
Tubuh Dani semakin menegang, hawa panas seakan memintanya untuk melakukan pelepasan. Dani ingin berendam, atau berguyuran hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Pikirannya melayang jauh, mengumpat beberapa kali, memikirkan siapa dalang dibalik kejadian ini.
Jadi, apa benar memang tadi ada orang? Jadi apa yang dia lakukan tadi adalah memasukan obat perangsang dalam minumannya?
"****,"
Seiring waktu berlalu, wajah Dani semakin memerah. Senjata ampuhnya semakin menegang. Kamar mandi letaknya hanya ada di kamar, sedangkan Emely ada di sana. Lalu apa yang harus dia lakukan? Wanita itu pasti akan mencari perkara.
"****," umpatnya lagi saat dia benar benar dalam puncak ketersiksaan.
"Semoga dia masih terlelap," pikirnya.
Tak kuat menahan desakan hasrat, segera Dani masuk ke dalam rumah.
Emely yang mendengar langkah orang kesana kemari tampak membuka matanya, Emely duduk dan menurunkan kakinya. Tangannya terulur untuk mengambil ikat rambut yang berada di atas meja rias. Diikatnya tinggi rambut panjang yang indah itu sehingga menampakan leher jenjang, pundak putih bersih tanpa cela.
Emely berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu. Di waktu yang bersamaan, Dani membuka pintu kamar sehingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
Tubuh Dani semakin terdesak saat melihat tubuh Emely yang menggiurkan. Gaun berwarna merah lengan pendek dengan pundak yang terbuka dan memperlihatkan leher jenjang milik Emely dengan sempurna. Rambut terikat di atas dengan anak rambut yang berjatuhan membuat Dani kesulitan untuk menelan ludah.
Dani semakin bereaksi, sedang Emely seperti tak punya dosa berdiri di depan Dani dengan gaun malamnya.
"Minggir!" ucap Dani dengan nada suara yang biasa.
Emely yang merasa Dani akan menguasai kamar tak mau minggir, menghalangi jalan Dani untuk masuk.
"Kau tidur di luar," jawabnya.
"Minggir aku bilang!" sentak Dani. Emosinya memuncak, apalagi melihat wajah Emely membuat dirinya sulit mengontrol diri.
"Minggirlah, aku mau ke kamar mandi," sentaknya, Dani menabrak tubuh Emely hingga wanita itu sedikit terhuyung.
Emely yang tak terima menarik tangan Dani, Emely melangkah dan membuat lelaki itu kini berhadapan sempurna dengannya.
Tubuhnya Dani seakan merespon sentuhan tangan Emely. Tubuh Dani merasakan hawa panas yang tiba-tiba membuat tubuhnya menginginkan hal lebih dari sentuhan.
__ADS_1
Dani merasa panik, Dani memandang ke arah Emely dengan mata tajamnya.
"Emely pergilah menjauh, untuk kali ini saja. Tolong jangan mengangguku. Atau,,,"
"Atau apa?" sahut Emely dengan senyum liciknya. Emely yang tak tau apapun itu berpikir seenak jidatnya, dia pikir Dani akan memintanya tidur diluar.
"Atau kau akan menyesal Em," lirihnya.
Emely tertawa renyah, kedua tangannya merangkul di leher Dani, menatap lelaki tampan itu dengan senyuman yang mampu membuat jantung Dani berdetak tak beraturan.
"Kau ingat bukan? Kita tidak saling mencintai Baby, bukankah tidak akan terjadi apapun malam ini?" Emely masih dengan wajah sumringahnya. Tapi, sebentar kemudian dia menampakan wajah garangnya.
"Kau telah menghancurkan harapanku, aku harap kau tidak akan melakukan hal yang akan membuatku membencimu seumur hidup, keluarlah dari sini," sentak Emely sambil mendorong tubuh Dani.
Dengan reflek, Dani menarik tangan Emely yang mendorongya, Dani mengangkat tubuh Emely ala bridal style yang kemudian membuat wanita itu panik setengah mati. Keduanya saling memandang. Emely melihat kabut gaerah di mata orang yang menyandang status sebagai suaminya itu.
😀😀😀😀😀😀
__ADS_1
Like komen, hadiah yok