Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kegelisahan Dani 2


__ADS_3

Dani menatap beberapa berkas yang berada di tumpukan meja, hari ini sangat melelahkan baginya. Sepulang kerja nanti dia harus menemui mamanya yang mengajaknya diner di suatu mol. Lalu masih sanggupkah dia mengulur waktu untuk menemui Emely lebih lama lagi? Emely begitu mengusik pikirannya.


"Kak, kenapa?" tanya Ganesa lagi saat melihat Dani yang kini tengah memainkan ponselnya. Menscrol ke atas ke bawah dengan panik.


"Kita selesaikan pekerjaan kita, perasaanku tak nyaman. Aku harus segera pergi untuk urusan pribadiku," ucap Dani dengan tenang.


Perasaan Dani saat ini begitu kacau, saat satu Vidio dia terima dari Rudi. Kenapa baru sekarang di bukanya? Kenapa tidak sejak tadi? Hais, kenapa menggebu seperti ini? Bukankah memang dia baru sempat membuka ponsel?


Dani mengamati Vidio itu dengan geram. Tangannya terkepal memahan amarah.


"Nona Rakhayla, kami mau bertanya. Apa benar anda melakukan hal tidak senonoh di suatu desa kemudian di grebek warga?" tanya salah satu wartawan yang tengah menatap Emely dengan memberikan selembar foto yang memperlihatkan dirinya dan Emely akan tetapi tidak begitu jelas itu.


Dani menghela napas panjang kemudian kembali menatap Vidio diponselnya.


"Apa ini foto anda?" tanya wartawan itu lagi.


"Dengan siapa anda melakukan ini?" tanya yang lainya.


Dani mengamati wajah Emely yang bersedih, wajah Emely yang gelisah. Emely juga tampak memejamkan matanya.


"Kenapa anda sekarang berpakaian seperti ini? Apa untuk menutupi aib yang tengah bergulir?" tanya salah satu dari mereka


Dani melihat Emely di dalam Vidio itu tampak meneteskan air mata.


Bod*h, kenapa kau diam saja? Bukankah kau itu orang yang pandai berbicara sepanjang jaman? geram Dani.


"Maaf Mbak dan Mas Wartawan yang baik, sepertinya hari ini saya sangat sibuk dan tidak bisa untuk menjawab pertanyaan yang anda semua tujukan, jadi mohon maaf ya. Lain waktu kita jadwalkan untuk saling mengobrol," ucap Emely sambil mengatupkan tangannya dan menerobos masuk ke dalam bangunan empat lantai yang bertuliskan RE Grup itu.


"Nona Rakhayla, tolong waktunya sebentar," teriak wartawan yang tampak sedang diabaikan oleh Emely. Emely masuk ke dalam kantor dan menghilang dari pandangan.


"****," umpat Dani sambil meletakan ponselnya ke meja dengan kasar.


"Ada apa kak?" tanya Ganes lagi. Tak me dapat jawaban dan dia merasa bingung, kini Ganes mengambil ponsel Dani dan melihat sendiri vidio apa yang dilihat oleh kakaknya.

__ADS_1


Ganes menautkan alisnya, apa kakaknya khawatir? Apa Kakaknya benar benar gelisah. Astaga, Emely benar benar hebat bisa mengalihkan perhatian seorang Ardani Rahardian wijaya yang semaunya sendiri itu.


"Kakak Menghawatirkannya?" tanya Ganesa dan tak mendapatkan jawaban dari Dani lagi.


Ganes menghela napas panjang dan meletakan ponselnya lagi di depan Dani yang saat ini benar benar gelisah.


"Pergilah, sepertinya percuma saja kau ada di sini tapi pikiranmu melayang entah kemana, kau benar benar menyebalkan Tuan Ardani Rahardian wijaya," ucap Ganesa sambil kembali mengambil berkas tumpukan yang tadi diletakannya.


Dani melirik adiknya yang kini tampak biasa saja itu.


"Aku kembali ke ruanganku," ucapnya kemudian melangkah menuju ke arah pintu.


"Ganes," panggil Dani pada adik perempuannya itu. Ganes menoleh menatap ke arah kakaknya yang saat ini sedikit tersenyum.


"Apa?" tanya Ganes sok jutek. Padahal aslinya dia bahagia melihat kakaknya kembali dalam perasaan yang baik.


"Terimakasih," sahut Dani.


"Cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran," ucap Ganes kemudian membuka pintu dan menghilang dari pandangan Dani.


