
Dani memejamkan matanya, menahan segala rasa yang berkecamuk di tubuh dan hatinya. Deraian darah segar mengalir di tangannya. Akan tetapi bayangan Emely yang selalu hadir memberikan kekuatan pada dirinya.
Dani membalas satu tembakan yang dilontarkan padanya kemudian berlari menjauh, memisah dari kerumunan. Sesaat kemudian, perkelahian kembali terjadi. Pasukan keamanan yang diminta Dafa ikut bergabung, kini sudah bergabung. Papa Hendra memisah dan mengikuti langkah Dani. Vino juga melakukan hal yang sama.
Dafa kini memisah dari kerumunan dan masuk ke dalam ruangan asal Dani keluar. Dia yakin disana ada Lelyta. Dan benar saja, dia melihat Lelyta yang menangis sesenggukan.
"Lelyta," sapanya sambil mendekat ke arah wanita itu.
Lelyta yang bersedih kini sedekit lega saat melihat Dafa ada di sampingnya. Dengan reflek Lelyta memeluk Dafa dengan erat.
Dafa hanya bisa diam. Dia tak mengatakan apapun, bahkan tak sanggup menolak.
"Tuan tolong ibu, tolong selamatkan ibu," ucapnya lirih.
Dafa menghela napas panjang sambil menatap ke arah Lelyta.
"Kita bawa ibu keluar, kita cari jalan lain," ucapnya dan diangguki oleh Lelyta.
__ADS_1
Dengan cepat Dafa membawa tubuh lemah wanita paruh baya itu. Lewat pintu belakang dia membawa Lelyta dan ibunya untuk mencoba keluar dari ruangan yang menyedihkan itu.
Tuan Shin kini tampak menghela napas kasar dan mengumpat. Saat dia datang di ruangan tempat Emely dan Ganesa berada, kedua wanita itu sudah tidak ada di tempat.
Dani yang mengikuti langkah Tuan Shin kini menyerang pria paruh baya itu. Terjadi pertarungan hebat di lorong itu.
"Dimana istriku Tuan Shin bangs*t?" sentak Dani dengan murka.
"Istrimu sudah ma*i, bahkan aku sudah membuangnya Ardani Rahardian Wijaya yang terhormat," ucapnya sambil tertawa mengejek. Membuat Dani murka dan memberi pukulan beberapa kali.
"Sinta, aku tidak bisa pergi. Aku harus menunggu mas Dani selamat!" teriaknya.
"Kak, disini bahaya kak, biarkan papa, kak vino, kak Dafa yang menyelamatkan. Apa kakak mau terjadi lagi kita hampir mati dan terkurung kak? Sinta sudah susah payah menyelamatkan kita, jangan lagi menyusahkan diri," suara Ganesa tampak melarang Emely.
Dani merasa lega bahwa apa yang dikatakan oleh lelaki paruh baya itu ternyata adalah sebuah kebohongan. Dengan kasar Dani mendorong tubuh Tuan Shin. Tuan Wilson kini membantu Tuan Shin berdiri. Dia memberikan satu senjata api pada rekannya itu.
"Kita ikuti dia, jangan biarkan mereka bertemu. Habisi dia untuk membalas semua sakit hati kita," ucap Tuan Wilson. Tuan Shin menerima senjata api itu kemudian mereka berlari mengejar langkah Dani.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa pergi Ganes, Sinta, aku sangat mengkhawatirkan Mas Dani," ucap Emely di tengah isak tangisnya.
"Aku juga sangat mengkhawatirkanmu Sayang," ucap suara di belakang Emely.
Deg
Emely mematung, suara itu sangat familiar di telinganya. Ganesa dan Sinta tampak terkejut dan menoleh. Dia sangat bahagia melihat Dani, apa itu Dani kakaknya? Bagaimana bisa sehancur ini? Baju compang camping berlumuran darah.
Sedang Emely memutar langkahnya, kini dia melihat seseorang yang tadi berada di belakangnya. Air matanya mengalir deras. Melihat orang di depannya dengan kondisi mengenaskan membuatnya sangat terpukul. Tapi ini adalah kado terindah yang sangat membahagiakan dirinya bisa melihat seorang Ardani Rahardian Wijaya ada di depannya.
Dani merentangkan tanganya, dia sangat merindukan istrinya. Emely berlari ke arah Dani.
Dor, Dor
Sebuah tembakan terarah pada dua orang dan menyebabkan mereka tumbang bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1