
Seorang pria dewasa tengah menikmati malam indah dengan seorang wanita sampai pagi ini. Hentakan demi hentakan dia salurkan untuk mendapatkan kenikmatan yang tiada usai. Dengan uang yang dia miliki, sekaligus ketampanannya dia mampu menggait wanita manapun yang dia suka untuk menghangatkan malamnya.
Pastinya semua itu selama ini dia lakukan di belakang Rakhayla Emely Pradikta. Di atas ranjang king size, lelaki dan perempuan itu beradu dalam peperangan sengit. Sebuah kenikmatan seakan terbang melayang ke angkasa mereka dapatkan dari pergulatan panas itu. Jika Emely tau, dipastikan hubungan mereka sudah selesai sebelumnya. Emely sangat membenci kebohongan, tidak akan dibiarkan pembohong seperti Raymon berada di sampingnya.
Deraian peluh membasahi tubuh keduanya, meningkatkan gairah yang tiada usai, semakin panas dan semakin panas, semakin menegang, semakin basah dan mereka mencapai puncak kepuasan untuk kesekian kalinya.
Lenguhan lawan mainnya membuat lelaki itu semakin menghentak keras dan semakin membuat wanita seksi itu memekik pelan, merasakan kenikmatan senjata ampuh pemilik tubuh tegap yang menggagahi dirinya itu menyemburkan lahar panas.
Halusinasi Raymon melayang jauh, memikirkan satu wajah yang sulit untuk dilupakanya. Cinta? Tidak. Tidak ada cinta untuk Emely dalam kamus hidupnya. Emely, Rakhayla Emely Pradikta, wanita cantik yang sangat sulit ditahlukan itu membuat Raymon dan kawan kawannya menjadikan Emely bahan taruhan kembali.
Flas back
"Dia teman SMP, SMA dan teman Kuliah kami bertiga. Tapi, selama ini dia sangat sulit untuk ditakhlukan. Kalau kau bisa mendapatkan dan bisa tidur dengannya, kau akan mendapatkan perusahaan kami, bagaimana?" tanya teman Raymon pada Raymon yang sedang memandangi wajah Emely yang sangat cantik kala itu.
Raymon mengusap usap dagunya, menimang sesuatu. Dia berkali kali berganti wanita. Dia ingin tau, sesulit apa mendapatkan seorang Emely.
"Aku akan mendapatkan wanita ini," ucap Raymon. Memang Raymon bisa mengambil hati Emely, akan tetapi wanita itu selalu menolak untuk berbuat lebih. Maka dari itu, Raymon memutuskan melangkah lebih jauh. Melibatkan kedua orang tuanya yang memang seorang pengusaha untuk memenangkan misinya. Meminta mereka yang ternyata juga mengenal tuan Pradikta untuk menjodohkannya.
Flash Back off
Raymon mengepalkan tangannya, kali ini dia begitu menahan amarah. Wajah Emely tak luput dari ingatannya.
"Okey Raymon, karena kita baik. Kau masih bisa untuk mendapatkan satu kesempatan lagi. Kau saat ini tentunya sangat bingung bukan? Perusahaan yang kau banggakan akan menjadi milik kita bertiga? Kau bisa saja mendapatkan perusahaanmu kembali, akan tetapi kau harus bisa mendapatkan Emely lagi, bagaimana?" tanya Aldi, sahabatnya beberapa jam lalu di bar masih mengiang di pikirannya.
__ADS_1
Raymon mengepalkan tangannya, Bagaimana bisa? Dia sudah menghina Emely. Lalu apa masih bisa mendapatkan wanita itu? Raymon Melemparkan satu pukulan di dinding kamar. Sepertinya dia harus merebut kembali hati Emely untuk mendapatkan perusahaannya kembali.
"Apa yang terjadi Sayang?" tanya pasangan mesumnya saat dia terkejut dan menatap Raymon.
"Tidak ada apa-apa Sayang. Terimakasih honey karna sudah menemaniku dari malam, kita akhiri sampai disini, aku akan menemuimu kembali lain waktu," ucapnya sambil tersenyum tipis, mengusap pipi wanita cantik itu.
Lelaki yang berhasil melakukan pelepasan itu kini mengakhiri kegiatannya. Dia membersihkan tubuhnya dan mengenakan bajunya. Diliriknya wanita yang terkulai lemah tak berdaya yang tengah memejamkan matanya, wanita yang wanita itu tampak kelelahan menghadapi keperkasaannya.