Tak berapa lama kemudian, suara deringan ponsel terdengar dari saku jas Dani. Dengan cepat pria 28 tahun itu meraih ponselnya setelah melihat nama Rudi tertera di sana.


"Halo Rud, dimana kau? Kenapa kau baru menghubungi? Bagaimana keadaan Nona Emely?" tanya Dani memberondong Rudi dengan beberapa pertanyaan.


"Halo bos, maaf aku baru bisa menghubungimu. Saat ini Nona Emely masih di kantor, RE grup. Sedari pagi dia tak keluar dari ruangan. Bahkan orangku tak bisa mencari tau apa yang dilakukan Nona Emely," ucap Rudi dengan tegang.


Dani menghela napas panjang, apa yang terjadi pada istrinya? Bagaimana bisa ini terjadi?


"Apa kau bisa bekerja? Begitu saja kau tak becus!" sentaknya.


Dani segera masuk ke dalam mobil, kini sorot mata tajam Dani memandang ke arah lalu lalang orang yang yang tengah menikmati sora yang menyenangkan.


Dani memejamkan matanya, hatinya bergemuruh marah mengingat beberapa pertanyaan wartawan yang pasti mengusik hati istrinya. Walau bagaimana dia memperlakukan Emely dengan tindakan yang terkadang melukai hati. Akan tetapi, melihat Emely diperlakukan tidak baik oleh orang lain membuatnya sesak dan tak terima.

__ADS_1


Dani mengeluarkan ponsel dari sakunya, di bukanya galeri yang memperlihatkan beberapa foto bersama dengan Emely. Foto pernikahan yang diambilnya dari pak lurah saat itu.


Dani menghela napas panjang dan mengusap wajah Emely yang tampak cantik dengan balutan baju kerja yang sederhana. Ada Rasa bahagia, sebal, sesak, dongkol, semua berkumpul menjadi satu.


Pernikahan itu terjadi karna pemaksaan warga, Emely? Wanita itu hanya korban kecelakaan yang sudah menjadi takdir. Lalu, kenapa dia memperlakukan Emely seperti saat itu?


"****," Dani beberapa kali mengumpat. Pikirannya kacau, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Kenapa Emely seperti hantu yang kini selalu menghantuinya? Dani melirik foto Emely lagi.


"Kenapa kau membuatku gila Em? Plise jangan menyiksaku," Dani mengusap kasar wajahnya. Mencoba mengalihkan bayangan wajah cantik istrinya yang tengah memenuhi otaknya.


"Shitt," umpatnya lagi.


Dani lagi-lagi menghela napas kasar. Dadanya semakin sesak saat mengingat nama Raymon yang mencoba mendapatkan Emely kembali. Bahkan melihat foto Emely di dalam sebuah majalah yang tampak mesra dengan Felix salah satu manajer sebuah agenci perfilman membuatnya panas.


"Rakhayla Emely," gumamnya pelan.


Dani mencengkram setiran mobil. Mengepalkan tangannya dengan kuat saat mengingat ucapan Emely bahwa mereka hanya berstatus teman.


Brak


Dani memukul setiran mobil sehingga membuat lebam di tangannya. Entah, bagaimana bisa dia seperti orang gila yang tidak bisa untuk menguasai hatinya?


Perih? Hatinya seakan sakit dan merasakan sesak yang entah di sebabkan oleh apa.


Bahkan, nama Sifa tidak diingatnya sama sekali. Hanya wajah Emely yang selalu menghantuinya. Entah perasaan yang bagaimana yang bertekstur di hatinya. Benci, sayang atau bagaimana Dani tak sanggup mengartikannya.


Dani menggeser lagi galeri di ponselnya, menatap wajah cantik Emely yang diambilnya secara diam-diam, mengambil foto Emely saat wanita itu tertidur pulas.


"Emely," gumamnya lagi sambil melihat foto wajah yang teduh dan mampu menggetarkan hatinya.


Bagi Dani saat ini, pernikahan kala itu adalah sesuatu yang sakral dan menggetarkan. Meski tidak saling mengenal, tetapi ijab kabul kala itu benar-benar membekas di hatinya. Memberikan perasaan yang sulit untuk di jelaskan.


"Emely, aku tak akan pernah membiarkanmu pergi," ucapnya.

__ADS_1


Dani melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke RE grup, dia mengabaikan panggilan ponsel yang berasal dari mama Nina.


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2