Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Rindu


__ADS_3

Keadaan Emely sudah membaik, bahkan seminggu ini dia menghabiskan waktu di dapur bersama bi Ais, mempraktekkan resep baru untuk restauran. Emely mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum puas dengan hasil masakannya.


Namun sejenak hatinya berdesir, mengingat Dani, suami yang seminggu ini benar-benar mengabaikannya. Emely menghela nafas panjang, mengeluarkan secara perlahan. Emely mengambil ponselnya, menghidupkan ponsel yang dari tadi sengaja ia matikan.


Banyak sekali panggilan dari Mama Nina, Mama Elyna, Papa, Ganes, semua orang menghawatirkannya. Ya, memang selama seminggu ini dia memilih menenangkan diri di apartemen.


Bahkan Dani dan Lelyta tak ada kabar sedikitpun, walau sudah dicari. Lalu apa yang harus dia lakukann?


Sakit??? Amat sangat sakit, Dani pergi dengan sejuta misteri, tanpa membalas telpon nya, tanpa mengangkat panggilan vidionya, bahkan tidak juga membalas pesannya.


Rindu?? Jangan ditanya lagi, Rindu itu begitu menggebu, bahkan dengan hanya mendengar suaranya saja sebenarnya sudah melegakan hatinya. Tapi kemana dia? Tujuh hari sangat menyiksa batinnya. Harus hawatir apa kecewa? Bahkan dia tak tau. Hatinya bagai teriris pisau yang tajam, sangat menyesakan dadanya.


pertanyaan yang begitu mengusik dirinya.Ada apa?Kenapa? dengan siapa? apa yang dilakukan? Masih adakan cinta untukku? Masihkah dirimu mencintaiku?


Emely menahan rasa sesak di dada, Emely hanya manusia biasa, yang bisa marah dan kecewa. Emely berusaha menepis segala pikiran kotornya, berusaha menenangkan gejolak jiwanya, Emely menghapus air mata yang terus saja mengalir di pipinya.


"Em." Suara itu mengagetkan dirinya, Emely mengusap pipinya, dia menoleh dan melihay Mama Mertua mendekat dan memeluk erat dirinya.


"Kamu bersedih?"


"Tidak Ma,"


"Jangan membohongi mama, mama akan membunuhnya jika menyakitimu," ucap Mamanya. Emely semakin terisak. Bahkan Mama Nina sebenarnya juga menghawatirkan putranya. Kemana dia? Kenapa sampai saat ini belum berkabar dan blm juga bisa ditemukan? Polisi? Mereka belum bisa memastikan apapun sehingga belum bisa menghubungi polisi.


"Aku hanya merindukannya, Ma," ucapnya.


Mama Nina mempererat pelukan nya.


"Kakak merindukan kak Dani?" tanya Ganes yang tiba tiba muncul. Emely mengangguk pelan.


"Aku tau, rindu itu berat, mungkin ini bisa mengobati rindu kakak. Kakak tidak mau makan beberapa hari kan? Sini biar ditemani kak Dani," celetuk Ganesa sambil memperlihatkan foto Dani berukuran besar yang sedang menyuapkan makanan pada Emeli.


Emely mengernyitkan dahinya, kemudian tertawa dan mengusap pundak Ganes yang ada di belakangnya. Dia melepaskan pelukan hangat mamanya dan mengamati foto yang dibawa Ganesa. Foto Dani yang sedang menyuapi bubur sumsum, foto tampan suaminya yang membuatnya bahagia dan sesak secara bersamaan.


Air mata Emely mengalir di tengah tawanya, dia sangat mencintai Dani. Bahkan rekaman suara yang belum jelas keaslianya itu tak dipercayainya lagi. Entahlah, asli atau tidak, yang jelas rasa hawatir lebih besar dari rasa benci. Emely mengusap air matanya, mengambil foto dari Ganesa dan memeluk erat bingkai foto itu.

__ADS_1


"Mas, kamu dimana? Apa kau tidak rindu denganku? Aku rela kita berpisah. Tapi beri kesempatan aku untuk melihatmu sebentar saja," lirihnya ditengah keseakan dadanya.


"Kamu itu ada-ada saja, kamu mencuri fotoku dan Mas Dani?" tanya Emely sambil menatap Ganesa yang tampak sedih itu.


"Mana ada, aku mengambilnya seizin Kak Dani," sanggahnya. Emely tersenyum.


"Mama membawa bubur sumsum untukmu, coba kamu makan. Kasian babynya kalau kamu nggak makan," ucap mamanya. Emely mengangguk pelan. Ketiganya menuju ke ruang makan.


Mama Nina menyiapkan untuk Emely. Emely menaruh foto Dani kursi sampingnya. Menyantap bubur dengan menatap wajah Dani yang teduh.


