
Emely keluar masuk mobil, hatinya terasa tak nyaman dengan keadaan ini. Hari ini dia ingin segera bertemu dengan Dani. Wajahnya begitu gelisah, namun dia mencoba untuk tetap tenang.
Emely melirik ke arah rantang makanan berwarna biru laut itu, wajahnya kembali tersenyum saat melihat ke arah makanan kesukaan suaminya.
Ini untuk pertama kalinya dia datang ke kantor Dani, bahkan tak ada seorangpun yang tau status hubungan dirinya dengan Dani. Lalu, bagaimana nanti? Ini menjadi sebuah uji nyali yang mendebarkan, pasalnya dia ingin bertemu Dani entah karna alasan apa.
Emely keluar dari mobil dan mendapati Pak Rahman baru saja datang bersama dengan pegawai bengkel online.
"Bagaimana Pak?" Emely keluar sambil bertanya pada Pak Rahman.
"Alhamdulillah Nona, sudah bisa di perbaiki. Nona tidak keberatan menunggu? Atau mau saya pangiilkan taksi online saja?" tanya Pak Rahman.
Emely menghela napas panjang dan tampak berpikir, Emely tersenyum memandang ke arah sopirnya itu.
"Aku menunggu bapak saja. Lagi pula aku juga tidak sedang terburu-buru," ucap Emely dan diangguki oleh Pak Rahman.
"Nona bisa menunggu di sana." Pak Rahman menunjuk ke arah kursi yang berada di bawah pohon yang begitu rindang. Segera Emely melangkah ke arah sana. Duduk dengan anggun, sambil menagarahkan pandangan matanya ke arah ponsel yang sejak kemarin dia matikan.
Dia ingin tenang, tak ingin ada satupun manusia yang mengganggu ketenteramannya. Entah, akhir akhir ini dia merasa mudah lelah, merasa cengeng, merasa seperti bocah. Tapi terkadang bingung, apa yang sedang terjadi pada dirinya. Alhasil, demi menanggulangi itu semua, Emely mencoba untuk mengalihkan dunianya.
Emely memandang ke arah sana, menatap ke arah dimana burung burung berterbangan. Ke arah dimana kupu kupu kesana kemari. Emely tersenyum hingga pada akhirnya air matanya mengalir tanpa di minta. Tak tau apa yang terjadi pada dirinya, dia selalu dalam keadaan emosi yang berubah ubah. Yang pasti yang dia inginkan berada dalam pelukan Dani, menatap wajah itu dengan tenang.
"Nona, kita sudah bisa berangkat." Pak Rohman tergopoh menuju ke arah Emely. Emely yang semula memandang ke arah sana kini menatap ke arah Pak Rohman.
Ucapan Pak Rohman bagaikan berita yang begitu membahagiakan. Emely melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
Jam menunjukan pukul 12.30. Masih bisa dia ke kantor suaminya.
"Mari kita berangkat sekarang, Pak," ucapnya.
Pak Rohman mengangguk, tergopoh ke arah mobil dan segera membuka pintu mobil untuk Emely. Emely segera masuk ke mobil dan kini kembali menatap rantang makanan dan tersenyum.
"Aku datang Mas," lirih Emely.
***
Sifa kini berdiri di depan gedung ARW grup, dia tersenyum pada akhirnya sudah sampai di tempat ini.
Dia hanya berusaha amanah mengantarkan apa yang di titipkan Pak lurah. Segera wanita cantik itu menapaki anak tangga demi anak tangga menuju ke loby perusahaan.
"Selamat siang Nona, selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis yang berada di sana menyambut kedatangan Sifa.
__ADS_1
"Siang mbak, saya mau menitipkan berkas. Minta tolong di sampaikan pada Pak Dani bisa?" tanyanya sambil menyerahkan amplop coklat pada petugas resepsionis. Petugas Resepsionis tampak menatap ke arah Sifa yang tampak cantik dan sangat mempesona. Resepsionis pikir tadinya yang datang adalah Nona Nada, ternyata bukan. Lalu, apa hubungannya wanita itu dengan Dani atasannya?
"Oh, bisa mbak. Apa tidak langsung disampaikan sendiri saja? Sebentar lagi jam istirahat habis, mbak bisa menemui Pak Dani sendiri," ucapnya.
"Terimakasih mbak, tidak usah, saya langsung saja, Assalamualaikum." ucapnya sambil tersenyum ke arah resepsionis.
