Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. A-I-U-E-O


__ADS_3

Mama Elyna merasa puas dengan apa yang di desain oleh beberapa orangnya. Mama Elyna kini juga tersenyum puas memandang beberapa menu makanan yang tersaji di meja. Menu makan sepesial yang diracik dengan bumbu sepesial oleh Emely sendiri pagi tadi.


Kini Mama Elyna menatap dirinya yang masih terlihat cantik dengan umur yang sudah paruh baya.


"Nina, ku tunggu datangmu," ucapnya sambil mengamati parkiran mobil yang berada di bawah sana.


"Belum ada datang, oke aku ganti baju dahulu," ucapnya kemudian melangkah pelan menuju ke ruang ganti.


Sedangkan tak berjeda lama, di bawah sana Mama Nina tengah memarkirkan mobilnya di parkiran paling depan. Pusing yang di derita beberapa hari terakhir sudah membaik. Itu karna kedatangan Dani, Mama Nina menghela napas panjang. Memikirkan sesuatu yang nyatanya diluar nalarnya. Memikirkan sesuatu yang ternyata jauh dari angannya.


Bagaimana bisa dia tak tau apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia memaksa Dani? Sekarang keluarga Sinta tampak tak muncul sekalipun. Apa benar Ganesa dan Dafa telah memperingati? Apa perlu juga dirinya sendiri datang melabrak dan memaki mereka karna telah merusak hubungannya dengan anaknya sendiri.


Jika pada akhirnya dirinya tau kebusukan keluarga Sinta, lalu bagaimana bisa saat itu wanita cantik itu berada diantara mereka? Mama Nina menghela napas panjang. Beliau mencoba mengingat wajah itu, wajah yang saat itu kelihatan sebal sekali. Sebenarnya apa yang terjadi?


Kini Mama Nina masih berada di mobil, penjelasan dari Papa Hendra dan Dani sebenarnya sudah sangat jelas dan detail. Tapi kenapa dia tidak puas bila belum bertemu keluarga sinta sendiri? Jika kesana apa masih akan ada drama pembelaan diri? Mama Nina menghela napas panjang. Dia merencanakan akan tetap membicarakan semua dengan keluarga Sinta nantinya.


Mama Nina melirik jam yang menunjukan pukul 01.00. RE colectoin adalah salah satu perusahaan milik sahabatnya itu. Pasti sahabatnya itu sudah ada di dalam.


Saat itu, Mama Nina mendongak, menatap ke arah gedung berlantai empat yang megah itu.


"Sepertinya cepat bertemu dengan Elyna akan membuat perasaanku jauh lebih baik," ucapnya.


Mama Nina membuka pintu mobil, disaat yang sama di sampingnya juga seseorang tengah membuka pintu.


"Maaf tante," ucap seseorang yang tak sengaja menyentuh lengan tangan Mama Nina.


Mama Nina mengangguk dan mengulum senyum, beliau meoleh ke arah belakang. Akan tetapi senyumnya perlahan menghilang ketika menangkap bayangan gadis yang familiar di matanya. Keduanya saling menatap. Keduanya saling mencoba mengingat.


Deg


Mama Nina menghela napas panjang, muncul dalam otaknya kejadian beberapa waktu yang lalu. Dia meandang Emely dari atas sampai bawah. Apa dia istri siri Dani? Wanita yang beberapa minggu lalu datang ke acara yang gagal itu? Bahkan, gadis ini juga yang tadi dipikirkan olehnya. Apa dia salah orang?


Emely? Apa gadis itu adalah Emely? Hanya saja Mama Nina tampak pangling melihat penampilan baru wanita itu. Ets, bukankan jika istri Dani maka wanita di depannya adalah menantunya? Mama Nina tampak terdiam.


Emely kini memejamkan matanya sejenak, sambil mengusap air mata yang dari tadi sulit untuk berhenti. Emely mencoba mengingat orang yang sepertinya pernah dia jumpai. Dimana? Entahlah. Bahkan Emely tak ingat apapun.


"Maaf fante, saya tidak sengaja," ucap wanita cantik itu.

__ADS_1


Mama Nina menautkan alisnya. Tante? Tidak ingatkah bahwa dia adalah mertuanya? Hais, bukankan memang mereka hanya bertemu sejenak? Salahkan bila Emely tidak kenal. Kenapa mama Nina berharap sekali wanita itu mengenalinya.


"Iya, tidak papa!" jawabnya jutek kemudian melangkah pelan.


Emely atau bukan? Kenapa berhijab?


Tadinya Mama Nina yakin, akan tetapi melihat gaya wanita di belakangnya dia berpikir dua kali. Betulkah itu menantunya?


Emely memandang punggung wanita itu. Entah, dia ingin sekali dipeluk orang itu. Dia merasa jika dia dipeluk maka akan membaik keadaan hatinya.


"Tante," panggil Emely.


