Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kamu menghawatikan aku?


__ADS_3

Emely memejamkan matanya merasakan detak jantung nya tak beraturan, sakit, bahagia, semua bercampur menjadi satu. Emely mencoba menguasai hatinya. Mencoba menerima dekapan hangat dari Dani yang memang sanggup memberikan kenyamanan.


Emely kini menatap wajah Dani. Wajah tampan yang kini sangat dekat denganya. Deruan Napas Dani terdengar di telinga Emely. Hembusan napas Dani juga terasa di wajahnya. Emely memejamkan mata indahnya.


"Tuhan, tolong bantu aku untuk keluar dari masalah hati ini?" lirih Emely dalam batinya.


Rasa sesak di dada seakan berangsur membaik. Sejujurnya Emely tak setegar ini. Sejak pagi dia menangis. Sejak pagi dirinya bingung. Sejak pagi rasa gelisah menghantui otaknya. Sejak pagi dia menjauhkan ponsel dari tangannya, tak mau melihat berita yang pasti sudah ramai di media.


Jika khalayak tau, orang di dalam foto itu adalah Ardani Rahardian wijaya. Bukankah sebutan pelakor yang saat itu ditujukan kepadanya oleh mama dari Dani akan benar benar menjadi sebutannya? Jika Wartawan itu tau kalau itu adalah Dani, bukankah jagad media akan heboh?


Lalu, jika dia mengatakan itu adalah Dani, bagaimana tanggapan Dani? Bukankah Dani mencintai Sifa dan itu malah akan membuat Dani membencinya?


Lalu, jika harus bersembunyi dan membiarkan semua bergulir, nyatanya dia tak sanggup. Ada perasaan lain yang berusaha mendesak hatinya untuk menyelesaikan perasaannya. Air mata Emely jatuh di pipinya. Harus bagaimanakah dia? Jatuh cinta? Apa iya? Bukankah sakit mencintai seseorang yang nyatanya memiliki rasa cinta pada orang lain?


Dani merasa sedikit panik saat buliran air mata terus saja mengalir dari mata Emely, Dani mengusap air mata dengan lembut. Diraihnya Emely dalam dekap hangatnya.


Dani memeluk erat Emely, apa ini yang dilakukan Emely seharian disini? Apa Emely begitu pandai menyembunyikan perasaanya?


"Honey, jangan menangis," lirih Dani sambil mengusap pelan pundak Emely, mencium beberapa kali puncak kepala Emely.


Naluri hatinya seakan reflek, memanggil Emely dengan sebutan yang begitu mesra, hati Emely seperti terkoyak. Dani semanis ini padanya?


"Honey? Apa dia tak salah memanggil?"


"Maafkan aku, Em," ucapnya lirih.


Emely menautkan alisnya. Dani meminta maaf? Atas dasar apa? Emely menghapus air matanya dan membuka matanya.


Keduanya saling menatap lekat, Emely menghela napas panjang dan melirik ke arah tangan Danj yang masih membelit tubuhnya.


"Coba ulangi," ucap Emely sambil menatap Dani dengan tatapan maut. Tatapan yang berulang kali membiat Dani mengingat wajah Emely.


Dani tampak mengepalkan tangannya dan memandang Emely dengan sorot mata tajam. Astaga, apa yang tadi dia ucapkan? Bahkan dia juga terkejut.


"Maafkan aku," ucapnya lagi sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain. Entah, tak ada yang ingin ditahan lagi. Tak ingin ada yang disimpan lagi. Dani mencoba memberikan ruang hatinya memilih jalannya. Apa yang sebenarnya menjadi kemauannya. Apa yang sebenarnya dirasakannya, karna pada dasarnya dia tersiksa ketika harus melihat wanita di depannya menangis.


Emely mengulum senyuman tipis. Tangannya terulur untuk menghadapkan tatapan Dani ke arahnya. Tak ada gengsi apalagi malu. Emely ingin kenyamanan yang dia dapat ketika bersama dani mendapatkan kepastian.


"Maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Tuan Ardani Rahardian Wijaya. Lalu kenapa minta maaf?" ucap Emely dengan tenang.

__ADS_1


Dani menghela napas panjang dipanggil Tuan oleh Emely seperti keasingan baginya. Kata sapaan yang dilontarkan Emely seakan membuat hubungan mereka menjauh.


"Aku salah, aku yang yang membuat keadaan ini terjadi," ucap Dani. Emely manautkan alisnya. Apa maksud Dani? Dia tau wartawan itu datang. Lalu, apa lelaki ini kesini karna menghawatirkannya? Senyuman indah terbit dari sudut bibir Emely.


"Kamu bersalah? Lalu kamu mau maaf dariku?" tanya Emely. Dani hanya terdiam.


"Beri aku satu alasan untuk bisa memaafkanmu? Alasan apa yang tepat?" tanya Emely manja sekali sambil menghadapkan wajah Dani ke arahnya.


"Tak ada alasan. Mau tidak mau kau harus memberiku maaf, Nona Rakhayla Emely pradikta!" ucap Dani dan mampu membuat Emely tertawa. Pemaksa sekali orang ini. Emely menghela napas panjang.