"Aku tidak akan menyerah Emely, aku akan mendapatkanmu kembali agar perusahaanku kembali lagi padaku," ucap Raymon. Raymon melirik ponselnya. Panggilan dari papanya berulang kali bergetar. Raymon mengepalkan tangannya. Pasti papanya menanyakan uang perusahaan. Sepertinya tak ada lagi yang harus dipikirkan. Dia harus segera menemui Emely.
Raymon mencium wanita yang dicintainya, kemudian melenggang pergi meninggalkan hotel mewah saksi bisu kehangatan malamnya kali ini.
Deringan ponsel kembali terdengar di telinganya, tangannya meraih benda pipih berteknologi canggih di dalam saku celananya. Netranya menatap ke arah layar ponsel yang memperlihatkan nama Papa lagi di sana. Mau tidak mau, dia harus mengangkat panggilan itu.
Raymon menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih berteknologi canggih itu di telinganya.
"Halo Pa, ada apa?" tanya Raymon santai.
"Ray, kau dimana? Ada yang papa ingin tanyakan padamu. Pulanglah sekarang juga, papa tidak mau menunggu lebih lama dengan kau mengabaikan telepon dari papa?" ucap suara di sebrang tampak emosi. Raymon mengepalkan tangannya. Dipastikan papanya marah padanya. Karna penghasilan bulan ini tidak masuk rekeningnya.
"Maaf Pa," sahutnya prustasi.
"Jangan hanya maaf, pulang sekarang sekarang juga! Papa tau apa yang kau lakukan di sana. Jangan harap Papa mentolelir kesalahanmu karna mengabaikan perintahku dan malah mementingkan wanita tak berguna itu," sentak suara di sebrang sana kemudian memutus panggilan telepon.
__ADS_1
"Shittt," Raymon mengumpat kesal. Bagaimana bisa papanya memakinya? Dia harus segera pulang dan segera menyelesaikan semuanya. Dengan langkah seribu Raymon bergegas meninggalkan loby hotel dan berlari ke arah mobil, menancap gas mobilnya menuju ke rumahnya yang tak jauh dari tempatnya berada.
🎀🎀🎀🎀🎀
Suasana pondok pesantren Miftahus Syifa begitu ramai. Beberapa mobil dinas rumah sakit berjejer rapi memenuhi pesantren. Huru hara santri putri terdengar riuh.
"Kata salah satu santri, dokter yang datang sangat tampan dan mempesona lo, Neng Sifa." Mbak Hani yang tengah menemani Sifa merangkai bunga tersenyum memandang Sifa dengan bahagia.
Sifa menoleh dan menatap abdi ndalem yang usianya tak jauh darinya itu.
"Mbak, apa Mbak mau lihat juga? Sana gih, mbak segera daftar donornya, biar segera melihat dokter tampannya. Itung itung cuci mata, biar bukan kang santri aja yang setiap hari dilohat mbak Hany," ucap Sifa sambil tersenyum menggoda.
"Ih, neng Sifa. Apa neng tidak mau menyambut mereka? Padahal, Neng Humaira dan Gus Arkhan sudah di sana lo," ucap Mbak Hani.
"Nggak ah, wajar saja Mbak Humaira dan Mas Arkhan memyambut. Mereka kan memang yang mengawasi jalannya acara, aku mah tidak," sahut Sifa.
"Neng Sifa mah tidak mau," ucap Mbak Hani. Sifa terkekeh mendengar ucapan abdi ndalemnya itu.
"Aku masih ingin mencapai apa yang aku mau di luaran sana, nanti bila waktunya aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Mas Arkhan dan Mbak Humaira kok Mbak, Mbak tenang saja deh," ucap Sifa sambil tersenyum.
Sifa terdiam, tiba tiba saja pikiranya melayang memikirkan Emely dan Ardani. Kenapa perasaanya seperti ini? Kenapa dia kecewa saat melihat Ardani menikah dengan Emely? Entahlah, Sifa memejamkan matanya.
"Ya Allah SWT, yang maha segalanya. Tuntunlah hamba untuk melangkah, jika ada perasaan yang salah maka berikanlah petunjukmu agar hamba selalu dalam kebaikan," lirih Sifa.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