
"Mas, mau dibawa kemana?" tanya Emely dengan wajah paniknya.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, kini Dani keluar dengan hati-hati. Nimas salah satu karyawan yang sejak tadi juga tampak khawatir kini membantu Dani membuka pintu lift. Dia melihat ke arah Emely yang ada di gendongan bosnya.
"Bos, bagaimana keadaan Nona Em?" tanyanya.
"Nimas, tak usah banyak bertanya. Sekarang juga hubungi sopir untuk menyiapkan mobil!" bentaknya.
"Baik Pak," ucap Nimas.
Dani masuk ke dalam lift. Emely yang tampak lemah hanya diam, mata indahnya terus mengamati wajah Dani yang tampak tegang. Tangannya terulur mengusap pipi Dani.
"Mas, turunkan aku, aku bisa jalan," ucapnya.
"Kau bisa diamkan Nona Emely? Diamlah!" kesalnya dan tersambut kekehan tawa dari Emely.
Sesampainya di bawah, sudah terparkir mobil mewah di depan loby yang siap membawa Dani dan Emely pergi. Pak Dimas tampak membuka pintu dan mempersilahkan bosnya untuk masuk.
Pak Dimas melajukan mobilnya dengan cepat, saat melihat kepanikan atasannya itu.
"Pak Dimas, bisa lebih cepat lagi tidak?" bentak Dani ditengah kepanikannya. Melihat Emely yang semakin kesakitan membuatnya benar benar panik.
Pak Dimas mengerutkan dahinya, padahal ini sudah mencapai kecepatan yang sangat tinggi dan bosnya meminta lebih cepat lagi? Pak Dimas tidak menanggapi ucapan bosnya, memilih fokus pada jalanan. Dia tau jika bosnya hanya terbawa suasana kepanikan.
Emely menggenggam tangan Dani, mencoba memberikan ketenangan pada suaminya tersebut.
"Jangan membentak bentak, aku baik-baik saja," ucap Emely.
Dani menatap Emely dengan cinta, dia tau istrinya menahan rasa sakit yang amat sangat menyakitkan dirinya tapi Emely masih bisa tersenyum? Bukankah itu sangat luar biasa? Dani memejamkan matanya, hatinya terasa sakit melihat istrinya berjuang untuk memberikan kebahagiaan kepadanya nanti.
"Mereka pantas di bentak. Aku hanya tidak mau kamu sakit terlalu lama," ucap Dani.
"Tapi ini sudah cepat, aku sampai takut mas," ucap Emely.
"Ini kecepatan?" tanya Dani yang hampir saja membuka mulutnya untuk berteriak. Tapi, bibir jahil Emely mendekat dan mengecup singkat bibir suaminya.
Hati Dani yang semula bergemuruh kini mencair. Ditatapnya wanita yang kini ada dipangkuannya itu.
"Pengorbanan seorang wanita adalah saat dia berjuang untuk kelahiran buah hatinya, ini adalah hal lumrah yang dirasakan setiap wanita, mas. Biarkan aku menikmatinya," ucap Emely.
Mata Dani tiba tiba berkaca, apa begini juga pengorbanan ibunya dulu? Dani mengusap peluh di dahi Emely, menghujani ciuman di wajah istrinya. Pak Dimas menghela nafas lega, setidaknya bosnya bisa menguasai hatinya dan terlihat tampak tenang mendengar penuturan istrinya.
Beberapa menit kemudian mobil mereka berhenti di depan lobi rumahsakit, beberapa suster menyiapkan Bankar dan menarik tubuh Emely menuju ke ruangan bersalin.
Tak lama kemudian, Dokter Alfi datang dan memeriksa keadaan Emely. Dani begitu antusias mendengarkan penuturan dokter tersebut yang memberitahukan bahwa Emely sudah pembukaan tujuh.
Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Dokter Alfi, kini Emeli sedikit tenang. Sudah pembukaan tujuh dan itu artinya sebentar lagi.
"Masih berapa lama Dok? Berapa lama istri saya akan merasakan kesakitan begini?" tanya Dani.
"Insay Allah sebentar lagi, kita harus bersabar jika menghendaki kelahiran normal," ucapnya.
"Aku tanya berapa lama, Dok?" tanya Dani sedikit emosi karna tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Emely menggenggam erat tangan Dani yang seakan memberikan protes untuk tidak marah-marah. Dani menghela napas tenang dan mencium puncak kepala istrinya.
"Bisa satu jam, dua jam, bahkan lebih dari itu, kita berdoa saja semoga Nona Emely bisa lebih cepat dari perkiraan yang kami analisa," ucap Dokter Alfi.
Dani mengusap wajahnya kasar kemudian menatap Emely dengan tenang.
