Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Neng Asyfa Khanza


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 05.30 pagi. Pondok pesantren Miftahus Syifa yang akan menyelenggarakan donor d*rah, begitu antusias mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan.


Mereka menyiapkan ruangan agar nyaman untuk acara, membersihkan lingkungan pesantren supaya bersih dan rapi untuk menyambut kedatangan para dokter muda yang katanya terdiri dari beberapa dokter.


Syfa Melirik ke arah luar dan tersenyum melihat antusias para santri untuk mengikuti donor d*rah itu. Sifa terdiam, sepertinya dirinya sangat penasaran. Setampan apa dokter yang akan datang, kata kakaknya yang mengurus segala acara, dokter yang akan menangani masih muda sekali. Sifa menghela napas panjang, tak perduli dengan dokter itu, diotaknya malah terngiang wajah tampan menyebalkan tapi mencuri perhatiannya, seorang asisten pribadi dari Marvel Raditia Dika, asisten dari suami Nada yang pernah beberapa kali bertemu dengannya di butik kala itu.


*Flas back*


Di Sheyna bontique beberapa waktu yang lalu. Dani seperti mandor kasir yang mengawasi dua pekerjanya. Setiap orang yang keluar dari Seyna bontique diperiksa ponselnya dan dihapus semua yang ada gambar Nada dan Radit. Dani memberikan uang tutup mulut sebagai gantinya.


Sifa yang baru saja keluar dari ruangannya terkejut saat di meja kasir benar-benar padat antrian. Sifa dengan emosi yang mengebu menarik tangan Dani. Seketika Dani memberikan amplop pada anak buahnya.


Dani mengikuti langkah wanita cantik yang kini terus menariknya menuju ke luar butik.


"Apa yang kau lakukan? Pergi dari sini dan jangan membuat keributan, apa yang kau cari dari ponsel mereka?" bentak Sifa dengan lantang.


Dani hanya terdiam mengamati bibir manusia cantik yang kini mengomel ria di depannya tanpa mendengar ucapannya. Imajinasi liarnya menatap wanita cantik berhijab ini seperti Ayana jihye moon.


"Hai, apa kau tidak mendengarku?" Sifa yang sedang emosi memukul lengan Dani dan berhasil membuat lelaki tampan itu kembali dalam kesadaran. Ditatapnya Sifa yang menghela napas panjang dan tampak emosi kepadanya.


"Siapa anda Tuan? Mengapa membuat keributan disini?" tanyanya sinis. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis.


"Jangan ganggu aktifitas saya Nona, saya sudah mendapat izin dari Nona Nada," ucapnya dengan santai.


Sifa terkejut mendengar nama Nada disebut pria itu, apakah artinya Nada telah menyetujui ini semua? Entahlah, percuma juga berdebat jika pada akhirnya dia harus mengalah. Sifa melangkah pergi namun lelaki itu mencegahnya.


"Kau diam saja disini, Nona. Jika kau berani melangkah selangkah saja, saya pastikan hidup anda tidak bisa tenang untuk kedepannya," ucap Dani. Sifa terdiam. Dia memutar langkahnya menuju ke arah Dani dan menatap tampang menyebalkan lelaki itu.


"Memangnya pekerjaanku hanya meladeni orang sepertimu saja? Tidak ada waktu untuk itu," ucap Sifa kemudian melangkah pergi. Dani tersenyum tipis, wanita itu benar-benar membuat dirinya tertantang untuk mendekatinya.


Dani yang semula bersandar di dinding dan mengamati wanita itu, kini berjalan dan mengikuti langkah Sifa menuju ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Sifa yang merasa diikuti kini membalikan badannya tepat saat Dani masih melangkah sehingga tubuh mereka bertabrakan. Dani terkejut, begitu juga dengan Sifa. Keduanya saling berpandangan. Keduanya merasakan geleyar aneh melintas diantara keduanya.


Sifa mundur beberapa langkah dan mencoba menatap Dani dengan tenang.


"Kenapa mengikutiku?" tanya Sifa tampak sebal.


"Aku bebas melakukan apa yang aku mau," ucap Dani.


"Kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, minggirlah!" sentak Sifa. Dani tersenyum tipis dan menatap lekat wajah cantik wanita itu.


"Ikut aku sekarang juga," ucap Dani sambil menarik tangan Sifa. Sifa mencoba melepaskan tangan Dani yang memaksanya sambil berjalan.


