang belum terpakai. Mama Nina yang menyiapkan, bahkan Mama Nina yang membantunya sedari tadi.
"Mama mau minta maaf, mama sadar mama banyak salah. Mama sudah menuduhmu yang tidak-tidak," ucap Mama Nina mencoba untuk mencairkan suasana.
Ya, mama Nina ingat betul dengan apa yang diceritakan Mama Elyna. Bahwa putrinya sebenarnya terpaksa menikah, karna keadaan yang darurat. Mereka digrebek warga, bahkan mereka tidak mampu menolak, padahal mereka sudah merencanakan pernikahan dengan orang lain.
Akan tetapi, justru pernikahan itu yang menunjukkan bagaimana sebenarnya keluarga calon pasangan yang sepertinya hanya menginginkan harta saja. Sama seperti apa yang dialami Dani.
"Mama, mama melakukan ini bukan karna aku putri sahabat mama kan?" tanya Emely.
Sebenarnya dia bahagia, tapi dia juga sedikit dongkol saat mengingat perbuatan mama Nina saat itu. Rasanya dengan memuntahinya tadi sudah terbayar impas apa yang dulu pernah dirasakan. Tapi, kenapa dia sering mual dan muntah? Apa jangan jangan, Emely tampak memejamkan matanya.
Mama Nina hanya diam, sebuah kesalahan pahaman yang sebenarnya membuat dia salah kaprah menilai seorang Rakhayla Emely pradikta.
"Mungkin itu termasuk alasannya, kalau bukan karna Elyna, bisa saja Mama masih menganggapmu seperti apa yang mama pikir," ucapnya.
Emely mengangguk anggukan kepalanya, mamanya jujur. Walau sedikit menyesakkan setidaknya sudah tak ada lagi kebohongan.
"Aku mengerti, jika aku jadi mama mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Membenci seorang wanita yang disangkanya menggagalkan pernikahan anaknya. Jadi, secara tidak langsung mama membuktikan bahwa mama sangat mencintai putri mama," ucapnya.
__ADS_1
Mama Nina menatap Emely dan tersenyum, tak pernah terpikir sebelummya jika menantunya itu sangat bijak. Mama Nina meraih Emely dalam dekap hangatnya. Tak perlu ragu pada putrinya itu, dia yakin wanita dalan dekapannya memang sangat baik hatinya.
Emely memejamkan mata indahnya, sangat nyaman di posisi seperti ini.
"Selamat siang," suara seseorang mengangetkan keduanya.
Mama Nina melepaskan pelukan dan mengarahkan pandangan pada keponakannya.
"Nala, sudah datang?" tanyanya sambil berdiri dan mencium pipi keponakannya.
Emely juga berdiri menyambut kedatangan dokter cantik di depannya.
"Siang Nona, kau istrinya Tuan Ardani?" tanyanya dan diangguki oleh Emely.
Nala menatap Emely kemudian tersenyum, dia terkagum dengan kecantikan wanita di depannya.
"Aku mengundangmu kesini untuk memeriksanya, bukan untuk memandangnya seperti itu," ucap Dani yang baru saja sampai bersama dengan Oma Rosy dengan ketus.
Dani menghampiri Emely dan meraih pinggang wanita cantik itu dengan posesif, membuat Mama Nina dan Oma Rosy tersenyum senyum. Nala dan Emely saling berpandangan.
"Maaf Nona, sebaiknya kita ke dalam. Aku akan memeriksa keadaan Nona, aku malas melihat tampang suaminu yang menyebalkan itu," ucap Nala dengan geram.
Emely tersenyum dan mengangguk, sebenarnya hatinya dag dig dug tak karuan. Apa mungkin yang terlintas dipikirannya benar adanya? Entahlah, semoga dokter cantik di depannya bisa menjawab benang merah yang saat ini berjubel dalam otaknya.
Keduanya berjalan ke arah kamar, Dani juga mengikuti keduanya. Emely tampak berbaring di atas ranjang, Nala segera mengambil alat alatnya kemudian memeriksa keadaan Emely.
Nala yang sudah selesau memeriksa kini menatap Emely dan juga Dani dengan bergantian.
"Kau harus membuat tasakuran terbesar, kau juga harus memberikan aku hadiah teristimewa karna ini Tuan Ardani Rahardian Wijaya," ucap Nala. Dani kini menatap ke arah nala dengan banyak peetanyaan. Apa maksud sepupunya itu? Emely hanya bisa diam, menatap ke arah Nala dan Dani beegantian.
__ADS_1
❤❤❤❤