"Untuk mempercepat pembukaan, ibu Emely bisa berjalan-jalan kecil dulu bu," ucap dokter itu dan diangguki Oleh Emely. Dokter Alfi tersenyum kemudian pamit untuk meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Sepeninggalan dokter, malah Emely merasa kesakitan lagi.
"Sayang, apa terasa sakit?" tanya Dani. Emely hanya terdiam. Matanya berkaca ia menggelengkan kepalanya.
"Sayang, apa sakit? Apa perlu aku menghubungi mama atau papa?" tanya Dani lagi.
Lagi-lagi Emely menggelengkan kepalanya. Dani mendekap hangat tubuh Emely. Emely yang merasakan kencang di perutnya meringis kesakitan, mengambil nafas dalam dan mengeluarkan pelan.
"Aku akan menghubungi mama," ucap Dani sambil mengulurkan tangannya dan mengambil benda pipih di saku kemejanya. Namun Emely menggeleng pelan.
"Jangan biarkan mereka heboh disini dan membuatmu semakin tegang, hubungi mereka nanti saja ketika baby kita sudah terlahir," pintanya.
"Tapi Sayang,"
"Plies mas," ucap Emely.
"Okey, jika itu maumau. Tapi kamu harus makan dan banyak minum. Siapkan tenaga untuk nanti," ucap Dani sambil meraih beberapa kantong plastik di meja.
Dani melepaskan pelukan pada Emely dan mengambil buah apel disana. Mengupasnya dan menyuapi istrinya.
"Terimakasih, Mas," ucap Emely. Dani tersenyum kemudian mengusap pelan perut Emely.
"Kamu bilang melahirkan adalah pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Jadi andilku apa? Menyumbang benih saja?" candanya.
Emely tersenyum dan mengusap pelan pipi Dani yang tadinya tampak tegang kini berangsur membaik.
"Andilmu mendoakan yang terbaik untukku," ucap Emely sambil tersenyum.
"Pasti," lirih Dani sambil menggenggam tangan Emely yang berada di pipinya.
"Auhhhhhh..." keluhh Emely saat sakit itu kembali datang. Tangan kirinya memegang perut buncitnya.
Dani memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Emely dan memberikan kekuatan untuknya. Jika bisa menggantikan posisi Emely saat ini, dia akan menggantikan posisi itu. Agar istrinya tak kesakitan.
Emely berulang kali menghela nafas dan dan mengeluarkan dengan pelan, sesaat rasa sakit itu menghilang dan muncul secara bergantian dan semakin cepat.
Beberapa jam sudah mereka berada dirumah sakit, dan salah satu perawat baru saja memeriksa dan memberi tahukan bahwa sudah pembukaan 8. Dani saat ini masih senantiasa di samping Emely. Dani menghela napas panjang, mau sampai kapan dia harus menyaksikan perjuangan Emely yang sangat istimewa ini? Emely melirik ke arah Dani dan meletakan kepalanya di pangkuan Dani.
"Mas,"
"Hem,"
"Aku minta maaf, bila selama menjadi istrimu aku menjengkelkan. Aku menyebalkan, tapi semuanya yang aku lakukan semata karna rasa cintaku. Maafkan aku bila aku banyam salah padamu," ucap Emely. Air matanya mengalir deras.
Deg
Hati Dani seakan teriris. Emely wanita sempurna baginya, terlepas dari setiap kesalahan kecil itu.
"Jangan bicara apapun, kau wanita terhebat," ucap Dani sambil menyeka air mata yang keluar dari matanya. Dia menangis? Ya, untuk perjuangan Emely dia meneteskan air mata.
"Apa kamu tidak mau berubah pikiran?"
Emely menggeleng, yang dia bayangkan oprasi sangat menyakitkan. Bahkan melihat alat kedokteran itu membuat dirinya sudah tak mampu untuk menjawab pertanyaan Dani. Emely memejamkan matanya, membuat Dani merasa lega. Namun lima menit kemudian Emely membuka matanya dengan tiba-tiba.
"Auhhhhhhh..." pekiknya.
Dani yang terkejut menggenggam erat tangan Emely memberikan kekuatan pada istrinya itu.
Emely merasakan sakit yang begitu luar biasa, sakit itu semakin hilang dan muncul secara berturut-turut ini adalah nikmat dari sang maha pencipta untuk mendapatkan hadiah terindah nantinya. Dani mengusap pelan puncak kelapa Emely. Meniup beberapa kali.
Dokter Alfi segera Datang, dia memeriksa Emely. Dan dia rasa ini sudah waktunya. Mereka tidak henti-hentinya memanjatkan doa. Dani dengan sabar selalu ada disamping istrinya, menemani Emely menikmati setiap kenikmatan yang diberikan Tuhan untuk melihat makhluk kecil yang ada di kandungannya.
__ADS_1
"Astagfirullah..." pekit Emely.
