
"Dan, sebaiknya kita segera pergi dari sini," ucap Emely yang merasakan hawa hawa tak nyaman melihat Dani yang terlihat tampan. Takut saja jika terjadi hal yang tak diinginkan untuk kedua kalinya.
Emely melangkah ke dalam, Ardani mengikuti arah Emely berjalan sehingga Emely mendapati sebuah ruangan bertuliskan ruang serbaguna yang sepertinya sangat istimewa.
"Boleh aku masuk?" tanya Emely pada Dani yang kini menyandarkan dirinya di dinding sambil menatap wajah Emely yang sangat enak di pandang.
"Masuk saja," ucap Dani dan mampu menerbitkan senyum indah di bibir Emely.
Emely membuka pintu ruangan itu, netranya begitu takjup dengan keindahan ruangan ini. Ruangan yang dihubungkan dengan sebuah taman yang cantik, lampu berkelap kelip menghiasi.
Sebuah meja hias indah terletak disana dengan berbagai santapan ringan. Musik klasik mengalun lembut membuat suasana nan romantis.
Emely maju beberapa langkah menyedekapkan tangannya di depan dada memandang gemericik air mancur di dalam kolam.
Emely memutar tubuhnya dan menatap Dani dengan senyuman.
"Apa kau menyelidiki tentang aku?" Emely merasa ada yang janggal. Semua yang ada di sini merupakan sebuah tempat yang menjadi seleranya.
"Nona Emely kau sangat percaya diri," ucap Dani sambil mendekat ke arah Emely.
Sebetulnya memang dia sempat membaca sebuah file pengiriman dari orang suruhanya yang dia tugaskan untuk mencari kebenaran tentang siapa yang menjebak mereka. Akan tetapi, baginya itu tidak penting lagi saat ini. Dia akan membacanya nanti.
Justru, yang dia baca malah profil Emely lengkap dengan apa yang disukai wanita cantik itu. Sehingga beberapa saat kemudian, dia meminta Pak Ahmad menyiapkan ruangan ini.
"Mengaku saja, kau asisten Kak Marvel. Sepertinya kau biasa merencanakan hal seperti ini," ucap Emely menduga duga sambil menatap ke arah air di depannya.
Ucapan Emely berhasil membuat Dani bereaksi dan menatap teduh ke arah wanita cantik itu.
"Aku hanya ingin kau mengingatku sebagai manusia baik juga, tidak hanya mengingatku sebagai orang yang menyiksa batinmu," ucap Dani.
Emely memandang seorang yang berdiri tepat di sampingnya itu. Sejenak mereka saling berpandangan, pertemuan dua bola mata itu membuat desiran halus dihati Emely juga Dani. Dani segera mengalihkan pandanganya. Entah kenapa, sorot mata indah Emely mampu membuat hatinya bergetar, membuatnya semakin tak rela berpisah dengan wanita yang telah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Kau mana tau isi hatiku?" tanya Emely. Dani tersenyum kecut, menikah dengan Emely adalah suatu kebencian. Lalu, sekarang apa dia sudah bisa melupakan itu? Dani menghela napas panjang, apa benar dia telah melupakan kesedihan tentang Emely yang menabrak Micel?
Dani melangkah maju, Emely mundur ke belakang. Dani maju lagi, mengikis jarak diantara keduanya. Emely hampir saja mundur, tetapi tangan Dani meraih Emely dan benar-benar keduanya tak ada jarak sama sekali.
Emely mendongak, Dani menunduk menatap wajah Emely. Kedua pasang mata itu saling beradu. Jantung Emely berdetak hebat, perasaan apa yang sulit dijelaskan menyelimuti hatinya.
Emely juga bisa merasakan detak jantung Dani yang tak beraturan.
Deringan ponsel Dani terdengar, Dani mengambil ponselnya dan melihat nama Papa di sana. Segera Dani mengangkat panggilan itu.
"Siang Pa," ucap Dani tampak tenang.
"Dani, papa dengar kau sudah bisa pulang. Segera pulang, papa akan ke apartemenmu malam nanti. Ada hal yang harus kita bicarakan," ucap papanya.
