Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kamu cemburu?


__ADS_3

Emely telah membawa satu biji buah pisang. Tentunya pisang yang besar, panjang dan sangat menggiurkan. Itu adalah pisang terakhir yang bisa dia dapatkan dan hanya satu satunya.


Dani melirik istrinya yang begitu bahagia, beberapa jam keliling di berbagai toko buah. Hanya mendapatkan satu buah pisang saja? Mencoba meminta Emely untuk membeli yang lainnya juga, tetapi wanita di sampingnya malah marah tak karuan.


"Aku maunya pisang, ya udah pisang aja! Kenapa maksa maksa, berhentikan aku disini saja kalau kamu mau yang lain!" jawab wanita cantik itu beberapa kali saat Dani membujuknya. Jawaban Emely membuat Dani diam tak berkutik dan merasa geram.


Pasalnya, perutnya lapar juga, dan Emely tak mau juga berhenti di rumah makan yang mereka lewati.


"Aku tidak nap*u makan. Aku diluar saja kalau kamu mau makan," ucapnya.


Dani hanya bisa menghela napas panjang. Entah kenapa apa yang diucapkan Emely bagai skak yang membuat dirinya tak mampu untuk memberontak.


Dani menghentikan mobilnya di pinggiran jalan, di sana terdapat penjual es degan. Barang kali saja kali ini Emely mau menurutinya. Entah kenapa dia tergiur dengan es disana.


"Kenapa berhenti mas?" tanyanya sambil melirik ke arah Dani.


"Aku haus. Pengin es degan itu," ucapnya sambil melirik ke arah penjual es yang sudah tua itu.


Emely terdiam, sebenarnya perutnya seperti di aduk aduk. Pengen muntah jika melihat buah, melihat makanan. Dengan sekuat tenaga dia menahan, makanya dia tak mau diajak berhenti berharap dia bisa segera sampai di rumah.


Akan tetapi, melihat es degan disana tampaknya dia juga tergiur. Emely menatap Dani yang seperti memohon padanya. Emely mengangguk pelan. Dani tersenyum dan segera membuka pintu mobil.


Keduanya keluar dari mobil, duduk di bawah pohon yang rindang.


"Kamu mau juga?" tanya Dani.


"Hem, aku nggak pake es," jawabnya.


"Dua pak, yang satu tanpa es," pesannya dan diangguki oleh penjual yang tersenyum ramah.


Dani menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, netranya menatap ke atas sana. Dani melirik luka lebam di pipi Emely. Luka yang disebabkan oleh pukulan tangannya.


Dani mengulurkan tangannya, Emely yang tadinya melihat pemandangan yang indah kini menoleh ke arah suaminya. Wajahnya memang masih sedikit lebam. Tapi Emely sudah tidak merasakan nyeri.


Emely mengangkat tangannya, menggenggam tangan Dani yang ada di pipinya.


"Apa masih sakit?" tanya Dani. Emely menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum tipis.


"Maaf, karna aku kamu jadi merasakan sakit," ucap Dani lagi.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak merasakan sakit Mas. Kamu tau, rasa sakit itu sudah tergantikan dengan beberapa hal yang membahagiakan, dan semua yang membahagiakan itu datangnya dari kamu," ucap Emely dengan tenang.


Dani terkekeh pelan, gombal sekali istri cantiknya itu. Apa memamg dia sangat menggemaskan seperti ini? Lalu kenapa di awal pertemuan dia sangat menyebalkan?


"Dari mana kamu pandai menggombal?" tanya Dani. Emely terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang menggombal mas? Aku berkata jujur," prostesnya sambil melepaskan tangannya.


Dani mengusap lembut wajah Emely. Netranya menatap teduh sorot mata Emely yang begitu tenang dan bersinar.


"Menggombalpun tak masalah, yang jelas hanya padaku. Bukan untuk mantanmu, apalagi felik, orang yang mengaku sebagai sahabat setiamu dan sangat menjengkelkan setengah mati itu," ucap Dani.


Mengingat wajah Felik membuatnya sebal, tapi mengingat Felik membuatnya ingat pada Mamanya dan juga Mama Emely yang saling mengenal. Dirinya harus membicarakan ini pada Emely nantinya.


Emely yang masih terkekeh kini menatap Dani dengan sisa senyumannya.


"Maafkan dia Mas, Felik memang sahabat yang posesif. Dia baik, dia juga sangat perhatian sama aku dan Lelyta selama ini," ucap Emely.


