Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Panggilan dari Dani


__ADS_3

"Apa Mama yakin Sinta baik, hem?" tanya Dani dengan tenang.


Mama Nina menatap ke arah Dani yang kini menatapnya dengan teduh.


"Bagaimana dia menyampaikan pernikahanku pada mama?" tanya Dani.


"Dia bilang kamu sengaja kabur dan menikah," ucap mamanya. Dani menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Tanya pada papa, apa yang terjadi padaku, papa tau betul apa yang terjadi saat itu ma," ucap Dani dengan pelan.


Mama Nina kini menatap ke arah Papa Hendra yang tampak mengusap kasar wajahnya? Bukankah istrinya tak pernah mau memdengarkan apa katanya? Lalu, kenapa saat ini malah dia yang menjadi bahan persalahan?


"Papa tau apa yang terjadi?" tanya Mama Nina pada suaminya itu. Papa Hendra menganggukan kepalanya.


"Apa yang dikatakan Sinta benar?" tanya Mama Nina lagi. Papa hendra tampak menggelengkan kepalanya dan menatap istrinya dengan teduh.


"Aku tak mau ribut denganmu, aku memilih waktu yang tepat untuk menyampaikannya padamu," ucap Papa Hendra.


"Apa maksud papa?" tanya Mama Nina. Papa Hendra memberikan ponselnya kepada Mama Nina, memberikan beberapa rekaman Vidio rencana jahat yang direncanakan oleh Sinta dan keluarganya.


"Ini aku tau dari Dani, Dani sudah memberikan pelajaran pada Shin dan keluarganya. Jadi tidak ada lagi masalah diantara kita, pernikahan yang gagal anggap saja karna mereka tidak berjodoh, ucap Papa Hendra.


"Sinta tau hal ini?" tanya Mama Nina. Dafa sudah memperingatkan mereka. Ganesa yang berjuang keras atas hal ini. Kau terlalu larut dalam permainan mereka sehingga kau melupakan keluargamu," ucap Papa Hendra.


Mama Nina menghela napas panjang, menatap Dani dengan tenang. Jadi selama ini dia telah salah paham?


"Lalu hukuman apa yang papa berikan?" tanya Mama Nina lagi.


"Papa menyerahkan pada Dafa san Ganesa," ucapnya.


Mama Nina menghela napas panjang dan menatap Dani dengan teduh. Mama Nina mengamati Dani yang tampak menganggukan kepala.


"Jadi kau sudah menikah?" tanya Mama Nina dan diangguki oleh Dani.


"Mama butuh waktu untuk bisa menerimanya, untuk saat ini mama belum bisa untuk bertemu dengannya. Bawa mantu mama jika mama sudah siap," ucap Mama Nina lagi.


Dani hanya bisa mengangukan kepalanya. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk membawa Emely datang kesini? Emely? Wajah cantik itu kini berada dalam pelupuk matanya. Mengiang di pikirannya.


"### Hem, mama cepat sembuh. Dani pamit ke kamar," ucapnya.


****


Dani menuju ke kamarnya, melepaskan jas dan bajunya. Mengganti pakaiannya dengan kaos oblong berwarna abu abu. Waktu menunjukan pukul 00.00 dan Dani tampak tidak ngantuk sama sekali. Matanya tampak bening, dan diingatannya hanya ada Emely.


Kenapa aku benar benar tidak bisa melupakannya? Bahkan untuk sekedar memejamkan mata dia tak sanggup.


Dani membuka ponselnya, dan mendapati kontak yang dinamai "Semoga berjodoh" kini tampak mengirim pesan padanya. Segera Dani membuka isi pesan yang dikirimkan oleh istrinya itu.


Aku kutuk kau tak bisa tidur malam ini.


Dani membelalakan matanya dan mencoba membuat panggilan untuk Emely. Akan tetapi tiba tiba saja Dafa menghubunginya.


-


-


-


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Emely meletakan ponselnya di meja rias.


Netranya melirik kearah foto pernikahan yang terpampang di sana. Mengusap pelan foto yang menampakan wajah tampan suaminya. Suami yang selalu membuatnya berdebar saat di dekatnya. Membuatnya tertawa bahagia saat menggodanya dan membuat sebal saat menjahilinya.


Emely mengedarkan pandangannya merasa sepi tanpa adanya Dani di kamarnya. Hatinya berdesir ngilu. Sesak tiba-tiba. Emely memejamkan matanya. Apa ini cinta? Emely mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Apa iya? Emely memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu, Ardani," ucapnya pelan mencoba mengeluarkan unek-unek yang menyesakkan dadanya.


