
Dani melenggang ke dapur kecil yang tak jauh dari tempatnya berada, sedangkan Emely mencari kamar yang akan dia gunakan untuk beristirahat. Emely melihat satu ruangan yang pastinya itu adalah kamar, karna hanya ada beberapa ruangan di rumah itu.
Emely berjalan ke arah meja rias yang kini tampak penuh debu itu. Emely membersihkah debu dan duduk di sana. Ditatapnya wajah tanpa riasan yang kini tampak putih bersih itu. Diendusnya baju yang dia gunakan sejak pagi itu, walau masih wangi tetap saja sudah terkena keringat dan membuatnya tak nyaman.
Emely mengambil tasnya. Ada satu baju yang dibelinya di beberapa hari yang lalu di mol. Gaun warna merah, lengan pendek dan panjangnya setara dengan lutut, gaun untuk pesta. Akan tetapi sedikit lebih nyaman dari pada harus memakai baju kerja.
Apa pantas jika nanti dilihat orang kampung sini yang selalu menutup aurat itu? Entahlah, bukankah tidak akan keluar rumah? Lagi pula siapa yang akan melihat? Tak ada siapa siapa, tunggu, bukankah ada satu pria laknat? Entahlah, Emely tak memperdulikan itu. Yang pasti lelaki itu tak akan menyentuhnya, mereka tidak menginginkan pernikahan ini. Emely mengambil ponselnya, sekali lagi dia memanggil nama kontak "Sayang" dan sekali lagi juga tidak mendapatkan jawaban.
"Dimana kamu Sayang?" lirihnya, hatinya sakit, sesak, rindu, semuanya bertumpah ruah dalam benaknya. Sangat menyakitkan.
Emely membersihkan ranjang yang sepertinya baru saja diberikan busa baru itu, direbahkannya tubuh lelahnya di sana, sebelum sempat memakai selimut mata Emely sudah terpejam mengarungi samudra mimpi.
😍😍😍😍
Dani berada di teras rumah, meletakan teh hangat yang baru saja dibuatnya. Diambilnya ponsel yang ada di saku celananya. Dani berjalan ke arah pinggiran teras, menatap ke sebrang sana.
Mencari nama Radit dalam kontak ponselnya.
"Halo Dan, kemana aja? Kenapa baru bisa telepon?" tanya Radit sedikit emosi di sebrang sana.
"Bos, sepertinya kau harus mencari asisten penggantiku sekarang juga," ucap Dani.
"Apa maksudmu Dan?" tanya Radit sedikit bingung.
"Aku terjebak pernikahan dengan gadis yang menabrak Micel, aku tidak bisa keluar dari desa ini sampai berkas pernikahan asliku selesai," ucap Dani prustasi.
"Siapa dia?" tanya Radit.
"Kau akan segera mengetahui, keluarganya akan segera ke sana," ucapnya.
__ADS_1
"Jadi kau benar benar mengundurkan diri?" tanyanya.
"Begitulah, yang jelas aku tidak bisa keluar dari desa ini sebelum urusan pernikahan selesai, karna itu membutuhkan waktu yang lama. Dan aku pun sudah selesai menjalani ritual nikah siri, aku tidak bisa melakukan apapun di sini." ucap Dani tampak prustasi.
"Jadi sekarang kau sudah menikah? Karna terjebak?" tanya Radit sedikit terkekeh, membuat Dani sedikit sebal.
"Jangan tertawa, ini hanya sementara sampai aku bisa keluar dari sini," ucap Dani.
"Sepertinya kau menuai karma," ucap Radit dengan tersenyum.
"Karma?" tanya Dani.
"Ya, waktu itu kau menjebak Nada menikah denganku, dan saat ini kau pun terjebak menikah dengan orang lain. Bukankah itu karma?" tanya Radit sambil terkekeh.
"Itu karna aku membantumu bos," bantah Dani. Radit terkekeh lagi.
"Okey, terimaksih Dani. Sakinah, mawadah dan warohmah. Doaku menyertaimu, siapkan malam pertama dengan indah, seindah kau meyiapkan apartemen untukku waktu itu," candanya. Dani terdengar menghela napas panjang.
"Lalu siapa yang akan membantuku?" tanya Radit prustasi.
"Masih ada papa, atau kau bisa meminta Nada membantu pekerjaanmu, atau juga memperkerjakan wanita pujaanku di sana," ucap Dani.
"Wanita pujaan?" tanya Radit.
"Hem, Sifa. Asisten Nada," ucapnya sambil tersenyum.
Angan yang tinggi mendapatkan wanita seperti Nada nyatanya tak seperti apa yang dia bayangkan. Kini dia harus menikah, bahkan dengan orang yang sangat dia benci.
"Kau sudah menikah, jangan memikirkan wanita lain," ucap Radit. Dani terkekeh mendengar ucapan bosnya itu.
__ADS_1
"Aku berguru darimu, kau memikirkan Amara walau menikah dengan Nada. Seharusnya kau bangga mempunyai murid teladan sepertiku," ucap Dani Lagi.
"Jangan membahas masa lalu," ucap Radit.
"Oke bos. Carilah asisten baru kalau begitu," ucap Dani lagi.
"Nanti aku akan membicarakan dengan Nada, mereka masih berada di kamar Micel." ucap Radit. Terdengar helaan napas panjang di telinga Radit.
"Bagaimana keadaan Micel? Sampaikan salamku padanya," ucap Dani.
"Tak usah nitip salam, Micel amnesia. Dia tidak mengenalku, kamu, bahkan dirinya sendiri. Yang dia kenal hanya Nada," ucap Radit lirih.
Dani membelalakan matanya. Micel amnesia? Sebegitu parahkah? Kini pandangan Mata benci Dani tertuju pada sosok yang berbaring di dalam kamar yang tanpak dari cela cendela yang masih sedikit terbuka.
"Ya sudah, aku titip Micel padamu. Aku akan menyelesaikan urusanku di sisini, selamat malam Bos," pamitnya.
"Selamat malam, Dani. Selamat bermain bola," ucap Radit. Dani menghela napas panjang, Dani merasa ada yang berjalan di belakangnya. Segera Dani menoleh menatap waspada, tak ada siapapun disana. Dani berlari mencoba mencari orang yang mungkin memang ada. Dan itupun percuma, tak ada siapa siapa.
"Kenapa dari awal aku merasa ada yang tidak beres?" batinya.
Dani meraih teh yang dia buat tadi, Dani melirik jendela kamar. Tampak Emely yang sedang terlelap, wajah cantiknya sangat bersinar dan begitu menggiurkan. Dani berdiri dan merapatkan jendela kamar. Ada hawa yang lain yang dia rasakan saat melihat ke arah Emely tadi.
Dani duduk, tubuhnya semakin merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu hasrat untuk melakukan suatu hal. Pikirannya melayang jauh.
"****," umpatnya. Dani merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Semakin mendesak dan semakin menyiksa.
"Siapa dalang dibalik semua ini?" lirihnya sambil mengeratkan rahangnya.
🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Hayo hayo apa yang akan terjadi?🤗😄😄😄
Like komen banyak, aku up banyak. Mau malak.wkwkwk