"Jangan bawa Emely bersamamu," ucap Papanya lagi kemudian menutup ponselnya.
Deg
Dani kembali memasukan ponselnya di sakunya, kemudian menatap Emely dengan teduh.
"Siapa?" tanya Emely.
"Bukan urusanmu," ucap Dani dengan ketus. Emely memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Sepertinya Dani benar benar mempunyai dua kepribadian.
"Kau suka dansa bukan?" tanya Dani dan diangguki Emely.
"Anggap saja ini pesta kecil karna kita baikan, nikmati saat ini agar kita bisa segera pergi Nona," ucap Dani. Emely mengangguk pelan. Tidak ada salahnya juga mengikuti apa yang dikatakan Dani. Toh, mungkin ini hari terakhir mereka bersama.
"Mari kita berdansa," ucap Dani sambil mengulurkan tangannya. Emely membalas uluran tangan Dani. Mereka terhanyut dalam alunan musik romantis yang menghiasi siang yang romantis ini, keduanya hanya terdiam menikmati lagu dengan gerakan syahdu.
Emely hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Dani sesekali melirik wajah yang tampak cantik di depannya. Wajah cantik dengan bulu mata yang indah, mata yang indah, hidung yang indah. Tidak ada cela untuk manusia yang sempat membuatnya emosi itu.
__ADS_1
Dani segera menguasai hatinya, Emely yang merasa diawasi mendorong tubuh Dani. Emely melangkah mengambil jus yang ada di atas meja, jantungnya berdebar tak karuan. Rasa senang, susah, semua bercampur menjadi satu, dia mencoba menguasai hati dan pikirannya.
Dani melangkah mendekat ke arah meja, dia mengambil satu gelas cofe yang terhidang di meja. Netranya memandang ke arah Emely yang memandangi bunga indah di taman.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Dani. Emely menoleh dan meletakan gelas di atas meja. Emely menatap ke arah Dani dan tersenyum tipis.
"Tidak ada," ucap Emely.
"Sebaiknya kita segera pergi, aku akan mengantarmu pulang ke mansionmu," ucap Dani.
Emely memejamkan matanya, kenapa hatinya sakit memdengar Dani akan mengantarnya, bukankah seharusnya dia bahagia? Emely mengusap dadanya yang terasa sesak, dia ingin menangis. Akan tetapi berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
"Hem," jawabnya.
Dani melangkah ke arah pintu dan berjalan ke depan, sedang Emely menumpahkan air mata saat Dani sudah menjauh dari pandangannya. Rasa apa ini? Kenapa sesakit ini? Dani bukan siapa siapa, lalu kenapa dia harus seperti ini? Emely menangis sesenggukan, apa Raymon akan menerimanya kembali? Atau justru akan membuangnya? Emely mencoba menekan gejolak di hatinya.
Emely menghapus air matanya, tak mau larut dalam kesedihan, Emely segera menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan. Segera Emely keluar dari ruangan itu dan menuju ke arah mobil.
Dani mengernyitkan dahinya saat mengetahui mata sembab Emely. Jadi lama di dalam sana karna wanita itu menangis? Ah, entahlah. Saat ini bukan itu yang dia pikirkan. Ingin segera dirinya bertemu dengan papanya, dan membahas persoalan penting yang akan papanya bicarakan.
Dani menancap gas mobilnya, membelah jalanan dengan tenang. Emely hanya diam sambil memandang keindahan desa yang berada di lereng gunung itu, tanpa tau kapan dia akan kembali lagi ke sana.
🎀🎀🎀🎀🎀
Seorang wanita dua puluh tiga tahun dan wanita paruh baya berada di depan rumah dinas yang ditinggali Emely dan Dani beberapa hari.
"Apa mungkin Dani berada di rumah sempit ini dengan wanita itu?" tanya seorang paruh baya pada wanita muda itu.
"Benar tante, menurut informasi dari orangku, mereka ada di sini," jawabnya dengan menghapus linangan air mata.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1