Emely menghela napas kemudian mengeluarkan pelan. Dia tersenyum bahagia. Yang benar saja, setelah mengucapkan itu rasanya dia lega. Apa benar benar dia telah jatuh cinta?

__ADS_1


Emely mengambil ponselnya mencoba membuat panggilan pada Dani yang ternyata berada di panggilan lain. Menelpon siapa? Lagi-lagi Emely harus merasakan kecewa.


"Kenapa baru sekarang aku menyadari jika aku merasa sepi tanpamu. Kenapa aku baru menyadari jika aku membutuhkanmu. Ini hanya aku yang merasakan? Atau kamu pun juga merasakan Mas?" ucapnya lirih.


Air mata Emely mengalir deras. Menyadari perasaanya ketika berjauhan membuat hatinya seakan perih teriris. Emely melirik ponsel yang menunjukan pukul 00.30.


"Mas Dani, siapa yang kau hubungi? Kenapa tidak menghubungiku?" tanya Emely pada foto yang terletak di meja.


Emely meletakaan kepalanya di meja, matanya yang memang mengantuk terpejam dan terbang ke alam mimpi.


-


-


Dani yang baru saja berbicara dengan Dafa kini menghela nafas panjang, Dani kemudian mengambil ponselnya yang tadinya sempat diletakan.


Dani mengambil ponselnya dan mengamati panggilan dari kontak Emely. Dani tersenyum.


"Apa merindukanku, Honey?" ucapnya sambil mengusap pelan ponsel yang menampakkan wajah cantik istrinya.


Dani membuat panggilan untuk istrinya panggilan vidio yang nantinya dia bisa melihat wajah cantik yang selalu terngiang di otaknya.


Dani menghela nafas panjang berusaha menahan rindu pada orang yang tak segera mengangkat panggilan darinya itu.


"Astaga, apa yang dilakukannya?" Pertanyaan yang mengiang ketika dia mulai sebal pada istrinya yang tak segera mengangkat panggilan.


Emely mengucek matanya beberapa kali. Menyadari ponselnya bergetar dan menampakan kontak Sayang.


Emely segera menyambarnya, bibirnya tersenyum menatap layar yang menampilkan nama Dani disana. Dengan bahagia Emely mengamati wajah di cermin memastikan dia masih cantik meskipun tadi dirinya sempat tertidur.


Baru saja akan menggeser tombol hijau, ponselnya sudah redup. Emely mendengus kesal.


"Dasar menyebalkan, kenapa masih saja hobi membuatku kesal? kenapa kau tak hentinya membuat aku kesal?" cibirnya.


Emely menelpon balik, dan benar saja orang di sebrang tampak mengangkat panggilan telepon darinya.


"Waalaikumsalam," jawab orang di sebrang tak kalah tenang juga.


"Kemana saja? Kenapa Lama sekali mengangkatnya?" cerca Dani.


Emely hanya tersenyum tak menjawab apapun, baginya memandang wajah yang begitu dirindukan, sudah menjadi kesenangan tersendiri. Rindu? Benarkah?


"Maaf," jawabnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dani terkekeh dan menatap Emely, dia semakin gemas melihat tingkah istrinya.


"Aku tadi tertidur," ucap Emely.


"Bahkan aku tidak bisa tidur dengan nyenyak tanpamu. Kau malah bisa tidur?" ucap Dani. Emely tampak berbunga.


"Kamu bilang apa? Coba ulangi," ucap Emely. Wanita cantik itu mencoba menggoda manusia tampan di depannya. Emely lagi-lagi menutup wajah malunya.


Dani meletakkan ponselnya, menyandarkan di meja kemudian memandang Emely dengan tenang.


"Jangan mengejek, bukankah itu kutukan darimu?" tanya Dani dengan sebal.


Emely sedikit tertawa. Manusia mana yang sanggup berpisah lama pada orang yang begitu dicintainya? Jika dekat pasti akan memeluknya, mencari kenyamanan di dalam pelukannya.


"Em," Dani memanggilnya dengan mesra. Membuat Emely merasakan getaran hebat di hatinya.


"Aku merindukanmu," ucapnya.


Deg


Hati Emely yang mengeras menahan rindu seakan mencair dengan siraman ucapan mesra dari suami yang dirindukannya. Wajahnya berbinar. Emely menundukan kepalanya, entah air matanya tiba tiba saja mengalir.