"Kenapa tidak ke kantor Nes?" tanya Emely.


"Tidak ada daya magnet yang menarik ku untuk kesana, lagi pula ini free. Kak Dafa saja sibuk dengan pencariannya," ucap Ganes sambil membaringkan tubuhnya disofa.


"Kenapa sih kakak menolak ajakan Kak Dafa untuk bertemu? Dia juga kesulitan menghubungimu, kali aja penjelasan yang dibawa Kak Dafa bisa menemukan titik terang kak," ucap Ganes.


Emely menghela napas panjang, saat itu kekecewaan masih menyelimuti hatinya. Dia tak mau diganggu siapapun, namun saat ini keadaannya sudah lebih baik. Dia juga berencana bertemu dengan Dafa.


"Aku akan menjadwalkan untuk bertemu dengannya nanti," ucap Emely. Ganes dan Mama Nina tersenyum.


Saat itu suara ketukan pintu terdengar, Ganes berdiri dan menatap Emely dengan senyumannya.


"Biar aku yang membuka," ucapnya kemudian berlari ke arah pintu.


Dibukanya pintu perlahan dan ditatapnya wajah tampan seseorang disana.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ganes, orang itu diam dan tak menanggapi Ganes. Dia langsung saja masuk dan membuat Ganes begitu geram.


"Felix, ada apa?" tanya Emely yang berdiri. Mama Elyna menatap Felix dengan tatapan aneh. Bukankah itu orang yang pernah berantem dengan Dani di RE?


"Aku hawatir padamu, kata tante Elyna kau sakit dan tak mau makan? Aku membawa makanan kesukaanmu," ucap Felik.


Mama Nina dan Ganes saling berpandangan, apa yang akan dilakukan Emely? Menerima tidak enak pada mertua, menolak tidak enak pada Felik. Emely tau, masih ada gurat ketidak sukaan pada dua kubu itu. Felik masih belum tau tentang hubungannya dan Dani, ini mempersulitnya.


"Terimakasih Felik. Biasa ibu hamil memang susah makan," ucap Emely.

__ADS_1


Deg


Felik tampak terkejut, dia menatap Emely dengan tatapan entah bagaimana.


"Hamil?" tanya Felik. Emely mengangguk, rasanya dia tidak bisa terus menerus membiarkan sahabatnya dalam kesalah pahaman.


"Ya, aku hamil Felik, sudah enam minggu," ucap Emely. Felik diam, menatap Mama Nina dan Ganes yang tampak menghela napas lega mendengar ucapan Emely.


"Kenalkan dia Ganesa adik ipar aku, Mama Nina mertua aku," ucap Emely dengan tenang, berusaha untuk meyakinkan Felik.


"Maaf Felik, aku belum menceritakan apapun padamu. Sekarang aku beritau kamu. Jadi, carilah bahagiamu. Aku sudah bahagia dengan hidupku," ucap Emely. Ya, felik selalu mengatakan ingin melihat Emely dan Lelyta bahagia, baru membahagiakan dirinya.


Felik diam seperti kena skakmat, khawatir yang tadinya menyelimuti kini tampak hilang tergantikan entah perasaan apa. Felik menatap Ganes dan mama Nina.


"Maaf mengganggu kalian, aku permisi," ucap Felik kemudian melenggang pergi. Emely memejamkan matanya, ini harus dia lakukan agar sahabatnya itu berhenti mencintainya. Ya, sebenarnya Emely menyadari rasa lain di hati sahabatnya itu.


"Bahagialah dengan jalanmu Felik," lirih Emely.


"Dia siapa kak?" tanya Ganesa.


"Dia sahabat kakak, yang membantu kakak membesarkan RE grup," ucap Emely. Ganes menganggukan kepala. Mama Nina menghela napas dan menatap Emely.


"Cepat habiskan, mama akan segera pulang. Biar Ganes menemanimu," ucap Mama Nina dan diangguki Emely.


...----------------...


Di sebuah Danau yang indah, di tempat yang jauh disana. Sepasang lelaki dan perempuan tampak tersenyum indah menikmati kebersamaan hampir dua bulan ini.


"Aku bahagia denganmu, Ingin melupakan masalalu. Aku ingin hidup bahagia bersamamu tanpa kekangan, tanpa paksaan dari orang tua,"


"Aku juga, aku ingin bahagia juga. Terimakasih telah membantuku memberikan ganti rugi pada sahabatku tentang taruhan itu. Pada akhirnya perusahaan bisa kembali," ucap lelaki itu.


"Sama sama, sepertinya kita memang harus mengikhlaskan apa yang terjadi," ucap wanita itu.


"Kau benar, Sinta,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2