
Dani dan Emely menoleh ke asal suara, ditatapnya mertua posesif yang pastinya akan menguji nyalinya. Dani terdiam dan menatap tampang angkuh Papa Pradikta.
"Apa kau tak punya mulut? Coba jawab pertanyaanku," ucap Papa Pradikta lagi. Dani yang semula diam kini menatap ke arah Papa mertuanya.
Emely yang semula tenang kini menjadi tegang, kenapa papanya tiba-tiba sekiler ini? Bahkan dengan Raymon dia tak sebegitunya.
"Tuan Muda Ardani Rahardian Wijaya yang terhormat. Apa anda mendengarku?" tanyanya dengan suara yang mengintimidasi.
Dani mundur beberapa lanhkah, menatap Papa Pradikta dan Mama Elyna. Mama Elyna hanya diam, menatap wajah Dani membuat hatinya mempunyai kesan berbeda.
"Aku seperti pernah melihatnya, dia siapa?" batin mama Elyna.
"Maaf Om, Maksud saya Pa, maksud Saya...." Dani tampak gugup saat melihat Tuan Pradikta. Bahkan, saat ini dirinya tak meneruskan kata-katanya saat melihat telunjuk Papa Pradikta menempel sempurna di mulutnya.
"****" umpat Dani dalam hati. Bahkan sebelumnya dia tak pernah gugup seperti ini. Lalu, bagaimana bisa saat ini dia begitu gugup menghadapi Tuan Pradikta Maheswara?
"Sudah, kelamaan kau berpikir. Masih ada urusan apa kau disini? Bukankah aku memintamu pergi?" selanya pada ucapan Dani.
"Maaf Om, aku...." Dani mencoba berbicara.
"Sejak kapan aku jadi ommu!" bantah papa pradikta.
"Maaf Pa," ucap Dani lagi.
"Sejak kapan pula aku jadi papamu?" tanya papa Pradikta, tangannya bersedekap ke depan menatap Dani yang tampak babak belur.
Emely menunduk, sejak kapan papanya seperti ini? Bukan berwibawa dan elegan tapi tampak lucu. Lalu, bagaimana Dani yang galak, dingin, dan memyebalkan itu bisa takut? Astaga, Emely terkekeh pelan.
Mama Elyna menatap putrinya yang tampak bahagia itu.
"Em, dia suamimu?" tanya Mama Elyna.
Deg
Emely terdiam, pertanyaan mamanya membuatnya salah tingkah. Suami? Lebih tepatnya suami siri.
"Ya, dia orang yang terjebak bersama dengan Emely Ma," jawab Emely.
"Maaf Papa Pradikta, saya tidak bisa pergi," jawab Dani dengan santai.
"Kenapa? Ini bukan hotel dan juga penginapan. Ini sudah larut malam, kau harus segera pulang," ucapnya.
Dani memejamkan matanya, dia tidak bisa tidur semalaman karna berjauhan dengan Emely. Lalu, apa dia harus pulang? Tidak bisa, dia harus tetap bersama Emely malam ini.
"Aku tidak bisa," ucapnya lagi.
"Aku bisa memintamu keluar dengan paksa," ucap Papa pradikta.
__ADS_1
Emely dan Mama Elyna tampak memejamkan matanya. Bagaimana bisa ini terjadi?
"Pa, dia menantumu," Mama Elyna berbisik. Akan tetapi tidak ditanggapi oleh papa.
"Lakukan saja jika itu membuat papa bahagia, tapi aku tidak akan pernah untuk pergi. Aku suami dari putrimu," ucapnya.
Papa Pradikta terkekeh pelan, mendekat ke arah Dani. Emely tampak hawatir. Apa yang akan dilakukan papanya? Kenapa papanya sangat menyebalkan?
"Kau suaminya? Sejak kapan?" tanyanya sambil tertawa.
"Apa papa lupa? Papa menjadi wali nikah kami saat itu? Kalau anda papa yang baik, seharusnya meminta putrinya melayani suaminya dengan baik. Tapi kenapa anda tampaknya sangat ingin membuatnya jadi istri durhaka? " tanya Dani.
Papa Pradikta sedikit pias. Akan melanjutkan perdebatan akan tetapi Mama Elyna mendekat ke arah suaminya.
"Pa, hentikan. Sebaiknya kita masuk. Lihat menantumu, dia harus di obati," ucap Mama Elyna.
Dani tersenyum mendengar penuturan mama Elyna. Jika begini dirinya teringat mama Nina, mama yang sangat baik, akan tetapi saat ini berada dalam dalam kendali Sinta dan keluarganya. Sinta? Dimana Rudi membawa wanita itu pergi? Dani terkekeh, suka sekali bisa mengerjai wanita itu.