"Em, kau menangis?" Dani yang merasa hawatir menatap perempuan cantik yang menggerai rambutnya itu.


"Em, jangan membuatku hawatir. Kenapa kau akhir akhir ini cengeng sekali?" ucap Dani. Emely masih saja menunduk. Diapun tak tau kenapa cengeng sekali dan gampang emosi.

__ADS_1


"Coba hapus air matamu. Atau aku matikan ponselnya?" tanya Dani.


"No, jangan matikan ponselnya," ucap Emely lagi.


"Aku sama," ucap Emely sambil menghapus air matanya.


"Sama apa?" tanya Dani. Tanpa bertanya pun sebenarnya sudah tau. Namun menggoda istrinya tampak menyenangkan baginya.


"Aku juga merindukanmu," ucap Emely terdengar lirih. Dani terkekeh pelan.


"Honey," ucap Dani dengan pelan.


Tatapan teduh yang menyimpan berjuta rindu, berjuta cinta, berjuta kasih sayang untuk istrinya.


Emely tersentuh, panggilan dari suaminya membuat hatinya berdesir. Hatinya yang begitu perih jauh darinya kini seakan yerobati. Hening, keduanya hanyut dalam pandangan mata yang dalam.


"Ya...." sahut Emely.


Air mata terbendung di sudut matanya. Namun dengan sabar wanita cantik itu menahan agar jangan sampai menetes.


"Em, boleh aku mengungkapkan sesuatu?" tanya Dani padanya.


"Ya," jawab Emely.


"Em, aku mencintaimu, jadilah pendamping hidupku untuk selamanya." ucapnya lirih.


Emely menutup matanya. Air mata tak sanggup terbendung lagi, desiran hati begitu menyiksanya. Ungkapan cinta dari suaminya menyayat hatinya.


"Em, kenapa menangis lagi? Aku benar benar akan menutup telponya jika kamu tak kunjung diam," ucap Dani. Emely mengusap pelan pipinya. Memandang wajah tampan suaminya.


"Matikan saja," ucap Emely. Dani justru tersenyum. Rasanya jika dekat sudah pasti akan merengkuh tubuh mungil istrinya yang cantik itu.


"Mas," panggil Emely. Dani menatap teduh dua bola mata nan indah di depannya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.


"Hemmm,"


"Aku merindukanmu, aku juga sangat mencintaimu," ucap Emely.


"Coba ulangi Em," ucap Dani.


"Tak ada pengulangan," jawabnya dan mampu membuat Dani terkekeh pelan.


Akhirnya kini mereka telah mengungkapkan isi hatinya. Emely memandang langit-langit kamarnya. Lagi-lagi air matanya menetes. Namun dia mencoba untuk menyembunyikan dari Dani.


Dani Menatap wajah istinya yang masih saja menangis itu.


"Aku bilang jangan menangis, kau membuatku semakin Rindu," ucap Dani lagi. Emely terdiam dan kembali menatap ke arah Dani.


"Kamu tak mau pulang Mas? Kamu tak mau memelukku? Kamu tak mau mengusap puncak kepalaku? Kamu tak mau menciumku?" tanya Emely di tengah isak tangisnya.


Dani hanya diam, rasanya sakit melihat istrinya menangis. Sepertinya sudah cukup memastikan perasaannya. Karna pada kenyataannya mereka tersiksa ketika berjauhan.


"Kamu tau aku tersiksa jauh darimu, aku tersiksa menahan rindu," ucap Emely. Entah, sudah tak ada lagi rasa malu. Dia benar benar mengungkapkan isi hatinya.


Lagi-lagi Emely mengusap air matanya. Dani memejamkan matanya menahan sesak yang menyeruak dihatinya. Sebenarnya dia ingin pulang menyusul Emely, tapi urusan dengan mama masih belum kelar. Mamanya masih juga membutuhkannya.


"Besok aku kembali padamu Em, sekatang tidurlah, aku akan menemanimu dari sini. Peluk cium untukmu. Aku mencintaimu." ucap Dani.


Emy merasa bahagia. Kemudian berjalan ke arah ranjangnya. Merebahkan tubuh lelahnya. Meletakkan ponselnya di sampingnya.


Dani merasa lega mendapati Emely yang tampak tenang dan memejamkan matanya. perlahan terdengar denguran nafas yang teratur.


Dani menghela napas panjang.


"Selamat tidur sayang. Aku mencintaimu."lirihnya kemudian menutup ponselnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2