Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kecupan Perpisahan


__ADS_3

"Selamat malam," jawab Dani pada dua bodiguard itu ketika masih pada posisi yang sama. Emely menatap tajam ke arah dua orang yang baru saja datang itu. Mau apa mereka? Kenapa datang kesini? Siapa mereka?


"Apa yang harus Kami lakukan Tuan Muda?" tanya mereka. Dani melirik Emely yang tampak bingung kemudian melepaskan tangannya dari wanita berhijab itu.


"Antar wanita ini ke mansion keluarganya, pastikan dia selamat sampai tujuan," ucap Dani sambil menatap kedua bodiguard itu dengan tatapan yang dingin.


"Baik Tuan Dani," jawab mereka bersamaan.


Deg


Jantung Emely tiba-tiba saja merasa sesak, jadi itu orang Dani? Mereka akan mengantarkan pulang? Bukankah seharuanya senang. Tetapi kenapa malah dia merasakan sesak? Emely menatap Dani yang saat ini memandangnya.


"Pulanglah Em, bukankah ini yang kau mau? Semoga kau bahagia Nona Rakhayla Emely Pradikta, mereka yang akan mengantarmu," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Emely merasakan hatinya hancur, kenapa? Entahlah, yang jelas saat ini air matanya mengalir deras.


Emely menghapus air matanya sambil menatap mobil Dani yang perlahan menjauh dari matanya. Air mata Emely semakin deras membasahi pipinya. Kenapa menangis? Apa yang membuatnya sesedih ini?


Dani yang telah melajukan mobilnya bisa melihat dengan jelas gurat kesedihan di wajab Emely dari kaca spion. Menghentikan mobilnya? Rasanya tak bisa dia menjatuhkan harga dirinya hanya untuk kembali ke arah Emely.


"Nona, mari kita jalan sekarang," ucap salah satu dari mereka yang berdiri di belakangnya.


Emely menghela napas panjang, Dani memang suaminya. Tapi mereka tidak saling mencintai. Apa yang bisa diharapkan dari pernikahan yang terjadi karna keterpaksaan? Emely mengusap air matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku hitung sampai lima, jika dalam hitungan lima kamu tidak kembali. Aku berjanji tidak akan pernah mengingat kita pernah bersama," ucap Emely dalam batinnya.


"Satu," Emely memejamkan matanya saat Danu masih melaju.


"Du, a,"


"Ti ga,"


"Em pat,"


Dalam hitungan ke empat, sepeetinya Dani masih juga melaju dengan tenang, Emely tersenyum dalam tangisnya. Dani tetap bukan siapa siapa baginya, nyatanya beberapa malam bersama masih tak merubah apapun.


"Oke Dani, kita cukup sampai di sini," ucapnya kemudiaan memutar tubuhnya.


Dani melihat pergerakan Emely, dirinya yang semula kokoh untuk tidak menghampiri, kini seperti tertarik sebuah magnet. Dani memundurkan mobilnya. Dengan cepat dia berhenti dan keluar dari mobil. Dani berlari dan menarik tangan Emely yang hampir saja naik ke atas mobil.

__ADS_1


Emely terkejut saat dirinya tiba tiba berada di depan Dani, kapan Dani kembali. Entah, senyuman indah terbit dari bibir indahnya.


"Kenapa kembali?" sentak Emely. Padahal hatinya bahagia, tapi justru ucapan itu yang muncul di mulutnya,"


Dani menatap wajah Emely dengan teduh kemudian mengusap dengan lembut wajah cantik itu.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam. Semoga mimpi indah," ucapnya kemudian melenggang pergi kembali.


Emely memejamkan matanya, mengusap pipinya yang baru saja di sentuh Dani. Entah, hatinya sepertie mencair dan begitu hangat.


"Yes," lirihnya.


Dani mengernyitkan dahinya kemudian kembali ke arah Emely. Emely terkejut mendapati Dani di sampingnya. Apa Dani mendengar ucapannya?


"Aku pergi dulu Em, pulanglah dengan hati hati," ucap Dani sambil mengecup singkat puncak kepala Emely. Emely seketika masuk ke dalam mobil. Jantungnya dag dig dug seperti genderang mau perang. Emely menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil merasakan kecupan perpisahan daei Dani yang masih sangat terasa.