"Sama sama mbak, waalaikumsalam," ucapnya.
Sifa hampir saja keluar loby perusahaan, saat itu bertepatan dengan Dani yang baru saja sampai di depan Loby. Mereka saling berhadapan. Sifa dan Dani tampak terdiam.
"Sifa,"
"Dani,"
ucap mereka bersamaan, Sifa tampak canggung begitu juga dengan Dani. Tapi, Dani segera menguasai hatinya. Bukan cinta lagi, dia hanya terkejut melihat Sifa.
"Sifa, apa yang kau lakukan disini? Masuklah," ucapnya sambil tersenyum.
Sifa menghela napas panjang dan mencoba tersenyum.
"Terimakasih, Dani. Saya kesini hanya menyampaikan amanah dari pak lurah untuk diberikan padamu Dan," ucapnya.
"Lalu dimana berkasnya?" tanyanya.
"Sudah aku titipkan di resepsionis. Makanya aku mau pamit pulang sekarang," jawab Sifa.
"Sebaiknya masuk dulu, barang kali ada hal yang nanti aku tanyakan," ucap Dani spontan.
"Tapi," Sifa menjawab.
Dani menghela napas panjang, dan tersenyum.
"Tidak akan terjadi fitnah, aku akan meminta adikku menemaniku," ucap Dani.
Sifa mendongak, dia tak tau harus bagaimana. Hingga pada akhirnya mengangguk pelan.
Di bawah Sana, Emely yang berdiri di samping mobil hanya bisa menahan deraian air mata yang mengalir dari mata indahnya. Entah apa yang dibicarakan, yang jelas interaksi antara Sifa dan suaminya membuat dia menangis.
"Em, tolong jangan cengeng. Kau tak tau apa yang mereka bicarakan, mungkin saja masalah pekerjaan, " lirih batin Emely. Entah apapun itu, yang jelas nyatanya hatinya merasakan sakit dan sesak secara bersamaan.
Emely kembali ke dalam mobilnya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Nona tak jadi masuk?" tanya Pak Rohman.
"Bapak, tolong titipkan pos satpam, rantang ini. Nanti kita langsung pulang saja, sepertinya Tuan Dani ada tamu," ucapnya.
Pak Rohman mengangguk pelan dan segera mengerjakan apa yang diminta oleh majikannya.
Emely melirik ke atas sana, melihat Dani dan Sifa yang masuk ke dalam kantor. Emely mengusap dadanya dengan pelan yang merasakan sesak dan sakit secara bersamaan.
Tak lama kemudian, pak Rohman kembali ke mobil.
"Sudah Nona," ucap pak Rohman.
"Kita pulang sekarang," ucap Emely dan diangguki oleh Pak Rohman.
Pak Rohman segera memutar mobil, keluar dengan perlahan dari ARW grup.
Emely menghela napas panjang sambil mengamati kantor ARW yang menjulang tinggi. Pikirannya melayang jauh, terkadang muncul rasa sesal atas sebuah pernikahan. air matanya mengalir deras.
Pikiiran Emely melayang jauh, tentang Sifa yang mempunyai kebaikan hati, memikirkan kebenaran bahwa Dani dulunya mencintai Sifa dan dia hadir diantara mereka sehingga akhirnya mereka saling mencintai dan semalam mengungkapkan perasaan.
"Kenapa harus Sifa, kenapa bukan orang lain saja?Aku seperti orang terjahat di dunia yang tega mengambil hati mas Dani. Kenapa aku bisa melakukan ini?" Emely memejamkan matanya. Mengusap air mata yang terus saja mengalir.
Tak berapa lama kemudian, Pak Rohman mengambil ponselnya yang berdering dan menampakan nama Nyonya besar.
"Nona, ada panggilan dari Nyonya besar," Pak Rohman menyerahkan pada Emely.
Emely segera mengambil ponsel itu dan menggeser tombol hijau.
"Halo ma, assalamualaikum," sapa Emely.
"Waalaikumsalam Em sayang, mama sudah Di RE sekarang. Kamu masih lama?" tanya mamanya.
"Oh, enggak Ma. Ini Em sudah selesai, mama tunggu sebentar ya," ucapnya sambil tersenyum.
"Oke sayang, mama tunggu. Hati hati ya, assalamualaikum " ucapnya.
"Waalaikumsalam," ucapnya lagi sambil menutup telepon.
"Pak, kita pulang sekarang," ucapnya dan diangguki pak Rohman.
*****
__ADS_1