
Tuan Wilson dan Tuan Shin keluar dari ruangan rahasia, tampak beberapa penjaga panik dan mengejar orang di sana.
"Ada apa ini?" tanya Tuan Shin pada anak buahnya yang tampak panik.
"Ada penyusup Tuan, tapi kami belum bisa menemukan mereka," jawab keduanya.
"****," umpatnya tampak emosi. Bagaimana bisa ada penyusup? Bukankah tempat ini aman dan tidak ada yang tau? Lalu, jika nanti benar benar ada keonaran, bukankah bisa mengganggu kinerja dealernya yang berada di atas? Sangat memuakan.
"Cari sampai ketemu dan habisi mereka," perintah Tuan Sin dengan Nada keras.
"Baik Bos," Jawab mereka kemudian melangkah pergi.
"Sebaiknya kau kunci ruangan ini. Pastikan pintu tidak bisa dibuka. Aku akan ke atas dan kau tetaplah berjaga," ucap Tuan Shin dan diangguki oleh Tuan Wilson.
Tuan Shin melangkahkan kaki menuju ke pintu penghubung ruangan ini dan ruang kantornya yang berada di atas. Netranya menatap waspada pada beberapa ruangan yang terbuka.
Bagaimana bisa? Kunci ada padanya, tapi bagaimana bisa gembok terbuka tanpa kerusakan sedikitpun? Otaknya berpikir keras.
Siapa yang berkhianat? Bahkan, jikapun menggunakan kunci, hanya ada satu orang yang membawa kunci cadangan.
"Sinta," lirih Tuan Shin sambil mengepalkan tangannya.
Setelah kabur dan tak mau menjalankan misinya. Kini putrinya itu malah menjadi penghianat? Apa maunya? Entah, emosi Tuan Shin meluap. Sinta, sebenarnya siapa lelaki yang membuatnya seperti ini? Siapa lelaki yang membuatnya gila seperti ini? Tuan Shin mati-matian mencari tau tentang wanita yang dinikahi Dani dan mencoba memisahkan mereka, kemudian mencari juga Tuan Wilshon yang memiliki misi yang sama. Lalu, malah putrinya itu membuat kekacauan?
Ini sangat memuakkan baginya. Tuan Shin segera naik ke ruangannya. Dia harus menghubungi Sinta.
...****************...
Beberapa orang kini melihat seorang yang mengendap menuju pintu rahasia.
__ADS_1
"Penyusup," teriak salah satunya. Dengan cekatan mereka menyerang. Dafa yang kini tak bisa lagi menghindar terpaksa melawan.
"Masuk dengan beberapa pasukan, jangan lupa tetap jaga keselamatan Nona Ganesa dan juga Nona Emely," ucapnya dengan lirih. Tentu saja suaranya bisa di dengar orang yang kini tengah berhubungan dengannya dengan alat yang dipasang di telinganya.
"Baik Bos," jawab orangnya yang kini berada di luar.
Dengan gerakan cepat Dafa menyerang dan berhasil menumbangkan beberapa orang. Kini dia berlari ke arah dalam. Dilihatnya Papa Hendra tengah bertarung dengan beberapa orang juga. Segera Dafa membantu omnya itu.
Dafa memberikan satu gerakan perlawanan saat dua orang di depannya mulai bertindak gegabah kepadanya. Yang benar saja, beberapa orang yang ada di dalam tampak keluar. Mereka sejenak diam mengamati perkelahian. Kemudian mereka ikut menyerang saat Dafa dan Tuan Hendra berhasil menumbangkan lawannya.
Bug
Satu pukulan seorang mampu menumbangkan Dafa sehingga lelaki tampan itu tersungkur, Dafa yang terduduk mencoba untuk berdiri, akan tetapi kakinya di cekal oleh salah satu dari mereka.
Dafa tak tinggal diam, menarik kakinya dan memberikan tendangan yang mampu membuat orang di depannya terlentang. Dafa kembali melawan.
Seseorang datang tepat di depan Dafa, Papa Hendra yang sudah hampir kualahan menatap sosok orang yang kini ada didepanya, orang dengan celana Jins, jaket hitam dan topi hitam itu. Entah, siapa itu Dafa dan juga Papa hendra belum jelas memandang wajahnya.
Dor
Satu tembakan dilontarkan oleh orang yang berada di dekat pintu. Vino melirik ke arah orang yang sengaja memancing emosinya. Vino berlari menuju ke arah Om Hendra yang tampak kewalahan dan terkejut karna suara tembakan itu.
"Om, pergilah dan amankan dirimu," ucapnya.
"Vino?" lirihnya.
Tak mendengar ucapan Vino, justru Papa Hendra terus melawan musuh yang kini menyerangnya. Merasa kualahan, orang di depannya meminta bantuan pada orang orang lainya dengan suitan.
Yang benar saja, mereka yang berjumlah enam orang berlari mengepung Dafa dan Vino. Dafa dan Vino saling memunggungi. Bersikap waspada karna orang yang berjumlah delapan orang itu kini mengelilingi mereka.
__ADS_1
"Dafa, kurasa kau cukup hebat. Lima menit kita tumpas mereka," ucap Vino lagi dengan mata melirik ke arah lawan.
"Oke, aku tidak bisa diremehkan Tuan Vino," ucapnya.
Dengan gerakan cepat mereka melawan orang yang kini semakin menggebu menyerang itu.
Papa Hendra terhuyung mundur, dengan gerakan cepat Dafa merah omnya yang kini sedang memegang kepalanya.
"Om memisahlah dari sini," lirih Dafa. Akan tetapi, ucapan Dafa malah menjadi salah satu senjata baginya untuk tetap berdiri disini. Papa Hendra ingin segera menemukan putranya.
Sorot mata Dafa dan sorot mata Papa Hendra menatap ke arah orang yang kini baru saja datang itu. Vino juga melirik ke arah orang itu.
Vino mengamati sosok tinggi tegap yang tak lain adalah Tuan Shien, kawan lama yang ternyata sangat licik itu.
Tuan Shien menodongkan senapan yang dia genggam tepat ke arah Papa Hendra, Vino, Dafa dan Papa Hendra tampak terkejut.
Dor
...****************...
Dani yang bisa meraih kunci kini telah membebaskan dirinya. Diluar sana terdengar perkelahian. Dia juga dengan jelas mendengar suara Dafa dan juga papanya. Dia juga mendengar suara lain yang tak asing dan entah dia belum tau.
Segera dia melepaskan rantai yang membelitnya. segera dia berlari ke arah Lelyta yang kini tampak menangis.
Segera Dani membuka ikat yang membungkam mulut wanita itu dan juga yang melilit di tangannya.
"Lelyta Aku harus keluar. Kau disinilah, jaga dirimu dan ibumu," ucap Dani kemudian melangkah pergi.
Lelyta mengangguk mantap. Sebelum Dani berhasil keluar seseorang tengah menodongkan senjata sehingga membuat Dani terkejut dan Mengangkat tangannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...