"Kamu terlalu sulit untuk dimaafkan! kesalahanmu terlalu fatal" ketus Emely sambil melepaskan belitan tangan Dani. Emely duduk di sofa. Meneguk air putih yang berada di meja.


Dani melangkah dan duduk di sofa, duduk di sebelah Emely dan merangkulkan tangan kanannya di pundak Emely.


"Walau kesalahanku fatal, kau tidak berhak marah, Nona Emely," ucap Dani.


"Tapi aku berhak bahagiakan?" tanya Emely.


Dani menghela napas panjang dan menatap Emely dengan tenang, menyentuh kedua pipi Emely yang cantik mempesona itu.


"Semua orang berhak bahagia Em," ucap Dani.


Dani mengepalkan tangannya, tak suka dengan ucapan Emely.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu, apa yang harus aku lakukan agar kau tetap berdiri di sampingku?" tanya Dani dengan tenang.


Emely tersenyum tipis. Dia mengusap pelan dada bidang Dani, kemudian menatap pria tampan yang sebenarnya selalu mengisi hatinya itu.


"Maaf lagi, sebenarnya kamu tak punya salah Mas. Ini semua murni kecelakaan. Bukankah kamu mencintai Sifa? Tolong hentikan semua ini Mas, aku tidak sanggup lagi jika harus bermain hati. Aku mempunyai status sebagai istrimu tapi aku tak mempunyai hatimu, bagiku ini menyakitkan Mas. Jangan membiarkan kita terjebak dalam keadaan yang sulit untuk ditangani, sebelum semua terlanjur alangkah baiknya kita mencegah, agar...." ucap Emely terhenti oleh ciuman dadakan yang kini dilakukan Dani.


Dani merasa geram, sepertinya dia mulai terusik jika Emely membicarakan wanita lain di depannya. Alhasil, Dani yang mengamati gerak bibir Emely menyambar bibir yang bergerak gerak tanpa rasa dosa menggoda dirinya itu.


Emely terkejut, mau tidak mau dirinya meladeni permainan Dani yang begitu membuat jantungnya berdetak tak beraturan itu. Dani menyunggingkan senyuman. Tak ada hal yang indah selain ini. Hanya ciuman Emely saja membuat dirinya mabuk. Apa lagi trowongan casablangka yang berada di bawah sana, sangat memabukan.


Dani tersenyum tipis mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, ingin sekali dia melakukannya lagi. Memiliki wanita yang kini ada dalam rengkuhannya untuk selamanya. Tak akan dilepaskan sebentarpun.


Emely mendorong Dani dan menatap wajah tampan yang kini mengusap bibirnya. Menatap wajah tampan yang tersenyum menatapnya.


"Kau, kenapa suka sekali merebut," kesalnya.

__ADS_1


"Apa jika meminta kau akan memberi?" tanyanya.


Emely yang malu malah menyembunyikan wajah merah meronanya ke arah dada bidang Dani. Sungguh, dia sangat bahagia.


"Aku masih membuka lowongan untukmu membuka hati Em," ucap Dani.


"Apa maksudmu?" tanya Emely sambil mendongakkan wajahnya menatap Dani yang begitu dekat dengannya. Bahkan Dani mengangkat tubuh Emely hingga wanita itu kini berada dalam pangkuannya. Emely juga melingkarkan tangannya di pinggang Dani.


"Lowongan untuk apa?" tanya Emely lagi.


"Bukankah saat itu aku meminta satu kesempatan padamu?" tanya Dani.


"Kau masih punya lowongan untuk menerimanya," ucapnya lagi.


Emely terkekeh pelan. Apa apaan ini, kenapa Dani yang meminta tapi seolah Emely yang membutuhkan? Emely menatap Dani dengan tenang.


"Apa kamu sangat mengharapkannya? Apa tak cukup status pertemanan kita?" tanya Emely.


Dani menghela napas panjang dan menatap Emely dengan tenang juga.


Deg, Dani merasakan detak jantung tak beraturan. Pertanyaan Emely sulit untuk di jawabnya. Yang pasti dia ingin melakukan yang terbaik untuk hubungannya dengan Emely.


"Hem," ucap Dani sambil mengeratkan pelukannya.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Hem?" tanya Emely sambil mengusap pipi Dani yang lebam karna tamparannya.


Dani meringis dan memegangi pipinya. Emely membelalakan matanya ketika melihat tangan Dani yang tampak lebam juga. Dipastikan itu karna memukul setiran mobil tadi. Emely yang khawatir menggenggam tangan Dani dan mengusapnya.


"Apa sakit sekali Mas? Maaf, aku tidak sengaja menamparmu tadi. Ini kenapa tanganmu juga seperti ini? " tanya Emely dengan lembut.


Dani bisa membaca jika Emely saat ini tengah menghawatirkan dirinya.


"Apa kau menghawatirkan aku?" tanya Dani. Emely terdiam dan menatap bola mata indah milik Dani.


"Jika iya, rasa khawatirmu menjadi obat mujarab bagiku. Karna rasa sakit itu akan hilang bila kau panik seperti ini," ucap Dani mencoba mencairkan suasana.


"Gombal," ucap Emely kemudian menundukan kepalanya, wajahnya bersemu merah. Apa yang harus dia lakukan? Memberi kesempatan?


😆😆😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2