"Nak, masuklah." ucap Mama Elyna. Dani tersenyum dan menjabat tangan mama mertuanya.
"Terimakasih Ma," ucapnya.
"Em, bawa dia ke kamarmu. Obati lukanya, istirahatlah, ini sudah malam," ucap mamanya lagi. Emely menatap mamanya dan mengangguk pelan.
"Heh, mana bisa di kamar Emely," sentak Papanya dan membuat Dani mengepalkan tangannya.
"Lalu dimana Pa?" ucap Emely.
Mama Elyna menarik tangan papa Emely dan menatap sepasang suami istri itu.
"Segera ke kamar, obati luka suamimu. Jangan dengarkan omong kosong papamu," ucap Mama Elyna kemudian membawa papa Pradikta pergi.
Dani dan Emely saling berpandangan, hibgga pada akhirnya Emely mengarahkan tangannya ke pintu utama.
"Ayo masuk," ucapnya sambil memutar tubuhnya menuju ke anak tangga.
Dani menahan tangan Emely hingga Emely tertahan. Emely berada di dua tangga lebih atas hingga dia menyeimbangi tinggi Ardani.
Wajah mereka saling berhadapan, Dani bisa melihat jelas wajah cantik yang kini berada di depannya.
"Memintaku masuk kemana?" tanya Dani dengan suara terdengar serak.
Emely memejamkan matanya. Masuk ke kamar. Memang kemana lagi? batinya.
"Em," panggil Dani lagi sehingga membuat Emely membuka matanya. Dani tersenyum dan menatap wanitanya dengan teduh.
"Masuk ke kamar, memang kemana lagi?" kesalnya.
__ADS_1
Dani mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Emely yang kini merah merona itu.
"Baru kali ini aku menemukan wanita seberani dirimu, meninggalkan calon suaminya dan menikah dengan orang lain. Sepertinya kau telah menjadikan aku seorang PeCabinor," ucap Dani.
Emely membelalakan matanya, apa itu Pecabinor?
"Apa itu?" tanya Emely.
"Kata Nada artinya Perebut calon bini orang," ucap Dani. Emely terkekeh geli.
"Itu salahmu sendiri, kenapa menyalahkan aku?" sentak Emely kemudian memutar badanya menaiki anak tangga kembali.
Dani tersenyum. Ya, semua memang kesalahannya. Menculik Emely kemudian menjebak dirinya.
Dani mengikiti langkah Emely yang berjalan dengan tenang menuju ke dalam mansion mewah itu. Untuk pertama kalianya dia masuk mansion keluarga Pradikta. Ditatapnya foto keluarga yang menampakan foto Emely, Vino, papa dan mamanya.
Dani melangkah pelan, netranya kesana kemari menatap ke sudut ruangan yang sangat nyaman itu.
Vino? Dimana dia? Lama sekali dia tak bertemu setelah kejadian malam itu.
"Apa kau mau disitu terus Dan?" tanya Emely.
Dani menatap Emely kemudian melangkah ke atas, mengikuti langkah Emely menuju ke kamarnya.
Emely mengambil kotak P3K dan duduk di sofa kamarnya. Dani membuka pintu kemudian menatap Emely yang juga memandangnya.
"Sini Dan, aku akan memgobati lukamu," ucap wanita cantik itu sambil menepuk sofa sampingnya.
Dani mendekat ke arah istrinya, bukan duduk lelaki itu malah membaringkan tubuhnya. Meletakan kepalanya di pangkuan Emely.
Emely terkejut, mau memdorong akan tetapi dirinya takut Dani terjatuh.
"Kenapa begini Dan?!" sentaknya. Dani tersenyum, mengambil tangan Emely yang membawa kain yang sudah basah dan meletakan tangan Emely diatas lukanya.
"Begini enakkan, lagi pula aku bisa sambil memejamkan mata. Kau tau Em, semalaman aku tak bisa tidur," ucapnya dengan tenang.
Emely menatap Dani yang memejamkan matanya, membersihkan lukanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Ditatapnya wajah tampan Dani yang kini benar-benar tertidur dalam pangkuannya, denguran halus terdengar di telinganya.
Emely memejamkan matanya, mengulirkan tangannya menyentuh wajah tampan Ardani. Air mata mengalir dipipinya, tapi senyuman indah juga terukhir disana.
Diluar sana, papa dan mama yang hampir saja masuk, kini menghentikan langkahnya melihat pemandangan itu. Mereka merapatkan pintu yang tadinya sedikit terbuka.
"Jangan ganggu mereka Pa," ucap Mama Elyna.
🎀🎀🎀🎀🎀
Like, Komen dan hadiah yak...
__ADS_1
sambil nunggu up, mampir juga di karya sahabat otor yang gak kalah serunya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..