Melihat Emely menjauh, Dani segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk bertemu dengan Papanya.


🎀🎀


Dani kembali melajukan mobilnya, waktu menunjukan pukul 19.00 Dia harus mempersiapkan segala perlengkapan untuk menuju ke apartemen. Papanya sudah berada di sana sejak tadi.


"Halo Pa ada apa menghubungiku? Aku sudah berjalan ke arah situ," Dani menjelaskan.


"Cepatlah Dan, papa sudah tak ada waktu lebih lama lagi," ucapnya.


Dengan kecepatan tinggi Dani segera menancap gas mobilnya menuju ke apartemen papanya.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Dani di apartemen mewah. Dibukanya pintu aparteman papanya.


Dani segera masuk dan menuju ke arah dimana papanya berada.


"Malam Pa," Dani berjabat tangan dengan papanya sejenak.


"Malam Dani," jawab Papanya dengan tenang.


"Jadi apa yang mau papa katakan?" tanya Dani sambil menatap wajah Papanya dengan penasaran.


"Dani, Shien akan membatalkan kontrak kerjasama dan mengajak banyak orang untuk tidak menanam saham di perusahaan kita, ini sangat meresahkan. Kita harus melakukan sesuatu," ucap Papanya.

__ADS_1


"Bahkan, dia akan menghancurkan kita jika kau masih tetap menolak pernikahan ini," ucap Papa Hendra.


Dani memejamkan matanya, rasanya sangat sulit jika seperti ini. Bukan musuh yang dihadapi, akan tetapi teman sendiri. Sangat menyebalkan.


"Jadi, untuk sementara waktu. Ada baiknya pernikahanmu dengan Emely disembumyikan, semua ini kita lakukan semata untuk kebaikan kalian," ucap Papa Hendra.


Dani menghela napas dan menatap papanya.


"Okey, Dani akan mengusahakannya, papa tenang. Semua butuh proses," ucap Dani.


"Papa serahkan padamu Dan," ucapnya kemudian menatap Dani dengan tenang.


"Oh iya, Papa juga sempat mencari tau informasi kehidupan Emely," ucap Papanya sambil menatap ke arah Dani.


"Ada apa dengannya?" tanya Dani lagi.


"Ada permainan dibalik semua rekayasa ini Dan, hati hatilah. Papa yakin, ini bukan ketidak sengajaan," ucap papanya dengan pelan kemudian melangkah entah kemana.


Dani mengebalkan tangannya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus mengorbankan Emely dan dirinya?


🎀🎀🎀🎀


Malam begitu sunyi, Dani menikmati malam di ruang santai sambil menikmati sebotol wine yang menghangatkan tubuhnya. Ganesa yang baru saja datang dari kantor mengambil alih botol wine dan menggantinya dengan segelas jus. Dani mengernyitkan dahinya kemudian menatap ke arah adiknya itu.


"Jangan terlalu sering minum, jaga kesehatanmu Kak. Kalau bukan dirimu sendiri, lalu siapa lagi yang akan menjaga?" ucapnya panjang lebar.


Wanita itu berbicara sekenannya, Dani mengangguk pelan.


"Sesekali Gan," sahutnya.


Beberapa masalah sedang dihadapinya. Kenapa bisa bersamaan seperti ini? Dia pikir apa yang terjadi padanya dan Emely hanya sebuah kebetulan. Tapi ucapan papanya tadi seakan mempertegas dugaan yang selama ini berngiang dalam otaknya. Perusahannya juga sedang tidak baik baik saja, lalu apa yang harus dia lakukan? Dani memejamkan matanya, mungkin dirinya harus istirahat sejenak untuk merefres otaknya.


Dani membaringkan badannya di ranjangnya, akan tetapi, bayangan wajah Emely melintas dalam pikirannya.


"Apa yang kamu lakukan saat ini?" lirih Dani.


Deg


Seketika Dani teringat beberapa file yang dikirim di ponselnya oleh orang suruhannya. Dani beranjak dari tidurnya dan segera menuju ke arah mobinya.

__ADS_1


😆🎀🎀🎀🎀


__ADS_2