
Beberapa bulan kemudian
Jalanan panjang yang begitu indah dilalui Emely dan Dani dengan hati yang bahagia, hingga tak beberapa lama kemudian sampailah mereka ke kantor ARW grup. Ya, hari ini Emely ingin sekali berada di dekat suaminya terus. Sejak kemaren sudah merasa nyeri yang aneh di perutnya. Takut saja bila terjadi sesuatu di rumah dan tak ada signal untuk menghubungi Dani, mereka tinggal di pegunungan dan bisa saja yang dipikirkan itu benar adanya.
Dani membawa Emely ke ruangannya. Ruangan yang di penuhi dengan fasilitas yang lengkap.
"Tunggulah disini, kalau perlu apapun hubungi stafku yang ada di depan sana," ucap Dani sambil mengecup pelan puncak kepala Emely.
Beberapa saat kemudian sekretaris menghubunginya dan mengatakan bahwa para klien dan juga beberapa staf sudah berkumpul di ruang meeting. Terasa berat memang harus meninggalkan istrinya sendirian, tapi kekawatiranya sudah berkurang mengingat tempat mereka tidak berjarak jauh.
"Iya mas, jangan mengkhawatirkan aku. Segeralah ke tempat meeting, aku akan baik-baik saja," ucap Emely dengan tenang.
Dani mengusap perut buncit Emely, terasa pergerakan dari baby yang berada di perut ibunya itu. Dani terkekeh, mencium perut buncit itu dan melangkah pergi. Sedang Emely menatap ke arah jendela. Memandang deretan gedung menjulang tinggi di sekitarnya. Tiba-tiba saja perutnya terasa kencang.
"Auhhhhhh..." keluhh Emely sambil memegang perutnya.
Emely memejamkan matanya, mengusap pelan perutnya yang membuncit.
"Sayang, baik baik ya. Nanti Mama akan bilang papa kalau sakitnya semakin sering," ucap Emely.
Dirinya merasa masih baik-baik saja. Tetapi, beberapa saat kemudian sakitnya semakin tidak bisa di tahan, sakit itu semakin datang dengan cepat. Emely mengusap perutnya dengan tenang. Mencoba memberikan pengertian pada dirinya untuk bersabar menunggu Dani.
Ceklek.. suara pintu terbuka, Emely menoleh dan melihat staf kantor membawakan minuman untuknya.
"Pagi Bu Emely, ini susu untuk ibu. Bapak meminta saya membuatkan ini untuk ibu," ucapnya. Emely tersenyum dan mendekat ke arah meja.
__ADS_1
"Terimakasih," Emely tersenyum dan duduk di sofa kemudian menikmati susu yang dibawakan karyawannya itu.
"Sama-sama bu, apa ibu baik-baik saja? ibu tampak pucat,"
"Aku baik-baik saja, tapi perutku nyeri hilang datang tak beraturan," ucap Emely.
"Apa tidak sebaiknya ibu ke dokter?" tanya Erika.
"Aku juga berfikir demikian, tapi menunggu mas Dani sekalian.
"Oh iya bu, saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kalau ibu perlu apa-apa panggil saya,"
"Oh, iya terimakasih Rik," ucap Emely. Erika keluar dari ruangan itu. Emely menyandarkan tubuhnya dan mengangkat kakinya ke sofa, perlahan Emely memejamkan matanya dan mengarungi samudra mimpi.
Dua jam berlalu begitu lama, Dani yang baru saja menyelesaikan meeting segera berjalan menuju ke ruangannya. Yang jelas hatinya tak tenang meninggalkan Emely sendiri, bayangan wanita cantik itu selalu nampak di pelupuk matanya.
"Auhh,,," keluhh Emely sambil memegang perutnya.
Dani tampak terkejut saat Emely memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Dani.
"Sayang kamu merasakan sakit?" tanya Dani sambil berjongkok. Emely menggeleng pelan. Dani mengusap puncak kepala Emely dan menciumnya lagi. Ada kepanikan yang saat ini bergelayut di hatinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dani pada Emely lagi. Emely sedikit ragu untuk mengatakannya, ia takut Dani akan semakin mengkhawatirkannya.
"Aku tidak papa, Mas." Jawaban itu yang selalu didengar oleh Dani setiap Dani bertanya. Emely menurunkan kakinya, Dani duduk di sebelah Emely dan mengusap perut istrinya.
__ADS_1
"Sayang," .
"Hem,"
"Berbaringlah disini," pintanya sambil menepuk pangkuannya. Keduanya saling menatap lekat, dengan cepat Emely mengangguk dan meletakan kepalanya di pangkuan Dani.
"Apa benar kamu baik-baik saja? hem?" tanya Dani lagi. Dani melihat Emely begitu gelisah sejak pagi dan membuat dirinya teringat hari perkiraan lahiran yang tinggal beberapa hari lagi.
"Aku baik-baik saja, apa kamu meragukanku?" tanya Emely. Dani menghela nafas panjang,dia tau betul istrinya itu sangat keras kepala.
"Kita harus ke rumahsakit," ucap Dani. Namun, Emely menggeleng dengan cepat.
"Aku masih kuat. Aku tidak papa, Mas."sanggahnya lagi.
"Tapi kamu seperti menahan sakit, Sayang," protes Dani.
"Aku tidak kesakitan, lebih baik aku tidur di pangkuanmu sejenak. Aku ngantuk sekali Mas. Apa boleh?" tanya Emely sambil memiringkan tubuhnya.
Dani mengangguk pelan, Emely tampak memejamkan matanya. Tak lama dari terdengar denguran halus menandakan istrinya telah tidur. Dani mengusap pelan puncak kepala Emely dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Dani kemudian mengusap pelan perut Emely dan menciumnya.
"Hai sayang, Papa akan bahagia sekali jika kamu lahir, tapi jangan nakal. Jangan membuat mama sakit nantinya," ucap Dani. Tangannya terulur mengusap pelan perut Emely. Dani membacakan doa dan kembali mencium perut buncit istrinya.
Emely yang merasakan sentuhan hangat Dani membuka matanya, bibirnya tersenyum manis hingga sesaat kemudian Emely merasakan perutnya begitu kencang.
"Astagfirullah..." pekik Emely. Dani yang begitu khawatir segera membopong tubuh istrinya. Dirinya tak kuat lagi menahan ketar ketir hatinya yang memang sejak tadi merasakan hal yang aneh dari istrinya. Dani juga tidak mau lagi menunggu persetujuan Emely untuk membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...