Air matanya mengalir. Ini yang membuat Dani tampak hancur, membuat Dani merasakan sakit yang menusuk hatinya. Dani mengusap pelan wajah Istrinya memandangnya penuh cinta. Dia harus kuat, jangan sampai meneteskan air matanya lagi. Dani hanya mampu menangis di dalam hati melihat pemandangan di depannya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mohon berjuanglah sedikit lagi," lirih Dani. Dani mengusap wajah Emely dengan beribu kasih dan cinta.
"Aukhhh," pekik Emely di tengah ucapan Dani.
Kontraksi lebih sering terjadi, dan itu sangat menyakitkan bagi Emely. Emely menghela nafas panjang, dia hampir kehabisan tenaga, Dokter memberikan infus untuk memberikan asupan kekuatan pada Emely. Dani terus menggenggam tangan Emely di tengah kontraksi itu.
"Mas..."
"Hem," sahut Dani. Dia menatap ke arah Emely yang mencoba tersenyum meski menahan sakit itu, ia ingin secepatnya melewati proses ini, ia tidak tahan lagi melihat Emely kesakitan.
Di pelupuk matanya telah terkumpul buliran air mata yang bisa tumpah kapan saja saat dia mengerjabkan matanya. Kini air mata Dani benar-benar mengalir. Cengeng? Entahlah, yang pasti ini adalah cara untuk menghilangkan sesak di dadanya.
"Mas... aakkkkkk sakit mas..." lagi-lagi Emely mengalami kontraksi yang hebat. Membuat Dani di dera kepanikan yang luar biasa.
Dokter terus membimbing Emely untuk mengejan, menarik napas dan mengeluarkan.
"Tuhan, jangan sakiti istriku. Pindahkan saja sakitnya padaku. Ampuni kesalahannya, lancarkan persalinan nya. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini," lirih Dani di tengah kepanikannya.
"Mas, aku minta maaf jika selama aku menjadi istrimu pernah membuatmu terluka. Aku minta maaf bila aku selalu menjengkelkan, aku minta maaf aku selalu membuatmu kerepotan," ucap Emely lagi tengah deraian badai kontraksinya.
ucapan Emely bagaikan pedang yang menancap dengan paksa ke hati Dani. Air mata Dani tak terbendung, mengalir deras.
Dani menggeleng pelan. Dani membungkam bibir Emely yang terus mengoceh itu dengan ciuman lembut. Seketika Emely terdiam dan menatap Dani dengan tenang.
"Apa yang kamu katakan. Aku mencintaimu Nona Rakhayla Emely. Aku sangat mencintaimu dengan segala kurang dan lebihmu, maafkan aku juga," ucap Dani.
Dani benar benar tidak lagi menahan air mata yang mendesak keluar, bahkan dia tidak merasa malu pada perawat dan dokter yang saat ini menangani istrinya.
"Auchhkkkkkk..."pekik Emely lagi.
"Ayo sedikit Lagi Nona Emely," ucap Dokter.
"Sayang, sedikit lagi," ucap Dani.
Emely memejamkan matanya menahan rasa sakit yang mendera perutnya. Menarik napas dan mengeluarkan dan dibarengi dengan mengejan.
"Mas, ini sakit sekali mas..." ucapnya.
"Kamu bisa," ucapnya.
Para Dokter dan perawat segera mendekat setelah mereka melihat air ketuban mulai pecah. Dani terus saja memegang tangan Emely mengusap buliran air mata dan peluh di wajah istrinya.
Dokter Alfi membimbing Emely untuk menarik napas, mengeluarkan dan mengejan secara bergantian. Emely mengejan dengan Kuat, tangannya mencengkram tangan Dani dengan kuat.
Beberapa saat kemudian tangisan bayi mungil terdengar di dalam ruangan itu, memberikan kebahagiaan kepada pasangan yang kini menangis haru, Emely menghela napas lega, menangis bahagia. Dani bernafas lega melihat anak dan istrinya sehat dan berhasil melalui proses persalinan.
"Alhamdulillah," ucap Dani.
Dani menghujani Emely dengan ciuman hangatnya. Para perawat membantu Emely membersihkan diri, dan beberapa saat kemudian DOkter Alfi meletakkan bayi mungil itu di atas tubuh Emely kemudian pamit pergi. Emely dan Dani tersenyum bahagia.
Dani mengangkat bayi yang beratnya 4 kg itu. Mengadzani dan iqomah secara bergantian. Setelah itu Dani membawa bayi itu ke arah istrinya
"Lihat, dia tampan sekali sepertiku," ucap Dani. Emely yang semula berbaring kini dibantu Dani untuk duduk melihat putranya.
"Siapa namanya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Yok mohon dibantu nama untuk baby boy Dani dan Emely.. wkwkwk