Dani menghela napas kasar, mendengar Emely membicarakan laki laki lain membuat dadanya sesak. Apalagi lelaki itu adalah orang yang begitu sering membuatnya emosi.


"Apa kau bahagia punya dia?" tanya Dani. Emely menggangguk. Felik sudah melakukan banyak hal untuknya, dan sejauh ini sangat membahagiakan baginya.


"Pesananya Mbak, Mas," ucap Bapak itu.


"Terimakasih pak," jawab Emely. Bapak penjual itu mengangguk kemudian melenggang pergi.


"Kamu cemburu Mas?" tanya Emely saat melihat wajah masam Dani. Dani diam, tangannya terulur mengambil es degan di depannya.


"Kamu cemburu?" tanya Emely lagi dan masih saja diacuhkan Dani.


Emely tersenyum bahagia, tanpa dijawabpun dia tau bagaimana jawabannya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Emely dengan lembut. Dani tampak diam dan mencoba untuk tetap tenang.


"Sepertinya kamu memang harus belajar bersabar Mas. Karna Felik memang posesif sekali, padaku juga Lelyta," ucap Emely sambil meneguk air kelapa yang begitu segar itu.


"Pecat dia, aku tidak mau melihat wajahnya," ucap Dani dingin.


Emely membelalakkan matanya. Apa dia salah bicara? Felik adalah sahabat baiknya dari SMA, mana bisa dia melakukan itu? Bahkan bisa sampai detik ini RE grup juga karna perjuangan Felik.

__ADS_1


"Mas, itu tidak mungkin. Lagi pula dia tidak ada salah lo mas," protes Emely.


"Dia memang tidak salah padamu, tapi dia salah padaku," jawab Dani.


"Apa kesalahan Felik mas?" tanya Emely saat melihat Dani yang semakin menggebu.


"Dia perhatian padamu dan aku tidak suka, dia seakan memilikimu sedangkan kau milikku" jawabnya.


Deg


Hati Emely tiba tiba berbunga. Emely terkekeh pelan. Astaga, alasan Dani sangat masuk akal. Mampu membuatnya bahagia, tapi sayangnya dia tak mau mengaku dia cemburu.


Tapi apa tadi maunya? Memecat Felik ? Hais, ini sangat berlebihan baginya untuk kesalahan yang disebutkan Dani. Felik memang merasa memiliki Emely, tapi setau Emely rasa memiliki sebagai sahabat. Bukan yang lainya. Bahkan Felik juga melakukan hal yang sama pada Raymon.


Lalu, kenapa tanggapan Raymon dan Dani berbeda 100 persen. Apa Raymon memang dulu tak peduli denganya sehingga tampak baik baik saja. Tapi, saat Dani begini kenapa dia juga tak nyaman? Kelewatan sekali kalau dia harus memecat Felik.


"Tapi mas, tidak harus dipecat juga kan," sanggah Emely mencoba untuk membujuk.


"Pecat dia, atau aku yang akan melakukannya!" ucap Dani lagi.


Emely menghela napas panjang, apa yang harus dilakukannya? Dani berdiri, menatap ke arah sana, hijau pepohonan rindang yang menyejukan matanya. Entah, dia tak suka dengan kedekatan Felik dan Emely yang mengatasnamakan persahabatan.


Emely tau suaminya tengah cemburu, dia bahagia. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu agar lelaki tampan itu tak lagi marah padanya.


Emely tersenyum dan melangkah ke arah Dani. Emely berhenti di depan Dani. Dani tampak tenang, tapi dia mengabaikan keberadaan Emely yang kini ada tepat di depannya.


"Mas, coba tenangkan hatimu. Kau tau mas, sesungguhnya rumah yang selalu ku angankan hanya di pelukanmu, damai yang ku inginkan hanya ada dipelukanmu, dan tempat terindah yang nyaman hanya dipelukanmu. Sesungguhnya, engkaulah rindu yang selalu hujan di hatiku, dan tak ada orang lain yang mampu untuk menggantikannya," ucap Emely sambil berjinjit. Mengecup pelan pipi Dani dengan mesra.


"I love you," lirihnya.


Deg


Dani memejamkan matanya. Kenapa segenit ini istrinya?


****


......................


Sambil nunggu up othor yg suka telat. Mampir di karya temen author ya.. jgn lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1



__ADS_2