
Setelah acara ijab sah secara agama tadi dilakukan, terjadi juga beberapa sesi pengambilan gambar dan juga tanda tangan pak lurah dan pak Kiai yang menyatakan mereka telah menjadi suami istri. Para warga juga meminta beberapa berkas untuk mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum.
Para warga bubar dari kantor desa, Pak Kiai dan Pak Lurah mengantarkan dua keluarga itu di rumah dinas yang tadi dibicarakan. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mereka harus tinggal di rumah dinas itu sampai berkas pernikahan secara hukum terselesaikan.
Sepeninggalan Pak Kiai dan Pak Lurah, tinggal Emely, Dani, Vino, Papa Pradikta dan Papa Hendra yang kini berada di rumah dinas itu. Semua terdiam, tak ada kata yang mampu terucap sampai pada akhirnya Papa Pradikta membuka percakapan.
"Sebenarnya hal ini sangat mengguncang jiwa saya, Pak Hendra. Putri saya sudah merencanakan pernikahan yang akan diadakan sebulan lagi. Bahkan, semua sudah tersusun rapi, walau sampai sekarang belum juga mendaftarkan pernikahan di KUA. Tapi, kejadian ini benar benar menyita pikiran saya, apa yang harus saya katakan nantinya?" ucap Papa Pradikta tampak kecewa.
"Maaf, bila saya berbuat hal yang keliru. Saya tidak menyangka ini bisa terjadi, Om." Dani mencoba menjawab. Emely yang mendengar ucapan Dani tampak geram.
"Tidak menyangka? Harusnya kamu berpikir sebelum bertindak. Memangnya apa yang mau kamu lakukan sehingga membawaku ke daerah sini? Mau menculikku begitu?" sentaknya.
"Menculik? Apa untungnya?" sinis Dani.
__ADS_1
"Lalu apa lagi?" sentak Emely.
"Apa kalian tidak bisa diam?" Sentak Vino. Dani dan Emely terdiam, mereka saling memandang benci.
"Pa, jangan terlalu banyak berpikir. Pernikahan ini bukan yang dimau Dani dan juga Emely, biarkan saja prosedur di sini berjalan bagaimana mestinya. Jika memang mereka tidak saling mencintai, anggap saja pernikahan ini tak pernah terjadi. Mereka bisa bercerai dan mencari kebahagiaan masing masing nantinya, Tinggal kita mengatakan pada kekuarga Raymon tentang hal ini," ucap Vino yang menatap ke arah adiknya.
Dani dan Emely hanya terdiam, apa memang harus seperti ini takdir cintanya?
Papa Pradikta menghela napas panjang dan menatap ke arah sepasang suami istri itu.
Deg, mendengar ucapan papanya bagaikan luka yang diperlebar. Apa-apaan papanya? Bagaimana bisa berpikir sejauh itu? Mana mungkin dia hamil? Jelas jelas mereka tidak saling mengharapkan.
Dani menatap ke arah Emely, apa tadi? Hamil? Wanita itu hamil? Anak siapa? Anak kodok? Apa Pak Pradikta berpikir bahwa Dani dan Emely akan melakukan itu? Tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Mana mungkin aku hamil Pa? Aku tidak memginginkan pernikahan ini, kenapa papa berpikir sejauh itu?" sanggah Emely.
"Buktikan saja Emely, satu atap dengan manusia seperti Ardani kau pikir mudah? sangat susah, papa berharap papa tak kecewa nantinya," ucap Pak Pradikta.
Emely mencoba tenang meskipun hatinya tak beraturan.
"Aku bukan wanita yang sanggup melakukan hal itu pada sembarang orang pa, jangan menghawatirkan itu," ucap Emely. Dani mengeratkan tangannya. Apa wanita itu pikir Dani sudi melakukan dengannya?
"Papa hanya berharap kamu bisa memegang ucapanmu, sekarang istirahatlah," Papa, mertua dan kakaknya tampak berdiri.
Emely menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan kembali.
"Kalau begitu kami pulang dulu, selamat malam dan selamat beristirahat," ucap Papa Pradikta. Papa Hendra juga melakukan hal yang sama. Keduanya tampak berdiri dengan tenang.
__ADS_1
Emely dan Dani menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan, mereka saling melirik dan saling menatap dengan tajam.
🤗🤗🤗🤗🤗