Deg


Seketika Mama Nina berhenti, apa dia dipanggil? Emely yang merasa sedih kini berjalan ke arah Mama Nina dan berhenti di depan wanita paruh baya itu. Emely yang memang aslinya tegas dan periang kini menatap wanita paruh baya itu dengan tenang.


Mama Nina terkejut, melihat pipi sembab wanita cantik di depannya. Kenapa dia? Kenapa wanita ini menangis?


"Kamu memanggilku?" tanya Mama Nina dengan nada juteknya.


"Iya, apa tante mau membantuku?" tanya Emely sedikit tak enak. Baru kenal, lalu harus dimintai peluk? Apa ada yang salah dengan dirinya? Kenapa seperti ini? Entahlah, yang jelas Emely ingin suasana hatinya membaik.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya sedikit hangat. Netranya memandang wanita cantik di depannya yang mungkin sebaya dengan Ganesa putrinya.


"Maaf, mungkin sedikit lancang. Tapi saya mau minta di peluk tante, apa boleh?" tanya Emely memberanikan diri sambil menggigit bibir bawahnya. Apa permintaanmya tak berlebihan? Apa dapat pelukan atau justru makian, atau malah tamparan? Emely memejamkan matanya, menunggu dengan harap cemas jawaban yang akan keluar dari mulut wanita paruh baya di depannya.


Mama Nina tampak terharu, bahkan untuk menolak juga tak mampu. Entah daya apa yang menariknya untuk setuju, akan tetapi tanpa menjawab Mama Nina maju dan meraih Emely dalam dekapannya. Ya, menatap wajah Emely yang harap cemas membuatnya enggan menolak. Bahkan, Mama Nina ingat sesuatu. Saat hamil Dani dulu dia juga meminta hal yang sama pada mertuanya.


Deg


Lalu, jika memang yang ada dipelukannya adalah Emely, istri dari Dani. Apa dia sedang Hamil? Astaga, kenapa pikiranya kemana mana? Dia Emely atau bukan?


Emely terkejut, wanita ini tak menolak? Bahkan tanpa aba aba langsung memeluknya? Astaga, bahagia sekali jika dia disayang mertua. batin Emely sambil menikmati nyaman di pelukan wanita yang tak dikenalnya itu.


"Sudah, kau menyita waktuku!" ucap Mama Nina sambil melepaskan pelukannya, membuat Emely berdiri dan merapikan baju gamisnya. Setidaknya dia merasa suasana hatinya benar benar membaik.


"Maaf tante, tapi terimakasih. Sebagai tanda trimakasihnya, aku akan memberi tante vocer gratis blanja disini," ucap Emely.

__ADS_1


Mama Nina menautkan alisnya, apa dia sedang dimodusi dan mau di bohongi? Bukankan RE adalah perusahaan milik Elyna? Jika dia Emely, bukankah wanita itu hanya staf kantor? Mana bisa memberikan vocer? Mama Nina menatap Emely dengan waspada.


Oh, sepertinya aku tidak akan membiarkan wanita ini pergi. Aku akan mempertemukan dia dengan Elyna, biar mendapatkan hukuman wanita modus sepertinya, batin Mama Nina.


"Vocer?" tanya Mama Nina.


"Ya," jawab Emely sambil tersenyum.


"Oke, kita barengan. Kita sama sama, sekalian nanti kamu ikut aku bertemu dengan sahabatku," ucap Mama Nina. Emely tampak bahagia.


Oh My God, tadinya hanya mau dipeluk. Tapi malah dapat bonus untuk menemani. Sangat membahagiakan. pikir Emely.


"Baik tante," ucap Emely. Keduanya berjalan ke dalam RE grup.


Di atas sana, Mama Elyna tampak menautkan alisnya melihat kebersamaan Emely dan sahabatnya.


"Oh, jadi Emely dan Nina saling mengenal? Bukankan memang itu Nina? Astaga, kalau begini nanti tidak usah repot repot mengenalkan. Apa mungkin Nina pelanggan RE?" gumam Mama Elyna sambil tersenyum.


"Nyonya, ini sudah semuanya," ucap pelayan.


"Oke, terimakasih. Mbak, tolong beri tau tamu yang bersama Nona Emely untuk langsung saja ke ruang ini ya," ucap Mama Elyna.


"Sekarang Nyonya?" tanya Pelayan dan diangguki oleh Mama Elyna.


Pelayan itu langsung berjalan ke arah luar.


*


*


*


"****," umpat Dani saat lampu merah mendadak menghentikan mobilnya.


Dani yang tampak hawatir dan panik kini membuka ponselnya. Tadi dia meminta Rudi mencari Emely dan memberikan informasi padanya. Saat ini Dani menautkan alisnya melihat Vidio yang dikirimkan oleh Rudi. .


Emely dan mamanya berpelukan? Apa mereka baikan?

__ADS_1


****


Maafkan aku up lama, othor sedang tidak enak badan. Mohon doanya segera sehat kembali. Amin.. Jangan lupa ritual goyang jarinya ya. Like, komen dan hadiah biar othor ramah semangat. wkwkwk


__ADS_2