"Diam, atau mau aku melemparmu ke tengah jalan?" ucap Dani. Sifa yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun menarik tangannya dengan paksa. Sifa melayangkan satu tamparan keras di wajah Dani.


Dani sontak memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Sifa. Dani mengumpat di dalam hati, bagaimana ada orang seberani ini padanya?


"Kau,"


"I Like it," lirihnya sambil tersenyum sinis.


🎀🎀🎀


Flash Back Off.


"Ardani," lirih Syfa.


"Kenapa tidak aku tidak melihatnya beberapa hari ini?" pertanyaan yang terngiang dalam benaknya. Rasanya ingin cepat hari senin dan masuk kerja, siapa tau dia akan bertemu dengan Dani saat Dani ke butik untuk bertemu dengan Nada. Sifa tersenyum membayangkan itu.


Terdengar ketokan pintu dari arah kamarnya, segera sifa berjalan dan membuka pintu. Dilihatnya Mbak Hani salah satu santri, abdi dalem di rumahnya berdiri dengan sopan di depannya.


"Maaf Neng Sifa, Neng Sifa di panggil Pak Kiai untuk ke ruang tamu," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh, iya Mbak. Terimakasih, aku kesana sekarang," ucap Syifa kemudian segera keluar dari kamar. Syifa dan Mbak Hani bersamaan melangkah dan terpisah di pintu dapur.


"Asalamualaikum, selamat pagi Abah." Sifa mencium tangan Kiai Yusuf dan mencium kedua pipinya. Sangat manja, berbeda dengan Humaira dan Arkhan kakaknya.


"Pagi Nak, kenapa masih di kamar? Bukankah Abah memintamu untuk ke rumah dinas sana?" tanya Kiai Yusuf pada putrinya itu.


"Bah, ini masih pagi. Apa pantas berkunjung ke sana, sedangkan mereka itu penganten baru. Syfa takut mengganggu, Bah," ucapnya. Kiai Yusuf terkekeh mendengar ucapan putri bungsunya itu.


"Sepertinya kamu sudah waktunya juga untuk jadi pengantin," canda abahnya. Syifa tersenyum dan menggeleng. Tapi, justru pikiranya melayang membayangkan wajah Ardani.


Walau putri seorang Kiai, perbedaan Sifa dengan kebanyakan putri Kiai lainya adalah, tidak berharap berjodoh dengan seorang gus. Entah itu siapa, dia berharap jodohya orang yang baik dan tentunya bisa membahagiakan di dunia dan sama sama beribadah untuk akhiratnya.


"Kak Humaira dulu aja Bah, Kak Arkhan juga," jawabnya.


Kiai Yusuf tersenyum, memiliki dua putri dan satu putra membuatnya bahagia. Meskipun mereka berbeda prinsip dan terkadang juga berbeda pendapat. Namun, beliau tau, Sifa, Humaira dan juga Arkhan sejauh ini bisa mengendalikan semuanya.


"Kamu bawakan makanan sekalian, kalau mau ke rumah dinas. Kasian, sepertinya mereka belum makan juga Fa," ucap Pak Kiai. Sifa mengerutkan keningnya.


"Bah, kenapa Abah sepertinya sangat menghawatirkan mereka?" tanya Syifa. Pak Kiai tersenyum dan mengusap pelan pundak Syfa.


"Abah hanya kasian, tidak lebih. Sepertinya mereka memang tidak salah. Jadi, abah kepikiran saja sampai sekarang," ucap Pak Kiai. Syfa menghela napas panjang.


"Ya sudah, kalau begitu Syfa akan mengambil makanan dulu Bah, Syifa sudah menyiapkan baju gamis untuk dia juga," ucap Syfa.


"Hem, terimakasih Nak. Semoga kebaikan kamu dibalas oleh Allah SWT," ucap Pak Kiai.


"Amin," lirih Syfa kemudian berdiri dan melangkah ke ruang dapur. Dibawanya rantang makanan dan satu paperbag yang berisi dua baju dan juga satu mekena yang dia ambil dari kamarnya.


Diliriknya jam yang masih sangat pagi sekali. Apa pantas untuk bertamu? Entahlah, Shyfa meminta Mbak Hani untuk menemaninya ke rumah dinas itu.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2